Thursday, March 1, 2018

Mari Bertaruh, Mari Ambil Lotremu

@kulturtava

Hidup ini tidak mengejutkan. Sekalipun kita menaruh petasan menyalakannya di cuping telinga sendiri, itu masih sama sekali tidak mengejutkan. Tapi mengagetkan. Selebihnya proses alami mendengar perbagai bebunyian bukan lagi hal yang pantas untuk diperdebatkan.

Orang-orang berbunyi. Bahkan saat diri mereka tertidur, melupakan dirinya sesaat. Dunia ini aneh. Selalu ada yang terlelap saat yang lain terjaga.

Hidup ini sendiri adalah rasa simpati, belas kasihan. Jika bukan untuk diri sendiri, kita akan melakukannya untuk orang lain. Kita akan memproyeksikan diri kita sebagai pohon yang menginginkan bayangan sempurna saat cahaya menimpanya.

Meski terkadang bayangan yang terjadi tidak sesuai dengan bayangan yang kita harapkan. Bayangan yang terlalu buruk untuk melekat pada tubuh kita. Namun sejatinya sebuah pohon, kita tak bisa berbuat apa-apa.

Kita hanya berdiri. Menikmati angin sepoi yang melintas. Sesekali agak terganggu dengan siulan burung yang seenaknya hinggap, dan meninggalkan jejak kotorannya di muka kita. Lebih dalam lagi, di hati kita.

Kita selalu menginginkan cerita yang lebih lengkap. Tapi seperti semua cerita, kau dan aku, selalu penasaran apa yang terjadi setelah misalnya ciuman itu di keningkan? Apa yang terjadi setelah sepasang kekasih hidup berdampingan bersama-sama di sebuah rumah mewah, gubuk, atau tempat yang memiliki fantastis macam di negeri dongeng. Apa yang terjadi setelah kita mencapai bahagia bersama orang kita cintai? Apa cuma begini saja?

Kita memang orang yang melelahkan. Kita memang jenis orang yang mudah lelah.

Dan mestinya setelah kita berhasil membaca kalimat pertama, "Kaca ini mudah lepas. Tolong jangan ditekan!" Apakah itu artinya kita selamat dari resiko?

Sudah sering kita menyaksikan seekor burung bersiul. Membuat sarang. Berciuman di atas ranting. Bercinta tepat di depan mata kepala kita sendiri, seperti di film-film porno yang menjijikan. Lalu kita melihat anak-anak mereka tumbuh dan berpikir dengan cara menjijikan. Kita menyaksikan kejadian itu semua dengan mata kepala kita sendiri, seperti sedang mengawasinya dari balik layar televisi.

Kau boleh memegang teguh kalimat: orang yang mengalahkanmu hari ini, tak akan bisa mengalahkanmu esok hari. Tapi percayalah, itu kalimat yang membosankan. Mereka bahkan sanggup mengalahkanmu yang satu kali pun kau tak punya kesempatan untuk membalasnya.

Tapi jangan terkejut. Sebab kau bukan satu-satunya orang yang tak bisa mengalahkan bandar itu.

Andi Wi

No comments

© Guebaca.com
Maira Gall