Friday, April 20, 2018

Nasehat di Hari Ulang Tahunmu!

Ilustrasi: wow.tribunnews.com


Hari ini kau ulang tahun. Kau tak lupa kan, hari ini  kau ulang tahun? Fakta hari ini kau ulang tahun? Melupakan hari ulang tahun sendiri sungguh bukan lelucon buruk, tapi bukan berarti bisa disebut sebagai selera humor.

Semua orang saya rasa penting juga memperingati hari ulang tahunnya sendiri. Bukan untuk apa-apa atau supaya terlihat kebarat-baratan. Akan tetapi, apresiasilah dirimu itu karena bagaimana pun caranya, kau beruntung dan mujur karena bisa selamat sampai diusiamu yang sekarang. Banyak loh, orang-orang yang tak selamat di usia muda mereka. Sok Hok Gie meninggal di usia muda. Meski dia sering bilang manusia beruntung adalah manusia yang tidak dilahirkan, dan yang kedua adalah mereka yang mati muda. Tapi kau tahulah, itu cuma omong kosong. Buktinya banyak sekali kok orang di dunia ini yang  berdoa agar usia mereka di panjangkan. 

Meski tidak secara spesifik berapa usia yang mereka inginkan, tapi intinya mereka ingin tumbuh tua; mungkin juga masih banyak hal belum sempat mereka lunaskan selama masa muda mereka. Seperti pergi ke pantai sendiri, mendaki sendiri, atau mengunjungi dirinya sendiri yang terkenal paling dekat itu.

Dan omong-omong, apa saja yang telah kau lakukan selama ini, selama 26 tahun kau hidup dan bernapas? Dengan mati lebih dulu ketimbang kita, seekor kucing hanya mengajarkan kepada kita cara hidup yang menyakitkan. Tapi sebaiknya jangan dipikirkan. Lakukan yang terbaik, dan bermalas-malaslah selagi ada waktu.

Orang-orang punya pengertian sendiri tentang hidup. Pengertiannya sebegitu kompleks sampai saya kira untuk membahasnya butuh berak-rak buku untuk menyelesaikan pertanyaan sederhana tersebut.
Di antara semua kenyataan yang serba terbalik, apa pun yang terjadi, tolong jangan buat dirimu sendiri kesulitan. Itu akan membuatku sedih. Masa depanmu belum terbeli oleh siapa pun. Masa lalumu telah kau jual ke pabrik-pabrik, benda mati, seorang wanita, dan hobi dan banyak hal yang tak bisa kau tulisakan satu per satu.

Jangan menaruh kunci di tempat yang sulit ditemukan. Jangan memasukkan kunci sepeda motor ke lubangnya kalau kau tak tahu kemana akan beranjak. Jangan mengemasi barang-barangmu kalau nantinya kau juga akan pulang ke rumah.
Mestinya, kau yakin kau bukan seekor semut yang dapat mengangkat sepuluh kali lipat dari berat tubuhnya sendiri, tapi saya yakin, kau dapat mengatasi semua masalah di dunia ini. Tidak boleh berlebihan. Kalau kau tak sanggup mengatasi seluruhnya, paling tidak kau dapat mengatasi seperempatnya saja, juga tidak apa-apa.

Jangan selalu menganggap dunia ini arena pertarungan dan kau adalah atlet kelas bulu yang tak pernah naik tingkat. Sikap pesimismu itu, selain dapat melukai dirimu sendiri juga secara kenyataan dapat melukaiku. Jika kau ingat...
Ini bukan saatnya buat perubahan. Hari esok mungkin masih ada, tapi mimpimu tidak. Kau mungkin bisa bersikap lebih baik. Aku tahu rasanya memang tak mudah untuk bersikap tenang saat kau menemukan sesuatu terjadi.

Jangan berkecil hati. Itu yang ingin kukatakan padamu.  Hari ini kau ulang tahun. Karena hari ini kau ulang tahun, berbahagialah.

Hari ini saya tak punya kado. Tapi saya punya doa. Dan doa saya sama seperti doamu.

Senyum dong! :)


21 April 2018

Sunday, April 1, 2018

Delusional

Ilustrasi: @kulturtava

Nanti aku tahu
kau akan menelponku
dan bertanya, aku dimana?

Setelah dua tahun berpisah
Sudah barang tentu
kau ingin sekali
mengajukkan pertanyaan itu

Bukan hal aneh jika
Tiba-tiba kau menghubungiku
lagi

Kadang kala aku pun merasa
Punya satu kewajiban khusus
yang seolah lama sekali kutinggalkan

Dari tempatku berdiri
Segala sesuatunya berubah
Saat masih kecil
Aku hanya punya satu kekhawatiran khusus
: sepatu baruku menyentuh lumpur

Tapi kini aku menyimpan banyak sekali
rasa takut dalam benak dan mimpiku sendiri

Aku memikirkanmu ketika
Menyetir mobil
Kau yang mendorongku melamuni hal-hal musykil

Saat aku tergila-gila dengan diriku sendiri
Kau yang menyembuhkannya

Maret ini hujan tiba
April menyapunya dengan debu musim panas

Sering kudengar seseorang berteriak di telingaku,
"Kalau ternyata selama ini
kita salah
bagaimana?"

Tapi seperti bahasa asing
aku sulit menerjemahkannya
dalam bahasa ibuku.

Aku memikirkanmu lagi
Ketika tidur
Aku membayangkan
diriku seorang pasien yang dijenguk
masa lalu

Besok adalah hari terakhir puasaku
yang tinggal menunggu dioperasi

Aku tidak sangat khawatir
Tapi terlampau cemas
Ketika dibedah, seorang dokter
Ia tak menemukan kamu

Tapi boleh jadi malah
kamulah dokter itu

Aku setengah sadar
"Hallo?" katamu
Seperti seolah sedang mengangkat telepon
Aku membalas,
Tapi tidak terdengar membalas.
Mungkin saat itu aku sedang sekarat.

Kau berkata lagi,
"Kamu dari mana saja?
Aku mencarimu kemana-mana tau,
tapi kau entah dimana."

Aku di sini, balasku
singkat.

Kemudian situasinya berubah amat cepat
Jam dinding yang memutar ke arah kiri
ke sisi sebaiknya berputar ke arah sebaliknya lagi.

Aku sangat kaget. Ini membuatku sangat kaget
Aku berubah jadi dokter berjubah itu
dan kau
Sementara kau
menjelma pasien pucat
yang terbaring lemah
memanggil-manggil nama
semua orang
yang pernah kau cintai.

Andi Wi

Ajibarang, 1 April 2018

Sepiring Nasi Goreng dan Masa Depan

Ilustrasi: @kulturtava

"Kenapa sih kau selalu mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi?" 

Kami sudah berjalan sejauh kira-kira seratus meter untuk mencari makan. Leah memaksaku menemaninya makan di luar. Aku mengambil jaket di belakang pintu lalu memutuskan menemuinya. Sebenarnya aku tidak terlalu lapar. Tapi aku tak bisa menolak karena dia akan mentraktirku.

Tapi apa yang terjadi sekarang. Dia malah menantangku. "Memangnya kau tak pernah menjadi aku kan? Coba kau jadi aku. Kau pasti tahu rasanya apa kutakutkan!"

"Tidak masuk akal," timpalnya polos.

Kami tidak berpegangan tangan. Sepanjang jalan hanya mengobrol dan sesekali diam beberapa saat. Selanjutnya kami hanya mengobrol.

"Aku punya nasehat untukmu," ujarku, "Bagaimana kalau kau memikirkan pertanyaan mengapa kita harus berjalan sejauh ini kalau semua penjual nasi goreng, bukankah sama saja?" 

"Ya. Semua tukang nasi goreng memang saja tapi cita rasa tiap penjual berbeda. Wait. Tunggu dulu. Apa kau sedang berupaya menghubung-hubungkan pidato ini dengan yang baru saja kita bicarakan?"

"Nah, itu karena kau khawatir apa yang akan kau makan tidak enak. Sama sepertiku. Aku juga khawatir kalau masa depanku akan berubah jadi makanan yang tidak enak jika aku terpaksa tidak mengkhawatirkannya. Dan sama sepertimu, mungkin, aku juga harus berjalan sangat jauh terlebih dahulu untuk menemukan apa yang ingin kudapatkan. Mungkin aku harus khawatir dan takut akan semua hal yang akan menimpaku tanpa belas kasih." 

"Oh, kau sungguh orang yang rumit," tiba-tiba Leah menggandeng tanganku dan membawaku masuk ke kedai nasi goreng. 

Kami duduk di bangku kayu panjang dengan meja setinggi dada orang dewasa ketika tentu saja saat mereka sedang duduk. Saat aku memilih duduk di hadapannya, Leah segera memprotesku, "Duduklah di sampingku," keluhnya. Seolah dia benar-benar sedang mengeluh. 

Aku tanya, "Kenapa?" Aku memutar mataku. "Apa aku menghalangi pandanganmu ke tukang nasi goreng itu? Apa dia lebih tampan dariku?"

Aku tidak berniat menggodanya, tapi entah kenapa dia tertawa. Tertawa kecil. Cukup kecil sampai aku bersumpah dia begitu manis. 

Pelayan datang menghampiri kami. Leah segera memesan dua nasi goreng lengkap dengan potongan hati ayam dan pete dan dua gelas es jeruk yang sedikit manis. Kurasa Leah sudah sering ke tempat ini karena begitu dia mengatakan apa yang dia inginkan, si pelayan segera mengangguk otomatis seperti robot yang fasih dengan judul-judul pesanan pelanggannya. 

Kami duduk di bangku panjang itu. Suasannya sepi. Hanya ada kami berdua. Terang saja, ini sudah pukul tengah malam. 

Sepanjang menanti pesanan kami tiba, kami tak banyak bicara. Leah sibuk dengan gadgetnya dan dia tak mengajakku bicara. Ketika aku mengajaknya bicara dia hanya menjawabnya sepintas, "oh, masa sih, benarkah, menurutmu begitu, dan sebagainya," seakan-akan dia hanya sedang terlibat dalam adegan televisi dan dia selaku penonton yang santun cuma sanggup berkomemtar sesuai nalurinya yang malas. 

Karena merasa lelah memancing percakapan tidak menarik berharap menjadi menarik, akhirnya aku diam. 

Selama sepuluh menit kurang-lebih, yang kulakukan cuma menengok kanan-kiri seolah-olah sedang mencurigai gerakan seseorang. Tapi karena di tempat itu hanya ada kami berdua, dan Leah nampaknya bukan seorang yang layak dicurigai, yang kulakukan sekarang mungkin malah sedang mencurigai diriku sendiri. 

Tapi kurasa itu tidak mungkin. 

Aku mulai mendengar suara srok-srok wajan yang digesek-gesek begitu keras dengan sutilnya. Suaranya tidak mengganggu cuma terdengar aneh saja di telingaku. Keduanya seperti sedang bercakap-cakap, setelah lama tak bertemu, percakapan rahasia. Telingaku juga mulai mendengar sendok-sendok dan garpu-garpu di hadapan kami sudah saling berbisik, mungkin bergosip. Aku ingin ikut terlibat mendengarnya. Tapi seperti semua hal tentang gosip, suara itu terlalu lirih supaya sampai ke telingaku. Lalu kurasakan aku mendengar pelbagai bunyi-bunyian, gas yang dihidupkan, suara derit sandal, dan sebagainya. Tapi sebenernya aku tidak mendengarkan apa-apa.

Leah mengenakan kaos kerah abu-abu yang dilapisi sweter hitam. Sweter itu pemberianku diulang hari tahunnya yang ke-24. Dan tanpa alasan yang jelas dan disengaja, malam ini pun aku mengenakan jaket tebal hitam pemberiannya yang bertuliskan: Ini Payah! di sisi kiri atas saku.

Setiap tahun, kami memang sering bertukar kado ulang tahun begitu. Kadang kala karena ulang tahun Leah lebih dulu ketimbang ulang tahunku, aku merayakanku di ulang tahunnya supaya kami bisa sama-sama merayakannya. Atau terkadang, sebaliknya, Leah menunggu perayaan ulang tahunnya diulang tahunku. 

Kami berteman sejak lama. Kami memahaminya. Karena berteman lama dan sejak kecil dan saling memahami itu, aku jadi sering berpikir dalam waktu dekat ini, kami mungkin ingin memutuskan jadi kakak-beradik. Tapi kurasa itu juga tidak mungkin. Pertama, aku benci jika ada seorang lelaki yang mencoba mendekati Leah. Aku membenci lelaki itu sampai-sampai membuatku tak bisa tidur. Leah juga pernah berkata jika ada wanita yang sedang dekat denganku sebaiknya aku berkisah. 

Tak ada wanita yang dekat denganku. Satu-satunya wanita yang dekat denganku ya kamu, kataku padanya suatu kali. Tapi Leah tak percaya. 

Aku juga tak percaya jika hari ini aku harus menghadapi kenyataan bahwa kami tak akan sedekat ini lagi.  

Sebelumnya Leah mengatakan, "Kau tahu, Caius, mungkin ini hari terakhir kita bisa bersama. Besok ketika ijab-kabul itu dinyatakan, suamiku mungkin akan melarangku menemuimu lagi. Aku ingin jadi istri yang baik dan patuh. Jika benar dia menginginkan hal semacam itu dariku, aku mungkin tak bisa menolaknya. Ini mungkin akan sulit bagimu tapi lama-kelamaan kau akan terbiasa. Kau tahu maksudku kan?"

"Aku tahu maksudmu," jawabku saat itu. Lalu mengela napas, lalu menghirupnya lagi, lalu menghelanya lagi. Mungkin proses ini akan kulakukan sampai diriku sendiri lupa. 

Saat aktivitas panjang hela-embuskan napas itu terjadi sebenarnya aku sedang berupaya mengatasi pikirkanku, aku sedang melindungi pikiranku, aku sedang berupaya untuk melupakannya. Tapi ini benar-benar membuatku khawatir: apa yang akan kulakukan esok hari? Apa yang akan terjadi esok hari?

Pesanan kami tiba. Memikirkan masa depan dan proses panjang yang mungkin saja akan kualami mendatang, menguras isi perutku. Tiba-tiba aku berubah sangat lapar. Aku langsung menyantap hidangan di depanku.

Leah masih sibuk dengan gadget di tangannya.

Sambil memasukkan sesondok demi sesendok nasi goreng ke dalam mulut, aku berpikir: kalau saja masa depan itu hidangan seperti nasi goreng, mungkin aku ingin sekali melahapnya dalam satu piring. 


Andi Wi 

Ajibarang, 2 April 2018
© Guebaca.com
Maira Gall