Saturday, February 24, 2018

Tutorial Menyelamatkan Diri dari Kejadian Masa Lalu

@kulturtava

Bagaimana cara mencintai orang lain yang kita cintai dan tak ingin menyakitinya? 
Jawab: Dengan meninggalkannya.

Ini adalah malam minggu. Saya bahkan tidak tahu di luar hujan deras dan yang paling menjengkelkan, saya harus hujan-hujanan untuk membeli satu pil obat sakit kepala dan harus mendengar penjaga toko berkali-kali mengingatkan, "Ini malam minggu, lho!"

Ini memang malam minggu. 
Beberapa menit setelah berhasil menelan obat sakit kepala, saya berencana langsung tidur. Saya merebahkan tubuh di atas kasur. Lalu memejamkan mata sampai kemudian mencontoh perilaku budhis: mengosongkan pikiran yang tidak perlu dipikirkan yang sebelumnya terisi penuh. Jadwal-jadwal, suara-suara orang tertawa, benda mati yang dihadirkan keberadaannya untuk menyindir saya, dan sebagainya dan sebagainya. Saya menyingkirkan mereka semua. Dan alangkah, bom, saya tidak tidak berhasil melakukannya.
Saya menebak, mungkin ini terjadi karena saya terlalu banyak menyingkirkan "dan sebagainya " tersebut. Karena dengan melakukannya, itu berarti saya mesti perlu waktu lebih banyak untuk menyingkirkan mereka semua. Dan yang harus saya akui, saya tidak bisa sesabar itu.

Ini malam minggu. Dan rencana saya tidur lebih awal, gagal. Saya terbangun. Saya berjalan menuju dapur dan membuat secangkir teh untuk diri saya sendiri. Terus terang sebetulnya saya bahkan berharap ketika saya melakukannya, saya sedang tidur. Saya tidur sambil berjalan dan membuat teh. Akan sangat menyenangkan jika hal itu benar terjadi. Akan tetapi saya sadar bahwa itu tidaklah mungkin.

Air mancur ajaib, yang dapat mengabulkan semua permohonan, itu juga tidak mungkin ada. 

Tapi saya percaya. Tiap kali manusia mengalami perpisahan, mereka akan jauh terlihat sepuluh tahun lebih tua dari pada seharusnya. Dan malam ini, entah malam minggu yang keberapa, kami mesti berpisah. Saya berpisah dengan banyak malam minggu, padahal saya bahkan sering merasa baru berusia 17 tahun ketika pacar saya mengatakan kami sudah tak lagi cocok. Rasanya saya tidak melewati apa-apa hingga saya sekarang berusia 27 tahun, kecuali perpisahan itu sendiri. 

Saya cuma, kadang-kadang, seperti kebanyakan orang. Merasa amat takut, apa yang harus mereka katakan, jika mereka bertemu dengan dirinya sendiri.

Saya tak pernah menemui diri saya sendiri. Kami memang bersama-sama selama lebih dua dasawarsa. Tapi tak pernah cukup tangguh untuk menemuinya. Untuk berani sekedar menyapanya, "Selamat pagi." Atau kata-kata menyenangkan yang ingin didengar semua orang, "Jaga dirimu baik-baik." Tapi kami sepenuhnya tidak berselisih atau bermusuhan. Kami mungkin lebih mirip kakak-beradik yang ingin saling menunjukkan kepeduliannya tapi tak pernah tahu cara melakukannya.

Ini adalah malam minggu. Saya membuka ponsel dan tanpa alasan yang jelas, saya memutuskan menonton vidio tutorial cara menyelamatkan diri dari gigitan ular berbisa. Saya tidak tahu kenapa tertarik menontonnya. Satu-satunya yang saya pikirkan adalah, jika saya keluar rumah, saya khawatir kecerobohan saya dapat melukai diri sendiri. Menginjak seekor ular yang sedang melata misalnya. Jadi saya merasa perlu tahu langkah-langkah apa saja yang harus saya ambil apabila terlanjur membuat marah seekor ular. Meskipun itu artinya saya tak sengaja menginjak ekornya, meskipun juga saya berkali-kali minta maaf padanya.

Dunia yang kejam. Bagaimana cara terbaik menghukum diri sendiri?

Ini malam minggu. Entah, tiba-tiba saja saya ingat kata-kata yang pernah dilontarkan begitu saja oleh mantan pacar saya kepada saya sepuluh tahun lalu, "Jika saja aku tahu kamu masa depanku, sungguh, dengan senang hati aku akan melepasmu."

Oh, ini malam minggu. Dan saya juga ingin sekali tahu apa yang akan terjadi di masa depan saya. (*)


Ajibarang, 24 Febuari 2018

No comments

© Guebaca.com
Maira Gall