Wednesday, February 28, 2018

Cara Lain Mencintaimu

Ilustrasi: shuttershock

Puisi yang kutulis mungkin
tak pernah bisa memenjarankanmu
yang licin
dan gingsul itu

dengan cara paling lelap
kubebaskan engkau
bagai suasana lain
yang terperangkap uap jendela
sedikit gerimis,
gerobak sayur langganan ibu,
atau raungan asap kendaraan di hari minggu

kubayangkan engkau lampu jalan
setangah mati
menunduki sisa-sisa
bayang-bayangmu sendiri

menjelang pagi
aku mengaku sehelai daun yang
tumpah di antara kaki-kakimu yang
tak pernah menemukan titik balik itu.

lantas engkau yang liberal
kubebaskan sekali
menyerap seluruh kenyal aku
bagai gombal membersihkan air
kencing, kemenakan yang baru
belajar sesuatu sederhana
yang siap engkau pesingkan
dengan cara yang
paling tidak sederhana.

kini, berbahagialah
demi dirimu sendiri sebab
ada aku di sini
tentang seorang yang kaucintai
karena entah untuk apa
kau sendiri mencintainya
dengan sempat, hampir
tergesa-gesa, dia mungkin
akan datang sedikit terlambat.

Tapi berbahagialah
sebab kau masih
dan akan tetap seperti itu
sejak mula dilahirkan
untuk mengganti kata menunggu.

05 April 2017

Sunday, February 25, 2018

Pertanyaan Menakutkan yang Tak Pernah Ingin Dipertanyakan

@kulturtava

Ada satu pertanyaan penting yang tak pernah kupikirkan sebelumnya. Pertanyaan random yang jika dijadikan bahan obrolan sesama orang dewasa akan terasa sangat membosankannya.

Apa itu cinta?

Aku tak pernah memikirkan kata-kata itu karena bagiku sebelumnya tak terpikirkan akan mengajukan pertanyaan semacam itu. Kupikir bahkan aku tak pernah berpikir bahwa pertanyaan itu layak dijadikan sebuah pertanyaan.

Aku punya tujuh cara untuk membahagiakan diri sendiri. Aku punya tujuh tempat yang bisa kukunjungi jika masyarakat tak menerimaku lagi. Aku punya tujuh catatan dan sedang memikirkan menambahkannya jika dalam waktu dekat ini tak bisa tidur di bawah pukul dua pagi.

Sedangkan cinta? Aku bersumpah aku lebih suka hal-hal teoritis sesuai pengertiannya secara umum. Cinta adalah reaksi kimia. Cinta adalah sama halnya seperti perasaan panik yang kapan saja bisa muncul. Saat bos kita tanpa pemberitahuan lebih dulu minta laporan pajak padahal kita adalah tukang kebun. Atau perasaan tikus yang tak pernah menyadari jebakan di depannya.

Kadang-kadang aku memang mengatakan pada seseorang aku mencintainya begitu dalam. Namun begitu selesai mengatakannya sedikit banyak aku merasa bersalah.

Bukan karena terlalu banyak menggunakan kata-kata penyair. Akan tetapi terlalu takut mengahadapi pertanyaan susulan seperti: Memangnya apa sih yang kamu cintai dari diriku?

Aku pasti tak mungkin sanggup menjelaskannya, apa yang kusukai darinya. Dan saat itulah, perasaan tiba-tiba ingin sekali berubah jadi gozila itu pun muncul kembali. Gozila yang tanpa alasan yang jelas ingin mengamuk di tengah-tengah penduduk kota. Gozila yang menyemburkan api dari balik pangkal lidahnya.

Temanku mencintai istrinya. Aku tidak bercanda. Tapi yang membuatku heran, dia tak pernah ingin menjadi gozila. Dia tetap ingin jadi manusia meski kubilang berkali-kali jadi manusia itu sungguh sulit dan betul-betul bukan pilihan baik. Tapi sangat disayangkan. Temanku sangat keras kepala.

Manusia adalah robot paling canggih yang pernah terciptakan. Mereka begitu rumit sampai diri mereka sendiri sering tersesat dalam program yang mereka buat  sendiri. Dan apa itu cinta? Setiap robot punya jawaban masing-masing.

Aku sering menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, melihat: sebuah robot yang menunduk begitu rendah kepada robot lain. Sampai tingkat yang mengkhawatirkan bahkan kupikir mereka lebih mirip seorang figuran budak yang tak dibayar seumur hidup.

Untuk menyaksikan hal semacam itu, aku tahu, aku butuh banyak keberanian. Sebab rasanya sungguh menyakitkan membayangkan apabila aku akan jadi orang berikutnya yang jadi budak tersebut. Memikirkannya membuatku ingin menangis.

Untuk cinta itu sendiri, cinta yang dirasakan bersama-sama, mengapa kita membalasnya dengan cara yang berbeda?

Jika ini sama saja bagiku, rasanya aku tak ingin memetik bunga untuk orang lain.


Andi Wi

Ajibarang, 26 Febuari 2018

Saturday, February 24, 2018

Tutorial Menyelamatkan Diri dari Kejadian Masa Lalu

@kulturtava

Bagaimana cara mencintai orang lain yang kita cintai dan tak ingin menyakitinya? 
Jawab: Dengan meninggalkannya.

Ini adalah malam minggu. Saya bahkan tidak tahu di luar hujan deras dan yang paling menjengkelkan, saya harus hujan-hujanan untuk membeli satu pil obat sakit kepala dan harus mendengar penjaga toko berkali-kali mengingatkan, "Ini malam minggu, lho!"

Ini memang malam minggu. 
Beberapa menit setelah berhasil menelan obat sakit kepala, saya berencana langsung tidur. Saya merebahkan tubuh di atas kasur. Lalu memejamkan mata sampai kemudian mencontoh perilaku budhis: mengosongkan pikiran yang tidak perlu dipikirkan yang sebelumnya terisi penuh. Jadwal-jadwal, suara-suara orang tertawa, benda mati yang dihadirkan keberadaannya untuk menyindir saya, dan sebagainya dan sebagainya. Saya menyingkirkan mereka semua. Dan alangkah, bom, saya tidak tidak berhasil melakukannya.
Saya menebak, mungkin ini terjadi karena saya terlalu banyak menyingkirkan "dan sebagainya " tersebut. Karena dengan melakukannya, itu berarti saya mesti perlu waktu lebih banyak untuk menyingkirkan mereka semua. Dan yang harus saya akui, saya tidak bisa sesabar itu.

Ini malam minggu. Dan rencana saya tidur lebih awal, gagal. Saya terbangun. Saya berjalan menuju dapur dan membuat secangkir teh untuk diri saya sendiri. Terus terang sebetulnya saya bahkan berharap ketika saya melakukannya, saya sedang tidur. Saya tidur sambil berjalan dan membuat teh. Akan sangat menyenangkan jika hal itu benar terjadi. Akan tetapi saya sadar bahwa itu tidaklah mungkin.

Air mancur ajaib, yang dapat mengabulkan semua permohonan, itu juga tidak mungkin ada. 

Tapi saya percaya. Tiap kali manusia mengalami perpisahan, mereka akan jauh terlihat sepuluh tahun lebih tua dari pada seharusnya. Dan malam ini, entah malam minggu yang keberapa, kami mesti berpisah. Saya berpisah dengan banyak malam minggu, padahal saya bahkan sering merasa baru berusia 17 tahun ketika pacar saya mengatakan kami sudah tak lagi cocok. Rasanya saya tidak melewati apa-apa hingga saya sekarang berusia 27 tahun, kecuali perpisahan itu sendiri. 

Saya cuma, kadang-kadang, seperti kebanyakan orang. Merasa amat takut, apa yang harus mereka katakan, jika mereka bertemu dengan dirinya sendiri.

Saya tak pernah menemui diri saya sendiri. Kami memang bersama-sama selama lebih dua dasawarsa. Tapi tak pernah cukup tangguh untuk menemuinya. Untuk berani sekedar menyapanya, "Selamat pagi." Atau kata-kata menyenangkan yang ingin didengar semua orang, "Jaga dirimu baik-baik." Tapi kami sepenuhnya tidak berselisih atau bermusuhan. Kami mungkin lebih mirip kakak-beradik yang ingin saling menunjukkan kepeduliannya tapi tak pernah tahu cara melakukannya.

Ini adalah malam minggu. Saya membuka ponsel dan tanpa alasan yang jelas, saya memutuskan menonton vidio tutorial cara menyelamatkan diri dari gigitan ular berbisa. Saya tidak tahu kenapa tertarik menontonnya. Satu-satunya yang saya pikirkan adalah, jika saya keluar rumah, saya khawatir kecerobohan saya dapat melukai diri sendiri. Menginjak seekor ular yang sedang melata misalnya. Jadi saya merasa perlu tahu langkah-langkah apa saja yang harus saya ambil apabila terlanjur membuat marah seekor ular. Meskipun itu artinya saya tak sengaja menginjak ekornya, meskipun juga saya berkali-kali minta maaf padanya.

Dunia yang kejam. Bagaimana cara terbaik menghukum diri sendiri?

Ini malam minggu. Entah, tiba-tiba saja saya ingat kata-kata yang pernah dilontarkan begitu saja oleh mantan pacar saya kepada saya sepuluh tahun lalu, "Jika saja aku tahu kamu masa depanku, sungguh, dengan senang hati aku akan melepasmu."

Oh, ini malam minggu. Dan saya juga ingin sekali tahu apa yang akan terjadi di masa depan saya. (*)


Ajibarang, 24 Febuari 2018

Tuesday, February 13, 2018

Pintu Keluar Sebelah Sana!

@drawnbysam

Saudara San yang baik, pintu keluar sebelah sana! Kepala saya bukan gurun yang menyesatkan atau rumah yang  nyaman buat Saudara tinggal. Kepala saya toilet umum, siapa saja bisa masuk, dan tolong, bersihkan semua kekacuan yang telah Saudara timbulkan setelah singgah sepuluh menit di dalamya.

Bukan mengusir atau bersikap kasar pada tamu terhormat seperti Saudara yang datang jauh-jauh entah dari mana. Kepala saya, selalu menerima yang dari mana saja. Kemungkinan-kemungkinan, hari sial, dan pengikutnya sering masuk dan ingin tinggal lebih lama.

Saudara San yang baik. Tinggallah. Saya ijinkan. Tak perlu bayar. Tapi jangan lama-lama. Sebab kepala saya tidak cukup besar untuk menampung segalanya jika Saudara tinggal terus seperti pertapa. Saya ingatkan, kepala saya jamban, bukan gua, atau rumah ibadah atau seperti tempat harapan Saudara. Lagi pula, apa yang Saudara inginkan dari kepala saya? Sudah tidak ada. Sudah tidak ada.

Toilet ini memang dulunya adalah bangunan megah. Persisnya sebuah rumah. Semua kebahagiaan tercipta di sana. Seseorang menepatinya, bagus sekali cara dia merawat. Lantai yang selalu disapu, halaman depan yang dipenuhi bunga-bunga, pagar bambu, kicau burung pipit pagi hari yang ceria, dan senyum. Saya pikir tempat itulah surga; surga yang itu, yang di ayat-ayat kitab suci, tempat banyak sekali orang ingin kunjungi.

Akan tetapi bagai halnya cerita dalam kitab suci, iblis datang, bisikannya betul-betul lembut seperti bisikan hati nurani. Seperti terdengar kepakan kupu-kupu yang manis dan menggiurkan. Dan hari itu pun tiba. Seseorang yang saat itu sedang menyiram bunga, terpesona dengan kupu-kupu itu. Lantas ia mengikuti terbangnya si kupu-kupu. Seseorang itu berjalan kecil melewati pagar bambu lalu ia lenyap seperti nyaris tak dapat dipercaya. Dan ia tak pernah kembali lagi.

Lama setelah itu, bangunan itu kosong. Sepi. Lapuk dan tak terawat dan kondisinya menyedihkan. Ketika malam tiba hanya terdengar suara angin, gemerisik daun dan gonggongan anjing. Apa boleh buat. Orang-orang mulai takut melintasi bangunan itu, malam maupun siang hari. Orang-orang mulai menyebut bangunan itu sebagai kuburan, ada juga yamg menamainya museum. Meski salah, namun bukan berarti tak benar. Sebab bagaimana pum bangunan itu memang dulunya tempat segala hal pernah dimakamkan, setidaknya pernah ada sebagai benda yang hadir dan menjadi sejarah.

Bangunan itu kosong. Lama sekali. Anak-anak muda sialan yang belum akil baliq tanpa rasa takut justru memanfaatkannya untuk lokasi pacaran, memamerkan kemesraan mereka, dan bangunab itu mendengar sendiri pertanyaan kapan menikah? Yang diucapkan berulang-ulang kali seolah itu adalah pertanyaan iseng, atau vokal lidah kepeleset saat kaki tersandung. Lainnya, orang-orang tersesat datang, memarkir kendaraannya, dan tanpa rasa bersalah sebagai manusia mereka kencing di gedung itu seperti binatang ternak, kadang mereka malah datang beramai-ramai hanya untuk menunjukkan diri kedudukan mereka.

Namun hingga kini tak ada kejadian yang benar-benar penting dan menarik. Cuma karena bau air kencing yang terlalu menyengat, gedung yang mulanya beroprasi sebagai tempat kencan remaja kini beralih fungsi menjadi toilet umum. Dan seperti itulah kisah kepala saya terbentuk. Selama bertahun-tahun.

Orang-orang bertanya pada saya: kapan menikah. Sehari bisa sampai lima kali. Persis seperti keinginan mereka ingin kencing. Di musim dingin, bisa ditambah jadi sebelah kali. Dan memang saat pertanyaan itu diajukan, rasanya, kepala saya mirip toilet umum yang enak buat dikencingi. Saya dikecingi sebanyak sebelas kali di musim dingin ini.

Tidak berlebihan. Kini tak ada orang yang benar-benar ingin tinggal lebih lama bersama saya karena saya bau dan sebagainya. Kecuali keajaiban itu muncul: seseorang yang dulu menepati rumah itu, kembali dan merawat rumah itu lagi. Namum saya pikir itu mustahil. Sebab kabar angin mengatakan, ia sudah tinggal bersama orang lain. Di suatu tempat. Di dalam kepala orang lain. Dan orang itu sudah tinggal di hatinya.

Rumah itu kosong, tak terurus, dan menghawatirkan. Namun Saudara San yang baik, tak perlu khawatir, karena saya sudah menunjukkan pintu keluarnya kepada Saudara. Pergilah. Jadilah kebanyakan orang yang ingin pergi.

Atau (apa) mungkin Saudara San tertarik  membenahi rumah itu lagi? Menjadikannya rumah kembali. Rumah yang ingin Saudara tinggali; merawatnya seperti kekasih dengan bantuan tangan seorang ibu yang sanggup membenahi segala kekacauan yang tak biasa?

Jika itu yang Saudara inginkan, tinggalah lebih lama. Atau tidak sama sekali. Pintu keluar sebelah sana!

(*)

Ajibarang, 14 Febuari 2018
© Guebaca.com
Maira Gall