Sunday, April 1, 2018

Sepiring Nasi Goreng dan Masa Depan

Ilustrasi: @kulturtava

"Kenapa sih kau selalu mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi?" 

Kami sudah berjalan sejauh kira-kira seratus meter untuk mencari makan. Leah memaksaku menemaninya makan di luar. Aku mengambil jaket di belakang pintu lalu memutuskan menemuinya. Sebenarnya aku tidak terlalu lapar. Tapi aku tak bisa menolak karena dia akan mentraktirku.

Tapi apa yang terjadi sekarang. Dia malah menantangku. "Memangnya kau tak pernah menjadi aku kan? Coba kau jadi aku. Kau pasti tahu rasanya apa kutakutkan!"

"Tidak masuk akal," timpalnya polos.

Kami tidak berpegangan tangan. Sepanjang jalan hanya mengobrol dan sesekali diam beberapa saat. Selanjutnya kami hanya mengobrol.

"Aku punya nasehat untukmu," ujarku, "Bagaimana kalau kau memikirkan pertanyaan mengapa kita harus berjalan sejauh ini kalau semua penjual nasi goreng, bukankah sama saja?" 

"Ya. Semua tukang nasi goreng memang saja tapi cita rasa tiap penjual berbeda. Wait. Tunggu dulu. Apa kau sedang berupaya menghubung-hubungkan pidato ini dengan yang baru saja kita bicarakan?"

"Nah, itu karena kau khawatir apa yang akan kau makan tidak enak. Sama sepertiku. Aku juga khawatir kalau masa depanku akan berubah jadi makanan yang tidak enak jika aku terpaksa tidak mengkhawatirkannya. Dan sama sepertimu, mungkin, aku juga harus berjalan sangat jauh terlebih dahulu untuk menemukan apa yang ingin kudapatkan. Mungkin aku harus khawatir dan takut akan semua hal yang akan menimpaku tanpa belas kasih." 

"Oh, kau sungguh orang yang rumit," tiba-tiba Leah menggandeng tanganku dan membawaku masuk ke kedai nasi goreng. 

Kami duduk di bangku kayu panjang dengan meja setinggi dada orang dewasa ketika tentu saja saat mereka sedang duduk. Saat aku memilih duduk di hadapannya, Leah segera memprotesku, "Duduklah di sampingku," keluhnya. Seolah dia benar-benar sedang mengeluh. 

Aku tanya, "Kenapa?" Aku memutar mataku. "Apa aku menghalangi pandanganmu ke tukang nasi goreng itu? Apa dia lebih tampan dariku?"

Aku tidak berniat menggodanya, tapi entah kenapa dia tertawa. Tertawa kecil. Cukup kecil sampai aku bersumpah dia begitu manis. 

Pelayan datang menghampiri kami. Leah segera memesan dua nasi goreng lengkap dengan potongan hati ayam dan pete dan dua gelas es jeruk yang sedikit manis. Kurasa Leah sudah sering ke tempat ini karena begitu dia mengatakan apa yang dia inginkan, si pelayan segera mengangguk otomatis seperti robot yang fasih dengan judul-judul pesanan pelanggannya. 

Kami duduk di bangku panjang itu. Suasannya sepi. Hanya ada kami berdua. Terang saja, ini sudah pukul tengah malam. 

Sepanjang menanti pesanan kami tiba, kami tak banyak bicara. Leah sibuk dengan gadgetnya dan dia tak mengajakku bicara. Ketika aku mengajaknya bicara dia hanya menjawabnya sepintas, "oh, masa sih, benarkah, menurutmu begitu, dan sebagainya," seakan-akan dia hanya sedang terlibat dalam adegan televisi dan dia selaku penonton yang santun cuma sanggup berkomemtar sesuai nalurinya yang malas. 

Karena merasa lelah memancing percakapan tidak menarik berharap menjadi menarik, akhirnya aku diam. 

Selama sepuluh menit kurang-lebih, yang kulakukan cuma menengok kanan-kiri seolah-olah sedang mencurigai gerakan seseorang. Tapi karena di tempat itu hanya ada kami berdua, dan Leah nampaknya bukan seorang yang layak dicurigai, yang kulakukan sekarang mungkin malah sedang mencurigai diriku sendiri. 

Tapi kurasa itu tidak mungkin. 

Aku mulai mendengar suara srok-srok wajan yang digesek-gesek begitu keras dengan sutilnya. Suaranya tidak mengganggu cuma terdengar aneh saja di telingaku. Keduanya seperti sedang bercakap-cakap, setelah lama tak bertemu, percakapan rahasia. Telingaku juga mulai mendengar sendok-sendok dan garpu-garpu di hadapan kami sudah saling berbisik, mungkin bergosip. Aku ingin ikut terlibat mendengarnya. Tapi seperti semua hal tentang gosip, suara itu terlalu lirih supaya sampai ke telingaku. Lalu kurasakan aku mendengar pelbagai bunyi-bunyian, gas yang dihidupkan, suara derit sandal, dan sebagainya. Tapi sebenernya aku tidak mendengarkan apa-apa.

Leah mengenakan kaos kerah abu-abu yang dilapisi sweter hitam. Sweter itu pemberianku diulang hari tahunnya yang ke-24. Dan tanpa alasan yang jelas dan disengaja, malam ini pun aku mengenakan jaket tebal hitam pemberiannya yang bertuliskan: Ini Payah! di sisi kiri atas saku.

Setiap tahun, kami memang sering bertukar kado ulang tahun begitu. Kadang kala karena ulang tahun Leah lebih dulu ketimbang ulang tahunku, aku merayakanku di ulang tahunnya supaya kami bisa sama-sama merayakannya. Atau terkadang, sebaliknya, Leah menunggu perayaan ulang tahunnya diulang tahunku. 

Kami berteman sejak lama. Kami memahaminya. Karena berteman lama dan sejak kecil dan saling memahami itu, aku jadi sering berpikir dalam waktu dekat ini, kami mungkin ingin memutuskan jadi kakak-beradik. Tapi kurasa itu juga tidak mungkin. Pertama, aku benci jika ada seorang lelaki yang mencoba mendekati Leah. Aku membenci lelaki itu sampai-sampai membuatku tak bisa tidur. Leah juga pernah berkata jika ada wanita yang sedang dekat denganku sebaiknya aku berkisah. 

Tak ada wanita yang dekat denganku. Satu-satunya wanita yang dekat denganku ya kamu, kataku padanya suatu kali. Tapi Leah tak percaya. 

Aku juga tak percaya jika hari ini aku harus menghadapi kenyataan bahwa kami tak akan sedekat ini lagi.  

Sebelumnya Leah mengatakan, "Kau tahu, Caius, mungkin ini hari terakhir kita bisa bersama. Besok ketika ijab-kabul itu dinyatakan, suamiku mungkin akan melarangku menemuimu lagi. Aku ingin jadi istri yang baik dan patuh. Jika benar dia menginginkan hal semacam itu dariku, aku mungkin tak bisa menolaknya. Ini mungkin akan sulit bagimu tapi lama-kelamaan kau akan terbiasa. Kau tahu maksudku kan?"

"Aku tahu maksudmu," jawabku saat itu. Lalu mengela napas, lalu menghirupnya lagi, lalu menghelanya lagi. Mungkin proses ini akan kulakukan sampai diriku sendiri lupa. 

Saat aktivitas panjang hela-embuskan napas itu terjadi sebenarnya aku sedang berupaya mengatasi pikirkanku, aku sedang melindungi pikiranku, aku sedang berupaya untuk melupakannya. Tapi ini benar-benar membuatku khawatir: apa yang akan kulakukan esok hari? Apa yang akan terjadi esok hari?

Pesanan kami tiba. Memikirkan masa depan dan proses panjang yang mungkin saja akan kualami mendatang, menguras isi perutku. Tiba-tiba aku berubah sangat lapar. Aku langsung menyantap hidangan di depanku.

Leah masih sibuk dengan gadget di tangannya.

Sambil memasukkan sesondok demi sesendok nasi goreng ke dalam mulut, aku berpikir: kalau saja masa depan itu hidangan seperti nasi goreng, mungkin aku ingin sekali melahapnya dalam satu piring. 


Andi Wi 

Ajibarang, 2 April 2018

No comments

© Guebaca.com
Maira Gall