Dua Kata Kerja dalam Satu Kejadian

@andiwi_andiwi

Dia sudah melupakanku. Aku pikir tidak apa-apa. Juga saat pertama kali dia berkata dia mencintaiku kupikir aku layak menerimanya. Kini aku tak bisa mendorong diri sendiri untuk melupakannya, tapi aku akan melupakannya. Dia telah menginspirasi dirinya sendiri untuk melupakanku. Sekarang usaha kami hanya akan bergantung bagaimana kami mencobanya.

Aku biasa berlari di mimpiku sendiri. Dia bahkan sering bercerita: dia ketakutakan, di mimpinya, dia mengendarai sepeda dengan mundur.

Setiap kali alasan bisa saja dibuat-buat namun dengan modal asumsi berikut, kami yakin, kami tak akan bertemu lagi untuk waktu yang lama.

Kadang-kadang dia menelponku di (suatu) tengah malam yang dingin hanya untuk bertanya: aku dimana?
Jika kamu punya kekasih di masa lalu dan dia tiba-tiba bertanya demikian, ingat kata-kataku: dia tidak merindukanmu. Dia hanya ingin tahu kamu dimana, dengan nada eksplisit yang terdengar jelas supaya kamu menjawab pertanyaan: apakah kamu bahagia tanpanya selama ini? Apa saja yang kamu lakukan selama kalian berpisah?

Selama berpisah dengan dia, aku melakukan banyak hal yang sebelumnya tak terpikirkan olehku akan melakukannya. Aku mengunjungi kebun bintang sendirian, aku bermain lotre, aku bersimpati dengam teman lamaku yang ditinggalkan pacar sepuluh tahunnya. Aku membuat kopi dan meminumnya sendirian. Aku pergi ke perpustakaan sendirian. Aku duduk di angkot bersama ibu-ibu berisik namun merasa sendirian. Aku memanjat pohon sendirian. Aku berkelahi dengan dua pemuda mabuk sendirian. Aku dikeroyok dua ekor anjing gila sendirian, aku muncul dari balik pintu bioskop sendirian, aku mengusulkan pendapat sendiri dan mendebatnya sendiri, aku berpisah dengan penjual cilok yang ramah, aku pergi ke dokter gigi sendirian. Aku menyalakan lilin keberuntunganku sendiri dan meniupnya sendirian.

Saat-saat seperti itu, aku sering menelungkupkan tanganku di depan dada lalu mengatakan pada diri sendiri: aku berdoa, aku berdoa, sebanyak lima kali tanpa menyebutkan keinginanku. Lalu aku berkata lagi: tidak apa-apa. Memang tidak apa-apa. Tapi setelah itu terjadi aku merasa seakan-akan sedang dikepung perasaan-perasaan purba yang diwariskan leluhurku yang kini dikenal dengan nama: kesepian.

Dia sudah melupakanku. Kupikir tidak apa-apa. Aku mungkin cuma akan merasa kesepian tanpanya. Tapi itu bukan masalah. Melupakan dan kesepian adalah kata kerja. Kupikir aku bisa melakukan dua hal sekaligus.

Andi Wi

Ajibarang, 4 Maret 2018

No comments

Powered by Blogger.