Thursday, March 29, 2018

Merekam Kita

Hari ini aku sadar
aku tidak terlalu mencintaimu
ternyata
yang kulakukan cuma
mencintai diriku sendiri

hidup bahkan terlalu
terlambat
untuk menyadarinya

Jika kau mencintaiku
Akulah orang paling sial di dunia
Karena aku harus melengkapimu
Padahal aku bahkan tak bisa melengkapi diriku sendiri

Kita tak pernah dapat
benar-benar lengkap, itulah
Mengapa jatuh cinta selalu
membuat kita dalam masalah

Saat kau genggam tanganku
sekali lagi, apa yang kau pikirkan?

Aku memikirkan dirimu yang kesepian
Menyelam terlalu dasar sampai
tak sanggup membawamu kembali

Karanglah cerita masuk akal
Soal kebahagiaan sejati
Tentang takdir paling murni
cahaya total
Tentang kegelapan yang terlalu mencolok

Agar aku bisa paham
Kita ini apa? Dua orang murka
yang menyembuhkan dirinya
dengan jatuh cinta?

Andi Wi

Monday, March 26, 2018

Apa itu Kebahagiaan?

Ilustrasi: Dokumen Pribadi

Sekarang saya kehilangan selera membaca dan menulis dan hal-hal menyenangkan lainnya entah karena apa. Rasanya saya tak mungkin bisa terus-terusan menghibur diri dengan cara seperti itu. Saya ingin mencari alternatif lain tapi, saya tidak tahu cara melakukannya.

Dulu saya sering mudah bahagia dengan hal-hal kecil yang terjadi di sekitar saya. Tapi kali ini itu tak pernah berhasil.

Suatu kali, saya merekam suara sendiri: "Manusia hidup dan tidak bahagia" dan memutarnya berulang-ulang dengan volume kencang sampai saya yakin saya tertidur.

Saya memiliki keyakinan itu akan membantu saya menjadikan saya lebih tenang. Dan berhasil: Manusia memang hidup dan tidak bahagia. Saya telah mencapai kesimpulan bahwa untuk menjadi manusia kau tak perlu-perlu amat bahagia.

Akan tetapi saya sadar usaha semacam itu tak bertahan lama sampai kemudian saya sadar bahwa: di dunia ini ada orang hidup dan mereka bahagia. Pertanyaan singkat: bagaimana caranya mereka melakukannya?

Ada perasaan iri saat menyaksikan orang-orang di sekitar saya mudah tertawa dan bahagia.

Belum lama ini, saya melakukan ritual menyepi. Cuma sehari. Namun meskipun cuma sehari perasaan saya ketika selesai saya yakin pada saat itu saya merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Saya merasa terlahir kembali. Dengan semangat baru dan harapan-harapan baru. Dan.... Yah, ternyata saya lah yang paling tahu diri saya sendiri sebab sehari setelah saya merasa bayi paling suci yang baru terlahir ke bumi, tak lama kemudian, saya merasa langsung kotor dan kembali tidak bahagia.

Apa itu bahagia? Mengapa saya kembali tidak bahagia? Kehidupan apa yang layak dijalani oleh kita? Apakah selama ini kita nyaman dengan kehidupan yang kita jalani?

Pertanyaan itu muncul berulang-ulang seperti gema yang memantul-mantul saat suaramu tercebur di dalam sumur.

Saya tidak bahagia. Dalam bukunya Faith, Eric Winer pernah berkata, lebih terang dia berspekulasi bahwa: mungkin kita terlalu malas berjalan menghampiri kebahagiaan kita sendiri. Dan bisa jadi dia benar. Tapi bagaiamana tentang kata-kata yang menyatakan bahwa: kebahagiaan itu bukan ditemukan tapi diciptakan? Apa itu artinya kita tak perlu kemana-mana untuk mendapatkan kebahagiaan tersebut.

Ini membuat saya bingung. Seseorang menyatakan premis benar sementara sebaliknya yang seseorang di antaranya mengatakan premis itu salah. Karena dia punya premis sendiri yang lebih memikat.

Dalam film pendek yang pernah saya ciptakan bersama teman-teman Kawan Sebangku, saya pernah menulis begini: kita tak bisa buat kebahagiaan kita sendiri, kita harus menciptakannya bersama orang lain.

Saya merenung lama memikirkan kalimat tersebut dan hanya butuh waktu lima detik untuk mengutuki kalau itu adalah kalimat paling bodoh yang pernah saya dengar akhir-akhir ini.

Saya yang menulis naskah dan kenapa bisa saya memikirkan kalimat semacam itu. Bukankah seharusnya saya tahu bahwa kebahagiaan bukan berasal dari hasil kolaborasi yang janggal? Maksud saya, lihat orang yang lebih banyak menderita dibanding yang tidak dalam penyatuan spiritual macam pernikahan. Apa bukti semacam itu tidak cukup?

Saya pernah mengajukan pertanyaan berbeda kepada teman saya yang masing-masing telah menikah dan belum menikah.

"Kenapa memutuskan menikah? Apa itu tidak membuatmu menderita? Kau harus mengurus anak-anakmu dan menyedikan stok beras untuk mereka, jaminan kesehatan, biaya pendidikan, dan yang paling parah, jika kau punya waktu berlibur, kau harus mengajaknya berjalan-jalan sore seolah-olah kau memiliki seekor anjing. Kau tahu, jika kau punya anjing, kau harus mengajaknya berjalan-jalan sore hari."

Teman saya yang menikah menjawab, "Aku tahu aku capek dan menderita. Tapi entah kenapa aku merasa penting, kalau mereka layak mendapatkannya." 

Jadi di sini sudah jelas.

Pertanyaan lain, bagi teman saya yang belum menikah. "Kenapa kau belum menikah?"

Dia jawab, "Saya tahu semua orang seusiaku -usianya 26 tahun,  tiba-tiba ingin menikah. Tapi entahlah, aku belum tertarik dengan ide semacam itu. Kau tahu, aku selalu deg-deg an, jika harus menyempatkan diri memikirkan masa depan. Jika bisa aku ingin mati tanpa penderitaan dan tidak merepotkan sekitarku dan dikubur dengan layak. Yang lainnya bisa menyusul. Aku tak ingin bunga mengotori tanah pemakamanku, aku tak ingin orang-orang berduka dengan cara seperti itu. Bunga lebih baik di kebun. Bukan di tanah pemakaman."

***

Saya bersumpah, ini bukan pertama kalinya saya menulis tentang kebahagiaan. Tapi saya rasa ini penting, saya tak bisa seakan-akan menolaknya alih-alih saya sanggup menghindari pertanyaan dasar tersebut yang membelenggu kepala semua orang.

Yang ingin saya katakan: andai saja ada atlas kebahagiaan yang bisa ditunjuk oleh semua jari orang, termasuk saya, saya mungkin juga berniat ingin berkemas secepat mungkin dan menghampiri tanah yang menjanjikan kebahagiaan tersebut. Kalau saja ada. Kalau saja ada.

Agama dalam praktiknya, inilah yang ditunggu-tunggu, senantiasa menjanjikan kebahgiaan nyata, tanah murni yang diyakini diciptakan sebagai simbol abadi kebahagiaan bagi semesta. Tempat itu bernama: surga.

Tapi untuk mencapainya rasanya terlampau sulit karena sebaiknya para pencari harus mati lebih dulu jika ingin sampai.

Agama melarang pengkutnya yang tak sabaran seperti Anda untuk mati bunuh diri. Jika dilakukan maka Anda didisfikualisasi. Saya tak percaya kita tak punya pilihan. Selain kita menjalani hidup ini dengan tidak bahagia.

 Apa yang Anda pikirkan?
Apa yang kau pikirkan?

(*)

Andi Wi

Ajibarang, 26 Maret 2018

Sunday, March 4, 2018

Kesepakatan Kesempatan

shuttershock

Kau ingin masuk lagi ke dalam tubuh panasku dan ingin tinggal lebih lama di sana tapi, jangan kecewa, jika tubuhku pakaian, gaun, sepatu, jam tangan, pernak-pernik murahan yang hanya akan membuatmu nampak norak dan memalukan ketika mengenakannya.

Kau ingin masuk lagi ke dalam tubuh panasku dan ingin tinggal di dalamnya sebagai tukang ledeng, petani, ahli reparasi dan koki amatir kecil tapi, maaf, tubuhku sudah sanggup menggurus dirinya sendiri. Seperti sejak lama ia terlatih menjadi manusia lengkap atas kutukan dan karunianya.

Kau ingin masuk lagi ke dalam tubuh panasku tapi, aku menolak jika hanya sementara karena aku tak sedang mencari penghuni baru yang sewaktu-waktu dapat merasa bersalah dan mengusir diri sendirinya sendiri dari dalam rumah.

Kau ingin masuk lagi ke dalam tubuh panasku dan ingin tinggal lebih lama di sana. Aku tidak keberatan. Tapi jika bisa jadilah penghuni yang baik dan ramah. Tak hanya menjadi tamu, aku bahkan sanggup menjadikanmu merasa sedang berada di rumahmu sendiri.

Andi Wi

Ajibarang, 1 Febuari 2018

Dua Kata Kerja dalam Satu Kejadian

@andiwi_andiwi

Dia sudah melupakanku. Aku pikir tidak apa-apa. Juga saat pertama kali dia berkata dia mencintaiku kupikir aku layak menerimanya. Kini aku tak bisa mendorong diri sendiri untuk melupakannya, tapi aku akan melupakannya. Dia telah menginspirasi dirinya sendiri untuk melupakanku. Sekarang usaha kami hanya akan bergantung bagaimana kami mencobanya.

Aku biasa berlari di mimpiku sendiri. Dia bahkan sering bercerita: dia ketakutakan, di mimpinya, dia mengendarai sepeda dengan mundur.

Setiap kali alasan bisa saja dibuat-buat namun dengan modal asumsi berikut, kami yakin, kami tak akan bertemu lagi untuk waktu yang lama.

Kadang-kadang dia menelponku di (suatu) tengah malam yang dingin hanya untuk bertanya: aku dimana?
Jika kamu punya kekasih di masa lalu dan dia tiba-tiba bertanya demikian, ingat kata-kataku: dia tidak merindukanmu. Dia hanya ingin tahu kamu dimana, dengan nada eksplisit yang terdengar jelas supaya kamu menjawab pertanyaan: apakah kamu bahagia tanpanya selama ini? Apa saja yang kamu lakukan selama kalian berpisah?

Selama berpisah dengan dia, aku melakukan banyak hal yang sebelumnya tak terpikirkan olehku akan melakukannya. Aku mengunjungi kebun bintang sendirian, aku bermain lotre, aku bersimpati dengam teman lamaku yang ditinggalkan pacar sepuluh tahunnya. Aku membuat kopi dan meminumnya sendirian. Aku pergi ke perpustakaan sendirian. Aku duduk di angkot bersama ibu-ibu berisik namun merasa sendirian. Aku memanjat pohon sendirian. Aku berkelahi dengan dua pemuda mabuk sendirian. Aku dikeroyok dua ekor anjing gila sendirian, aku muncul dari balik pintu bioskop sendirian, aku mengusulkan pendapat sendiri dan mendebatnya sendiri, aku berpisah dengan penjual cilok yang ramah, aku pergi ke dokter gigi sendirian. Aku menyalakan lilin keberuntunganku sendiri dan meniupnya sendirian.

Saat-saat seperti itu, aku sering menelungkupkan tanganku di depan dada lalu mengatakan pada diri sendiri: aku berdoa, aku berdoa, sebanyak lima kali tanpa menyebutkan keinginanku. Lalu aku berkata lagi: tidak apa-apa. Memang tidak apa-apa. Tapi setelah itu terjadi aku merasa seakan-akan sedang dikepung perasaan-perasaan purba yang diwariskan leluhurku yang kini dikenal dengan nama: kesepian.

Dia sudah melupakanku. Kupikir tidak apa-apa. Aku mungkin cuma akan merasa kesepian tanpanya. Tapi itu bukan masalah. Melupakan dan kesepian adalah kata kerja. Kupikir aku bisa melakukan dua hal sekaligus.

Andi Wi

Ajibarang, 4 Maret 2018

Thursday, March 1, 2018

Dari

@kulturtava
Kalau aku tak pernah bisa
Aku tak ingin menghitung waktunya
Berapa lama aku ingin mencintaimu
Karena kamu tak pernah bisa!

Atau
Aku mencintaimu dari,
yang tak berakhir hingga
yang tak bisa kuubah.

Andi Wi

Perkara Kamu dan Pelukan Itu

@kulturtava

sejak dulu aku sudah curiga
kau laut yang tak bisa tumpah
dasar gelombang yang tak ingin
membuatku tenggelam
magenta mahir memulihkan warna mata ikan-ikan
camar yang tak lagi suka
menyamar kesedihan gadis kecil
sejak mula lahir, akulah paling pintar menyaru
kugubah pasir-pasir,
cangkang sepatu, atau apa saja
yang bisa menyerupaimu
seorang yang
alasan satu-satunya aku
berguru pada kepiting sepertimu
dari hidup yang sebentar
namun terus-terusan
membuatku miring dan memar
dunia paling ganas, kekasih, oh
menyimpan luka perih sia-sia
di tubuh anak petani sepertiku
yang tak pernah bisa
mengajari
batang kelapa, anak-anak angin
menyanyi atau bersiul
di tepi pantai
ketika tak ada yang sama
caramu menyeka dan merangkul
paling hangat.

Mari Bertaruh, Mari Ambil Lotremu

@kulturtava

Hidup ini tidak mengejutkan. Sekalipun kita menaruh petasan menyalakannya di cuping telinga sendiri, itu masih sama sekali tidak mengejutkan. Tapi mengagetkan. Selebihnya proses alami mendengar perbagai bebunyian bukan lagi hal yang pantas untuk diperdebatkan.

Orang-orang berbunyi. Bahkan saat diri mereka tertidur, melupakan dirinya sesaat. Dunia ini aneh. Selalu ada yang terlelap saat yang lain terjaga.

Hidup ini sendiri adalah rasa simpati, belas kasihan. Jika bukan untuk diri sendiri, kita akan melakukannya untuk orang lain. Kita akan memproyeksikan diri kita sebagai pohon yang menginginkan bayangan sempurna saat cahaya menimpanya.

Meski terkadang bayangan yang terjadi tidak sesuai dengan bayangan yang kita harapkan. Bayangan yang terlalu buruk untuk melekat pada tubuh kita. Namun sejatinya sebuah pohon, kita tak bisa berbuat apa-apa.

Kita hanya berdiri. Menikmati angin sepoi yang melintas. Sesekali agak terganggu dengan siulan burung yang seenaknya hinggap, dan meninggalkan jejak kotorannya di muka kita. Lebih dalam lagi, di hati kita.

Kita selalu menginginkan cerita yang lebih lengkap. Tapi seperti semua cerita, kau dan aku, selalu penasaran apa yang terjadi setelah misalnya ciuman itu di keningkan? Apa yang terjadi setelah sepasang kekasih hidup berdampingan bersama-sama di sebuah rumah mewah, gubuk, atau tempat yang memiliki fantastis macam di negeri dongeng. Apa yang terjadi setelah kita mencapai bahagia bersama orang kita cintai? Apa cuma begini saja?

Kita memang orang yang melelahkan. Kita memang jenis orang yang mudah lelah.

Dan mestinya setelah kita berhasil membaca kalimat pertama, "Kaca ini mudah lepas. Tolong jangan ditekan!" Apakah itu artinya kita selamat dari resiko?

Sudah sering kita menyaksikan seekor burung bersiul. Membuat sarang. Berciuman di atas ranting. Bercinta tepat di depan mata kepala kita sendiri, seperti di film-film porno yang menjijikan. Lalu kita melihat anak-anak mereka tumbuh dan berpikir dengan cara menjijikan. Kita menyaksikan kejadian itu semua dengan mata kepala kita sendiri, seperti sedang mengawasinya dari balik layar televisi.

Kau boleh memegang teguh kalimat: orang yang mengalahkanmu hari ini, tak akan bisa mengalahkanmu esok hari. Tapi percayalah, itu kalimat yang membosankan. Mereka bahkan sanggup mengalahkanmu yang satu kali pun kau tak punya kesempatan untuk membalasnya.

Tapi jangan terkejut. Sebab kau bukan satu-satunya orang yang tak bisa mengalahkan bandar itu.

Andi Wi
© Guebaca.com
Maira Gall