Sunday, January 14, 2018

Surat Untukmu

Ilustrasi @kulturtava

Apa kabar, Bu?
Tulisan di nisanmu mulai memudar tapi kepergianmu masih tercetak jelas diingatanku. Menghantam keras dadaku, membekukan seluruh anggota gerak aku. Tapi tenang, mengingat Tuhan menyayangimu melebihi siapapun yang ada dimuka bumi ini, itu sedikit membuatku lega. Dengan Dia tidak ingin membiarkanmu sakit lebih lama. Kamu sudah sembuh. Bahkan aku sanggup memikirkanmu lebih sehat dari pada terakhir aku menyaksikanmu. Aku benar kan, Bu?

Bu, Ibu, ingin sekali kutulis sajak-sajak patah tentang lelah yang nyaris membuatku menyerah. Tentang letih yang semakin pedih, juga, tentang aku yang semakin rapuh tanpamu.

Bu, Ibu, rindu ini menggebu merindukanmu. Menusuk kalbu, bagaimana menyanyikannya?

Seseorang telah menggantikanmu, posisimu, di rumah, di dapur, di meja makan, di semua tempat yang dulu pernah kamu tempatkan dengan sosokmu. Seseorang yang mengira bisa menggantikanmu dengan sosoknya, yang kukira itu tak akan mungkin bisa dilakukan olehnya, bahkan oleh siapa pun. Tak pernah.

Kubayangkan aku dalam dekapmu lagi. Aku yang merengek? Minta dibelikan permen, sepasang kaos kaki?

Sungguh Bu, rindu ini semakin menusuk. Menikam kejam saat malam mataku terpejam mengingatmu; apa yang sedang kamu lakukan?

Ingin sekali aku berbahagia, Bu, menciptakan sendiri kebahagiaanku. Denganmu. Dengan, bagaimana jika aku tanpamu?

Bu, Ibu, tanpamu aku ingin menemukan rumah pulang ke dadamu. Kini sudah besar aku, kemana bisa aku kembali menjadi anak kecil lagi?

Echa Faradilla 
Gadis pemalu, ambisus dan sedang bermimpi meraih cita-citanya dengan malu-malu.

No comments

© Guebaca.com
Maira Gall