Saturday, January 6, 2018

Agama Bagi Tokoh-tokoh Rekaan Fiksi Saya

Ilustrasi: instagram @philspinelli
Ada seseorang yang bertanya pada saya: apa agama tokoh-tokoh rekaan fiksi saya.

Baiklah. Saya jelaskan. Tokoh-tokoh fiksi saya setidaknya diciptakan dengan sebuah identitas, nama, karakter, sifat dan lain-lain. Tokoh fiksi saya, saya memberinya pekerjaan jika mereka memang membutuhkannya. Atau jika mereka tidak cukup terampil untuk mengerjakan sesuatu, saya akan memberinya aktivitas apa saja yang membuat mereka sibuk dan tidak kesepian.

Tokoh-tokoh saya sangat cermat dalam menjalani hidupnya di dunia fiksi. Mereka seperti halnya kita; jatuh cinta, patah hati, terjebak dalam kubangan lumpur isap seperti babi sialan, atau digigit seekor anjing. Mereka juga memiliki cita-cita. Ingin membagun negara yang adil-makmur-beradab, ingin menembak mati pelaku koruptor, punya pendapat tentang pelakor, ingin berserikat dengan dengan calon-calon mertuanya, atau ibu-ibu arisan, tukang sayur, atau seorang penyihir jika mereka memang ada.

Tokoh-tokoh fiksi saya seperti manusia pada umumnya. Makan, berak, dan menyembunyikan pensil di dalam tas kecilnya ketika mereka berangkat ke sekolah.

Mereka memesan teh. Memendam rindu a la ABG dan mereka juga menginginkan sebutir pil tidur untuk membuatnya lebih baik.

Mereka lahir dari rahim seorang ibu. Memiliki laki-laki yang kuat sebagai Ayah, dan juga mewarisi keduanya, sisi maskulin dan feminim yang sama sekali samar jika kita tidak terlalu dekat dengannya.

Mereka menangis dan tertawa dan menyadari dengan begitu banyaknya emosi yang terlibat, mereka nampak seperti sosok nyata. Hanya saja mereka memerlukan tubuh untuk membuatnya merasa hidup. Di waktu-waktu tertentu mereka juga punya kesempatan untuk membenci dirinya sendiri. Dan kecenderungan ingin bahagia melampaui harapan mereka.

Namun apa pendapat mereka tentang agama?

Tokoh Caius, dia dikenal lucu dan santai. Namun sebenarnya dia orang yang serius, akan menjelaskannya padamu, "Agama?"

Ya.

"Aku tidak tahu apa agamaku. Tapi aku cukup yakin, aku terlalu tolol jika harus menyampaikan agamaku adalah perahu layar. Yang canggih. Dengan perlengkapan mesin robotik modern dan kukuh. Tak ada gunung es yang sanggup menumbangkanya. Tapi sayang, aku bukan tipe orang yang suka berlayar. Itu saja."

Jelas?

Jika belum, tokoh lain, perempuan imut nan menggemaskan bernama Leah juga akan menambahkan, "Agama bagiku adalah mesin telepati yang membuatku terhubung dengan Ibu. Ibuku tak pernah menghubungiku. Tapi aku selalu ingin berusaha menceritakan segala sesuatunya yang membuatku gelisah."

Ibu Leah meninggal sewaktu dia masih kecil.

Kemudian Bumi. Anak laki-laki doyan makan. Namun itu membuatnya nampak semakin manis karena pipinya gembung. Berpendapat, "Karena aku tukang makan. Agama bagiku sebuah piring. Ada banyak sekali tuhan di dunia ini. Agama menyajikan tuhan dengan cara berbeda. Dengan versi yang mirip namum hampir berbeda. Sejak kecil, ketika ayahku menjelaskan tentang kebaikan dan pahala dan tuhan, aku malah kepikiran ingin membelinya. Dimana aku bisa mendapatkannya? Kata Ayah, semakin kita berbuat bayak kebaikan pada sesama dan patuh kepada perintah tuhan, aku akan mendapatkan pahala yang setimpal bahkan lebih banyak. Lalu aku akan masuk surga. Di surga, kata Ayahku, tersedia banyak sekali makanan dan mainan. Dan gambaranku saat itu, surga itu pasti mirip restoran, yang juga merangkap toko mainan. Seperti apa ya bangunannya ya? Aku bertanya-tanya. O, ternyata itu tidak penting. Karena yang ingin kucari tahu adalah bagaimana caranya memesan makanan yang enak itu dan mainan bagus buatan surga itu? Apa kau punya nomornya?

"Ayahku menjawab tidak. Mendengar jawabanya tersebut aku pun langsung kecewa. Ini juga berlaku ketika aku makan babi panggang. Namun temanku bilang, babi itu tak boleh dimakan. Lalu buat apa? Menggonggong di depan rumah? Tidak katanya. Anjing juga tak boleh dimakan. Untuk kedua kalinya aku kecewa dengan jawaban yang lugas namun penuh kecaman tersebut. Aku tidak tahu apa yang menghalagi mereka untuk mengecamku makan makanan yang kusukai. Aku jadi takut, jangan-jangan semua makanan tak boleh dimakan. Padahal kan aku ini tukang makan? Memangnya apa yang salah? Badanku memang gemuk. Fakta ini tak bisa ditutup-tutupi. Tapi bagaimana kekecewaan? Aku tak mendapatkan nomor tuhan, dan tuhan entah kenapa melarangku makan-makanan bumi yang lezat dan gurih. Itu membuatku kecewa. Andai tuhan memberikan nomornya, aku pasti sudah menghubunginya untuk mendapatkan makanan yang halal yang dianjurkannya. Aku akan memesan kudapan makan malam ini sekarang juga."

Tidak tahu kemana arah percakapannya. Namun itulah komentar panjang lebar mengenai Agama dari tokoh saya bernama Bumi.

Tokoh-tokoh rekaan saya bukan hanya mereka bertiga. Ada banyak. Misalnya Kalani, Hio, tokoh yang masih berumur satu hari, lalu ada Harpa, dll. Mereka semua seperti manusia unggul sekaligus biasa saja. Namun mereka punya pendapat. Dan sebagai sosok manusia sungguhan, yang menciptakan mereka, saya sangat sangatlah menghargai pendapat masing-masing. Boleh dibilang itu sebuah bentuk perhatian saya kepada mereka karena selama ini mau bertahan menemani saya disaat sedih dan senang.

Akan tetapi jika kalian belum puas dengan jawaban yang diterangkan oleh mereka, kalian juga boleh kok, bertanya mengenai hal lainnya yang dirasa perlu dipertanyakan kepada mereka. Tentu saja melalui saya. Dan saya akan dengan senang hati menyampakan pesan kalian kepada mereka. Tenang, pertanyaan kalian pasti dijawab, kalau mereka tidak sibuk. Tapi saran saya, siapkan pertanyaan paling bagus. Tak usah tergesa-gesa ingin menyampikannya. Mereka abadi, jadi kalian punya banyak waktu untuk memikirkan kalimat itu.

Salam

Dari Caius, Leah, Bumi dan teman-temannya untukmu.

Ajibarang, 07 Januari 2018

No comments

© Guebaca.com
Maira Gall