Monday, March 26, 2018

Apa itu Kebahagiaan?

Ilustrasi: Dokumen Pribadi

Sekarang saya kehilangan selera membaca dan menulis dan hal-hal menyenangkan lainnya entah karena apa. Rasanya saya tak mungkin bisa terus-terusan menghibur diri dengan cara seperti itu. Saya ingin mencari alternatif lain tapi, saya tidak tahu cara melakukannya.

Dulu saya sering mudah bahagia dengan hal-hal kecil yang terjadi di sekitar saya. Tapi kali ini itu tak pernah berhasil.

Suatu kali, saya merekam suara sendiri: "Manusia hidup dan tidak bahagia" dan memutarnya berulang-ulang dengan volume kencang sampai saya yakin saya tertidur.

Saya memiliki keyakinan itu akan membantu saya menjadikan saya lebih tenang. Dan berhasil: Manusia memang hidup dan tidak bahagia. Saya telah mencapai kesimpulan bahwa untuk menjadi manusia kau tak perlu-perlu amat bahagia.

Akan tetapi saya sadar usaha semacam itu tak bertahan lama sampai kemudian saya sadar bahwa: di dunia ini ada orang hidup dan mereka bahagia. Pertanyaan singkat: bagaimana caranya mereka melakukannya?

Ada perasaan iri saat menyaksikan orang-orang di sekitar saya mudah tertawa dan bahagia.

Belum lama ini, saya melakukan ritual menyepi. Cuma sehari. Namun meskipun cuma sehari perasaan saya ketika selesai saya yakin pada saat itu saya merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Saya merasa terlahir kembali. Dengan semangat baru dan harapan-harapan baru. Dan.... Yah, ternyata saya lah yang paling tahu diri saya sendiri sebab sehari setelah saya merasa bayi paling suci yang baru terlahir ke bumi, tak lama kemudian, saya merasa langsung kotor dan kembali tidak bahagia.

Apa itu bahagia? Mengapa saya kembali tidak bahagia? Kehidupan apa yang layak dijalani oleh kita? Apakah selama ini kita nyaman dengan kehidupan yang kita jalani?

Pertanyaan itu muncul berulang-ulang seperti gema yang memantul-mantul saat suaramu tercebur di dalam sumur.

Saya tidak bahagia. Dalam bukunya Faith, Eric Winer pernah berkata, lebih terang dia berspekulasi bahwa: mungkin kita terlalu malas berjalan menghampiri kebahagiaan kita sendiri. Dan bisa jadi dia benar. Tapi bagaiamana tentang kata-kata yang menyatakan bahwa: kebahagiaan itu bukan ditemukan tapi diciptakan? Apa itu artinya kita tak perlu kemana-mana untuk mendapatkan kebahagiaan tersebut.

Ini membuat saya bingung. Seseorang menyatakan premis benar sementara sebaliknya yang seseorang di antaranya mengatakan premis itu salah. Karena dia punya premis sendiri yang lebih memikat.

Dalam film pendek yang pernah saya ciptakan bersama teman-teman Kawan Sebangku, saya pernah menulis begini: kita tak bisa buat kebahagiaan kita sendiri, kita harus menciptakannya bersama orang lain.

Saya merenung lama memikirkan kalimat tersebut dan hanya butuh waktu lima detik untuk mengutuki kalau itu adalah kalimat paling bodoh yang pernah saya dengar akhir-akhir ini.

Saya yang menulis naskah dan kenapa bisa saya memikirkan kalimat semacam itu. Bukankah seharusnya saya tahu bahwa kebahagiaan bukan berasal dari hasil kolaborasi yang janggal? Maksud saya, lihat orang yang lebih banyak menderita dibanding yang tidak dalam penyatuan spiritual macam pernikahan. Apa bukti semacam itu tidak cukup?

Saya pernah mengajukan pertanyaan berbeda kepada teman saya yang masing-masing telah menikah dan belum menikah.

"Kenapa memutuskan menikah? Apa itu tidak membuatmu menderita? Kau harus mengurus anak-anakmu dan menyedikan stok beras untuk mereka, jaminan kesehatan, biaya pendidikan, dan yang paling parah, jika kau punya waktu berlibur, kau harus mengajaknya berjalan-jalan sore seolah-olah kau memiliki seekor anjing. Kau tahu, jika kau punya anjing, kau harus mengajaknya berjalan-jalan sore hari."

Teman saya yang menikah menjawab, "Aku tahu aku capek dan menderita. Tapi entah kenapa aku merasa penting, kalau mereka layak mendapatkannya." 

Jadi di sini sudah jelas.

Pertanyaan lain, bagi teman saya yang belum menikah. "Kenapa kau belum menikah?"

Dia jawab, "Saya tahu semua orang seusiaku -usianya 26 tahun,  tiba-tiba ingin menikah. Tapi entahlah, aku belum tertarik dengan ide semacam itu. Kau tahu, aku selalu deg-deg an, jika harus menyempatkan diri memikirkan masa depan. Jika bisa aku ingin mati tanpa penderitaan dan tidak merepotkan sekitarku dan dikubur dengan layak. Yang lainnya bisa menyusul. Aku tak ingin bunga mengotori tanah pemakamanku, aku tak ingin orang-orang berduka dengan cara seperti itu. Bunga lebih baik di kebun. Bukan di tanah pemakaman."

***

Saya bersumpah, ini bukan pertama kalinya saya menulis tentang kebahagiaan. Tapi saya rasa ini penting, saya tak bisa seakan-akan menolaknya alih-alih saya sanggup menghindari pertanyaan dasar tersebut yang membelenggu kepala semua orang.

Yang ingin saya katakan: andai saja ada atlas kebahagiaan yang bisa ditunjuk oleh semua jari orang, termasuk saya, saya mungkin juga berniat ingin berkemas secepat mungkin dan menghampiri tanah yang menjanjikan kebahagiaan tersebut. Kalau saja ada. Kalau saja ada.

Agama dalam praktiknya, inilah yang ditunggu-tunggu, senantiasa menjanjikan kebahgiaan nyata, tanah murni yang diyakini diciptakan sebagai simbol abadi kebahagiaan bagi semesta. Tempat itu bernama: surga.

Tapi untuk mencapainya rasanya terlampau sulit karena sebaiknya para pencari harus mati lebih dulu jika ingin sampai.

Agama melarang pengkutnya yang tak sabaran seperti Anda untuk mati bunuh diri. Jika dilakukan maka Anda didisfikualisasi. Saya tak percaya kita tak punya pilihan. Selain kita menjalani hidup ini dengan tidak bahagia.

 Apa yang Anda pikirkan?
Apa yang kau pikirkan?

(*)

Andi Wi

Ajibarang, 26 Maret 2018

No comments

© Guebaca.com
Maira Gall