Mengabarimu

Ilustrasi @arial.jade
Keadaannya semakin buruk, Ris. Begitulah kalimat pertama surat ini kubuka. Aku sendiri tak menyangka harus seperti apa kubuat alasan untukmu. Tapi keadaannya sungguh buruk.

Aku merindukan diriku yang dulu.

Aku merindukan diriku yang dulu sebelum aku bertemu denganmu dan bertemu semua orang, sebelum aku menjadi aku yang sekarang. Aku tak bisa menjelaskannya. Tapi itulah yang kumaksud dengan buruk.

Aku kuwalahan menghadapi diriku sendiri. Mereka minta banyak hal dariku, aku harus jadi pelayannya yang berjam-jam melayaninya, patuh kepadanya. Aku tak bisa membolos barang satu hari. Jika sampai membuat kesalahan, semua kekacauan menjadi salahku. Aku tak bisa membela diri di hadapan diriku sendiri. Semuanya sungguh buruk.

Semuanya betul-betul buruk, Ris. Bagaimana denganmu? Masih bekerja di tempat lama? Betah dengan suasana lama? Aku selalu ingin mengunjungimu. Selalu. Tapi tak bisa berbuat banyak. Mereka tak mengijinkanku pergi. Mereka ingin aku tinggal dan rencana untuk kabur yang sudah kupersiapkan tahun-tahun lamanya, selalu tercium lebih awal dari pada aku selesai mengemas barang-barangku.

Kamu apa kabar? Aku selalu tak pernah melupakan pesanmu: kalau aku sedih, kau bilang, ingatlah, ini adalah hari pertamaku hidup. Jadi aku harus berbahagia.

Saat itu, pertama kali kau bilang begitu, aku segera tahu bahwa aku bisa melaksanakannya. Bahkan saat kita benar-benar harus berpisah. Tapi lama kelamaan keyakinan itu berangsur-angsur menghilang, memudar seperti pelangi yang kehilangan cahaya warnanya. Bagaimana kalau sebenarnya hari pertama itu tak ada, tak pernah ada, melainkan adalah hari terakhir aku berbahagia. Apakah aku harus tertawa, Ris? Atau bersedih? Pertanyaanku: mengapa sih kau menghiburku dengan cara seperti itu? Tak usah dijawab, Ris. Cuma yang membuatku heran adalah mengapa?

Surat ini aku tulis untuk kamu baca. Bacalah. Aku tidak ingin muluk-muluk berharap kamu repot membalasnya. Sudah jadi bagianku menasehatimu supaya kamu jangan tidur terlalu larut malam. Jaga kesehatanmu. Bersyukurlah kalau ternyata kamu sakit karena dengan begitu kamu bisa langsung menyaksikan sendiri orang-orang di sekitarmu, mengasihimu dari cara mereka merawatmu lebih dari yang kau bayangkan.

Tapi, Ris, kita sudah berpisah begini jauh. Sebaiknya kau tetap sehat, dan sehat dan sehat. Karena kau membutuhkan itu untuk mendukung rencanamu.

Keadaanku semakin buruk. Tapi jangan khawatir. Ini hanyalah masalah akhir pekan. Aku akan jadi pelayan yang baik, yang patuh dan tak banyak menuntut. Mulai hari ini, aku akan melayani diriku sendiri sebaiknya-baiknya pelayan yang mengabdi; meski begitu masih suka dijejali pertanyaan iseng, ketika misalnya, menyaksikan seekor kucing tetangga yang sedang berjemur di teras rumah, yang membuatku berpikir bahwa, aku terjebak di dalam tubuh yang salah.

Ris, kau baik-baik saja kan? Semoga pernyataan itu tidak mengganggumu. Tidurlah yang nyenyak. Seperti bayi kura-kura ajaib. Seperti dulu kau bercita-citamu ingin memiliki cangkang agar orang-orang tak bisa menyakitimu kecuali dari dalam dirimu sendiri. Seperti aku yang telanjang karena merasa dilucuti cermin, yang membuatku semakin rindu dengan hari kemarin. Hari sebelum aku punya kesempatan menunjuk diriku sendiri di hadapan banyak orang, "Ini aku! Si Pelayan!"

Keadaannya semakin memburuk. Namun begitu segala sesuatunya kembali membaik, sudah, aku pasti segera mengabarimu. Namun jika hal itu tak berhasil, aku akan ingat pesan keduamu: "Berhenti mengeluh. Dan tegarlah!"

Yah, mungkin itulah yang harus kulakukan. Bahagia selalu untukmu.


Salam


Andi Wi

Si Pelayan


Ajibarang, 07 Januari 2018

No comments

Powered by Blogger.