Monday, January 29, 2018

Cinta yang Menyembuhkan Dirinya Sendiri

Ilustrasi @andiwi_andiwi

Semoga ada jalan yang selalu menyembuhkanmu. Rumah sakit 24 jam yang mampu menerimamu kapan pun. Siang malam, menampung segala risau, perasaan gamang yang kadung kamu tampung seperti kesedihan.

Semoga ada matahari yang tak terlalu meragas. Dan kepalamu menjadi satu-satunya batu yang ditumbuhi semak ilalang. Yang bergoyang di terpa angin, kesejukan kerap menyertaimu, hari-hari hijau yang kamu rindukan keberadaannya seperti dulu kamu menjadi bocah layang-layang di ladang.

Semoga ada hari baik untukmu. Yang jadi pelindungmu seperti kakak yang memahami semua keinginan adiknya. Memberimu tepukan lembut ketika kamu merasa kalah.

Semoga ada cinta yang senantiasa memudahkanmu. Cinta yang sanggup berdoa untuk dirinya sendiri. Seperti aroma masakan ibu. Atau suara teratur gemerisik radio ayah. Agar ketika kamu lelah nanti, kamu bisa merasa pulang ke dalam dirimu sendiri.

Andi Wi

Sunday, January 28, 2018

Orang Terakhir yang Ingin Berbahagia

Ilustrasi @instagram.com/mileu/

Tak ada yang sanggup menyakitimu. Tak juga aku, orang lain, sirip lancip ikan patin, atau teh hangat yang dibuat terlalu manis atau pahit, atau daun lembut yang dihimpun setiap pagi di halaman belakang rumah tua yang lama kesepian.

Tak ada yang sanggup menyakitimu karena kamu selalu melakukan hal yang luar biasa. Kegiatan yang senantiasa sanggup membuatmu bahagia.  Melakukannya tanpa rasa takut salah-benar, hari esok akan meninggalkanmu, seperti cara orang-orang berkemas pergi ke puncak dengan kamera di bahunya. Membuat api unggun dan bercerita, dan namum segera lupa dengan foto-foto yang baru saja diambilnya.

Tak ada yang sanggup menyakitimu dengan cara apa pun. Nyanyian yang tak sengaja mampir ke telingamu, yang disenandungkan oleh tetangga sekitar rumahmu. Mereka menginginkan hidup yang sempurna, kamu tak pernah merasa sakit hati karena kamu tak menginginkan hal semacam itu.

Tak ada yang sanggup menyakitimu, tak juga keberadaan kita, lelucon buruk yang gemar mengulang-ngulang kesalahannya sendiri, tak sanggup menghentikan dirinya sendiri. Hal terbaik yang bisa dilakukan dihidup ini ialah terlibat durasi. Tahu kapan berhenti menunggu, bukan salah satunya. Sebab dengan alasan yang sama, membuat diri kita bahagia ialah hal yang jauh lebih penting. Demikian dengan cita-cita menjadi seorang yang terakhir bahagia.

Tak ada yang sanggup menyakitimu. Karena kau tak pernah berniat menyusul kebahagiaan siapa pun. Menunggu adalah perkara sederhana, namun bagi mereka yang berpikir rumit, ini bukan ide bagus. Biarkan mereka mengoceh dengan kisah-kisahnya. Mereka tak pernah tahu cara menabung waktu, sampai kemudian membongkarnya dihari jadi yang bakal buat siapa saja kagum, berkata, "Kau hebat. Kaulah orangnya."

Tak ada yang sanggup menyakitimu, tak juga aku, perkakas yang seringnya keliru memisahkan antara alam mimpi dan alam sadarmu.


Saturday, January 27, 2018

Merencanakan Kegagalan

Ilustrasi @ig_humanplus

Dua hari belakangan ini tidurku tak nyenyak. Aku selalu bangun lebih awal dari biasanya. Aku tak tahu kenapa. Rasanya seperti ada dorongan kuat untuk bangun dan mengerjakan sesuatu. Akan tetapi entah kenapa ketika aku memikirkannya, sesuatu itu kehilangan rencananya sendiri.

Kenapa?

Aku duduk di tepi ranjang. Berpikir beberapa saat sebelumnya akhirnya berani mengajukan pertanyaan untuk diri sendiri: memangnya, sejak kapan aku peduli dengan rencana yang telah kubuat hingga merasa cukup jantan untuk menyelesaikannya?

Baiklah. Kuakui. Dulu aku ini anak laki-laki dengan segudang rencana. Namun sebagai mana rencana diciptakan, mereka selalu gagal. Rencanaku memang selalu gagal. Tapi kupikir itu cuma masalah kecil, karena aku sudah menemukan solusinya.

Ini seperti kenginan kuat kau ingin kaya. Tapi alih-alih selalu gagal dalam meraihnya, kau berpikir, tidak kaya juga tidak apa-apa, terpenting semua kebutuhanmu tercukupi. Nah persis seperti itulah yang kusebut solusi.

Kata orang hidup ini seperti roda. Oke, mungkin yang dimaksud roda itu, roda yang bisa berputar. Roda hidupku juga berputar, tapi mungkin ia bergerak dengan kecepatan begitu lambat sampai aku sendiri tak menyadarinya apakah dia diam atau justru bergerak ke kiri?

Orang-orang melangkah lebih jauh di depanku. Orang-orang selalu ingin tiba lebih dulu dari hari esok. Sementara aku melangkah selangkah demi selangkah untuk mencapai hari esok.

Aku bagai anak laki-laki yang merencanakan segala sesuatunya dari awal, tapi di tengah-tengah rencana berbuah pikiran, atau jika tidak, aku akan tiba dengan rasa gagal di menit-menit akhir.

Sering aku menyaksikan kegagalan di depan mata kepalaku. Sekuat tenaga aku menasehati diriku dengan berujar, "Kau lihat sendiri kan?" Seolah-olah aku sedang menunjuk telur gosong di atas piring.

Jika ada istilah pengusaha sukses di usia muda maka akulah pengusaha muda sebaliknya, yang bangkrut diusianya yang masih muda. Jika ada cerita seorang pemuda yang bangun kesiangan di hari pertamanya tes kerja, maka akulah pemuda itu. Jika ada pemuda yang tiba-tiba tersedak duri ikan sebelum ia sempat menyatakan cintanya kepada gadis pujaannya di meja makan, maka pemuda itu adalah aku, yang dilarikan ke rumah sakit.

Ada sesuatu yang belum bisa kutuntaskan. Banyak hal yang tak bisa kuselesaikan. Aku tahu aku tak bisa berbuat banyak, dan kalau aku bisa, aku pasti selangkah lebih dekat dengan kehancuran.

Aku tak punya pilihan kecuali melupakan rencana-rencana itu. Aku memilih melupakan rencanaku sebagai jalan keluar.

Oi, bicara tentang rencana, aku jadi ingat suatu kali pernah menghadiri acara pesta pernikahan -meski ini sedikit berbeda tapi kurasa ada kesamaannya.

Aku punya seorang teman perempuan. Sebut saja namanya Dewi. Dewi adalah anak perempuan hiperaktif yang selalu cakap mengekspresikan semangat emosinya ketika misalnya dia amat senang, dia tak akan berhenti tertawa meski itu artinya di depan umum. Dewi tak terhentikan.

Berbeda dengan manusia pada umumnya, Dewi bukan tipe manusia yang sering melawan benaknya sendiri. Ketika dia sedih dia akan menangis. Ketika Dewi sedang bahagia dia tahu caranya tertawa.

Dewi tak bisa melakukan dua hal sekaligus yang seringnya cenderung dilakukan orang-orang. Dia itu berbeda. Tak menyukai kepura-puraan.

Nah, maka ketika rencananya yang selama ini dia bangun dengan bersusah payah gagal di tengah jalan, dia menangis dengan begitu kuat. Dewi menangis tersedu-sedunya begitu tahu pacar seumur jagungnya itu, tanpa alasan yang jelas mengatakan bahwa mereka sudah tak lagi cocok.

Aku sendiri kurang paham definisi cocok. Yang jelas aku menyaksikan mereka berdua, teman perempuanku bernama Dewi itu dan kekasihnya -yang kini jadi mantan- selalu berdampingan setiap saat. Mereka melekat bagai tak terpisahkan. Aku bahkan bisa membayangkan mereka bergantian bergilir mengenakan tongkat penyangga jika yang lain, tongkat yang lain lupa letak menaruhnya. Sepasang kekasih kakek-nenek yang amat romantis.

Akan tetapi seperti hal yang kubilang sebelumnya: rencana diciptakan untuk gagal. Dan mereka benar-benar gagal dalam menyongsong masa depan itu. Namun setidaknya, bukan keduanya. Tapi salah satu dari mereka. Sebab, mantan kekasih teman perempuanku itu pada akhirnya menikah dengan orang lain. Menjalani kisah romantis masa depan bersama orang lain.

Itu terjadi dua minggu lalu. Namun meski sudah berlangsung selama itu aku masih bisa ingat cara teman perempuanku itu menyeka air matanya. Berkali-kali. Dan sejumlah berkali-kali pula, aku bagai sedang menyaksikan sebuah lukisan tiga dimensi yang bergerak. Lukisan tiga dimensi yang paling sedih di dunia. Aku tak pernah membayangkan dikehidupanku yang samar-samar akan menyaksikan lukisan semacam itu dengan amat nyata.

Dewi mengajakku ke acara pesta pernikaan mantan kekasihnya. Pulang dari sana, Dewi mengusulkan agar kami mampir ke taman kota. Kami duduk di sebuah bangku besi yang sangat pas untuk selonjoran satu orang. Angin dari arah utara berhembus di sekitar kami. Segala percakapan orang-orang asing di taman kota sore itu berkelindan telingaku. Namun di antara kami sama sekali tak ada percakapan apa pun. Sepanjang sepuluh menit, aku dan Dewi hanya diam saja. Aku tidak mengawasinya, tapi aku segera merasa bersalah ketika tiba-tiba saja dia menagis tersedu-sedu di sampingku.

Seumur hidup aku tak pernah suka menyaksikan orang menangis. Aku selalu ingin menghindarinya. Ketika keponakanku yang paling kecil berumur lima tahun kubuat menangis, aku langsung lari terbirit-birit masuk ke dalam kamar. Bukan karena takut dimarahi oleh Ibuku, atau Ayah dari anak itu tapi karena aku tak tahu cara menenangkan benaknya.

Dan ketika Ibuku bilang, "Caius ini bisanya cuma bikin nangis!" Aku selalu berpikir bahwa yang dikatakan ibuku salah. Aku tak berniat membuatnya menangis tapi justru aku ingin mengajaknya bermain. Apa aku salah?

Keponakanku memang menangis. Tapi tak lama. Hanya selang beberapa menit kemudian, dia sudah kembali tertawa-tawa tidak jelas. Sudah melupakan kesedihannya. Aku sendiri baru berani keluar kamar setelah semua badai reda. Tapi tentu dengan keheranan yang meluap-luap: bagaimana Ibuku melakukannya? Dengan cara apa dia melakukannya?

Aku tidak tahu. Aku tak pernah tahu.

Aku pun tidak tahu apa yang mesti kulakukan ketika Dewi yang di sampingku menangis tersedu-sedu. Aku justru berpikir, apa sebaiknya aku pulang dulu dan bertanya pada Ibuku: bagaimana cara melakukannya? Bagaimana cara membuat orang lain tertawa setelah mereka menangis?

Tidak. Aku tahu, ini konyol. Aku tak boleh terus-menerus menghindari hal yang paling tak kusukai. Sebab mau bagaimana pun aku pasti akan menghadapinya. Entah itu dengan orang lain, atau untuk diriku sendiri hari ini.

Tepat ketika itu aku jadi memikirkan kapan terakhir kali aku menangis dan untuk apa aku melakukannya waktu itu?

Apa yang membuatku begitu sedih sehingga memaksaku mengeluarkan air mata dari liangnya? Dan bagaimana caranya aku bisa lolos dan menenangkan diriku kembali saat itu?

Aku kembali mengunduh kisah masa lampau di kepalaku, yang sudah kuhapus bertahun-tahun silam untuk mengetahui kejadian-kejadian apa saja yang sanggup membuatku menderita lalu menangis. Namun beberapa detik melakukannya, aku gagal mengunduh file di benakku. Apa itu artinya aku telah mengapusnya secara permanent? Aku menyerah, seperti mendapati diriku sendiri menuai kegagalan lagi.

Namun tiba-tiba ketika aku merasa menyerah dengan yang kulakukan, isi kepalaku memunculkan sebuah adegan aneh yang sering muncul di mimpi burukku. Sebuah gambar tercetak jelas di halaman isi kepalaku. Oh tidak. Itu gambar mantan kekasihku yang sedang tersenyum. Tidak. Ini tidak benar. Dia bahkan tak pernah sekali pun membuatku menangis. Kami memang sempat menjalin hubungan beberapa saat sampai kemudian dia mengakui bahwa dia sebetulnya tak mencintaiku. Dia cuma menyukai semangatku. Dia menambahkan catatan, "Aku hanya ingin memberimu apresiasi, dorongan agar kau tetap optimis. Dan kupikir kau pantas mendapatkannya. Tapi aku tidak mencintaimu." Kemudian dia tertawa. Lalu melangkah santai dan pergi menjauhiku.

Ya, meski waktu itu kulihat seakan dia baru saja mendorongku ke tepi jurang yang ke dalamannya tak terlihat, tapi kupikir apa yang dilakukannya itu suatu tindakan yang benar. Dia tak bisa terus-menerus mengajakku berputar-putar di puncak gunung indah dengan orang tak disukainya. Karena bagaimana pun aku hanyalah teman. Teman yang cuma menemaninya mendaki.

Oh, jadi ketika dia mengatakan dia tak menyukaiku lagi, aku berani bersumpah, aku pantas sama sekali tidak ragu untuk tidak menangis. Hanya saja ya, jika sedang sendirian terjaga di tengah makam dan aku tak sengaja memikirkannya, apa yang dilakukannya itu sungguh membuatku merasa nelangsa.

Namun jika kuingat lagi pernah berkata padanya: Cintaku padamu sedalam samudra. Mau tak mau aku menertawai diri sendiri. Aku ragu-ragu apa aku benar-benar mengatakannya pada waktu itu. Apa yang kupikirkan ketika mengucapkan kalimat itu? Apa itu tidak berlebihan? Dan memangnya jika benar aku ingin mencintainya sedalam itu, bagaimana caraku hendak melakukannya? Aku pasti tidak mungkin bisa melakukannya. Jadi ketika dia pergi dariku, sudah kuputuskan aku tidak akan menangis untuknya.

Tapi mungkin saja sebenarnya aku menangis, namun tidak cukup jantan untuk menyadarinya seperti yang sering kumulai.

Kini aku mengingat-ingat lagi hal apa saja yang biasa kulakukan ketika sedang sedih. Aku butuh file itu untuk menenangkan teman sebelahku yang kira-kira sedang menangis tersedu-sedu.

Akan tetapi karena tidak berhasil menemukan yang kucari, mau tak mau aku ambil kesimpulan sendiri: mungkin aku hanya perlu menghiburnya, mendengar semua perkataannya dan menemaninya selagi dia menagis.

Aku duduk dengan tenang. Aku duduk dengan tenang, memerhatikan napasku, menghitung detak jantungku dan siap mendengarkan apa yang akan dikatakan Dewi.

Dewi belum mengatakan apa-apa. Mungkin dia memang tak tertarik mengatakan apa-apa, tak ada yang perlu dikatakan. Mungkin begitu pikirnya.

Aku membayangkan, andai saja Dewi mau membuka mulutnya dan mengatakan sesuatu yang, agar dia bisa lebih tenang, mungkin aku bisa segera menimpalinya. Misalnya dengan berkata, "Manusia itu mahkluk yang sungguh kuat. Itu bohong kan, Caius?"

Ya, tentu saja, aku pasti akan menjawabnya dengan berujar, "Ya. Itu kebohongan besar."

Tapi sepertinya Dewi lebih dulu menghadapi kegagalan untuk mengatakan sesuatu yang ingin sekali dia nyatakan. Seperti aku. Yang sering gagal menyatakan diri ingin lebih baik dari hari kemarin namun selalu tak tahu cara melakukannya, cara memulainya.

Namun mungkin saja, sebaliknya, yang ingin Dewi bilang adalah, "Setelah ini... Maukah kau mengajakku mendaki bersamamu?"

Aku mau. Begitu aku akan menjawabnya.

Tapi Dewi nampaknya tak memikirkan kata-kata itu. Kami pun pulang. Lalu dua minggu setelah itu tanpa alasan yang jelas tidurku tak lagi nyenyak. Aku selalu terbangun tengah malam. Entah untuk apa.

27 Januari 2018

Thursday, January 18, 2018

Kita Teman

Ilustrasi @a.b.photoart

Untuk kebaikan kita berdua, kau sebaiknya tak perlu menghubungiku lagi. Ini tidak normal. Aku sedang dalam perjalanan melupakanmu dan lagipula tiga bulan mendatang kau akan menikah.

Berbahagialah. Akhirnya permainan ini selesai dan kau pemenangnya.

Jangan mengira aku, kau tahu, ingin dihubungimu meski berkali-kali kau bilang kita masih bisa berteman. Kita memang berteman. Tapi jangan menghubungiku lagi. Sebab kali ini aku memintamu dengan suara seorang teman yang meminta temannya untuk mencari kesibukan lain, yang lebih seru.

Temanku, pahamilah. Ini sangat normal. Bukan bermaksud ingin mengabaikanmu tapi kau benar-benar bisa lakukan segalanya selain bersamaku.

Maafkan aku jika mulai hari ini berubah jadi teman yang tak menghibur. Lagipula, toh, kau sudah tahu semua trikku yang dulu kutunjukkan padamu. Meski kadang kau mengganggapnya itu tidak lucu, namun selalu berhasil buatmu tersenyum. Sekarang cukup sudah. Sebab seperti katamu, semua lelucon buruk harus diakhiri bukan?

Kini jangan hubungi aku lagi. Karena aku yakin kau punya jadwal yang menuntut untuk dipenuhi. Kau mungkin punya delapan rencana untuk mengundangku hadir di pesta pernikahanmu. Tapi sebaiknya simpan saja undangan makan malam itu untuk teman-teman lainmu.

Namun, temanku, jika saja aku tidak sedang sibuk dengan kebutuhanku sebagai manusia yang cenderung memiliki kegiatan memperbaiki perkakasnya, aku pasti datang. Berlagak ke tempatmu seolah aku siap untuk duduk menyaksikanmu di pelaminan itu.

Akan tetapi seperti yang pernah kubilang padamu, temanku, di dunia ini tak ada yang bisa kujanjikan. Seperti alasan takut bila hari esok tiba-tiba terlalu terhormat untuk dijalani sebagai hari normal.


I'll Try Anything Once 


Tuesday, January 16, 2018

Meridian

Ilustrasi @kulturtava

Semoga di antara kita
ada gurun
yang menyesatkan tujuan
dan mengubur dengan pasir
semoga di antara kita ada angin Besar!
yang menghapuskan mimpi
yang membawa terbang
keinginan yang kuat.
pertemuan memang pintu yang lebar-lebar kubuka
dan mempersilakan
hari-hari, waktu dan keresahan
yang melelahkan.
Sedang aku rumah kosong
yang mencintai kebaikan
di dalam sini
kau tak pernah meneliti
garis bujur yang kubuat
yang memperagakan bagaimana kalau kita berdua melewati setiap pergantian hari cuaca, musim dan hal-hal penting.
hingga kutahu duniaku
adalah dunia, yang tidak pernah kaulihat
dan aku tidak berhak memaksa
kauhuni dan tinggal
begini sebenarnya, memikirkanmu hanya membuatku seperti dalam
jeruji bujur yang kuciptakan sendiri. Menikmati yang berputar. Menetapkan kapan aku yang tidak mampu berbuat apa-apa
kembali berjalan dan melewati
musim yang berganti
bersepeda berangkat dan pulang sekolah bersamamu
tanpa rasa apa-apa.

Nganjuk, 2018

Eb (pseudonim), suka kopi, madu dan cenderung suka menyembunyikan sesuatu. Sering menulis puisi namun sayang, tak mengijinkan Ibunya membaca -kesedihannya. 

Sunday, January 14, 2018

Surat Untukmu

Ilustrasi @kulturtava

Apa kabar, Bu?
Tulisan di nisanmu mulai memudar tapi kepergianmu masih tercetak jelas diingatanku. Menghantam keras dadaku, membekukan seluruh anggota gerak aku. Tapi tenang, mengingat Tuhan menyayangimu melebihi siapapun yang ada dimuka bumi ini, itu sedikit membuatku lega. Dengan Dia tidak ingin membiarkanmu sakit lebih lama. Kamu sudah sembuh. Bahkan aku sanggup memikirkanmu lebih sehat dari pada terakhir aku menyaksikanmu. Aku benar kan, Bu?

Bu, Ibu, ingin sekali kutulis sajak-sajak patah tentang lelah yang nyaris membuatku menyerah. Tentang letih yang semakin pedih, juga, tentang aku yang semakin rapuh tanpamu.

Bu, Ibu, rindu ini menggebu merindukanmu. Menusuk kalbu, bagaimana menyanyikannya?

Seseorang telah menggantikanmu, posisimu, di rumah, di dapur, di meja makan, di semua tempat yang dulu pernah kamu tempatkan dengan sosokmu. Seseorang yang mengira bisa menggantikanmu dengan sosoknya, yang kukira itu tak akan mungkin bisa dilakukan olehnya, bahkan oleh siapa pun. Tak pernah.

Kubayangkan aku dalam dekapmu lagi. Aku yang merengek? Minta dibelikan permen, sepasang kaos kaki?

Sungguh Bu, rindu ini semakin menusuk. Menikam kejam saat malam mataku terpejam mengingatmu; apa yang sedang kamu lakukan?

Ingin sekali aku berbahagia, Bu, menciptakan sendiri kebahagiaanku. Denganmu. Dengan, bagaimana jika aku tanpamu?

Bu, Ibu, tanpamu aku ingin menemukan rumah pulang ke dadamu. Kini sudah besar aku, kemana bisa aku kembali menjadi anak kecil lagi?

Echa Faradilla 
Gadis pemalu, ambisus dan sedang bermimpi meraih cita-citanya dengan malu-malu.

Thursday, January 11, 2018

Kita yang Menjadi Kita Hari Ini

Ilustrasi: kompasiana/andiwi

Hallo. Kau bicara lagi perihal
masa depan, yang sungguh
sudah sepekan ini
kau yang biasanya pendiam,
jadi cerewet sekali, seperti kau
yang seperti kau saat ini.

Bukankah kau tahu betul bahwa
vakansi ini
lebih mirip huruf braille
yang diraba-raba
disentuh permukaannya
sementara kita sama tahu
di sana tidak ada apa-apa.

Kau bahkan selalu marah!
Acapkali waktu tergelincir
Namun kerap kali
buat dirimu sendiri terkilir.

Seekor kura-kura punggung wajan, yang kita lihat di pasar malam
tidur terlentang
menatap langit,
hatinya sengit, berkelahi
dengan tempurungnya sendiri
ia tahu, saat fiuh panjang
dan napas pendeknya tersengal selalu gagal dalam usahanya
membalik badan.

"Tindakan kura-kura itu
memang menyedihkan," komentarmu
Aku setuju.
Tapi kita tak akan berhenti sampai di sini, katamu lagi.
Aku setuju.
Dan tidak merindukan apa pun
hari ini. Aku tak setuju.

Tapi lalu kau raih tanganku
sambil hati-hati,
melewati kura-kura itu
melewati waktu
menggandeng tanganku
yang nurut. Setelah sanggup
mengutuki hari-hari seperti hari
yang mengubah kita menjadi
Kita yang seperti hari ini.

(2016)

Mas

@the_bussiness_rules
Januari bukan bulan yang baik buat menunggu, Mas. Febuari juga bukan. Tapi bulan-bulan lainnya juga tak pernah menjadi bulan buruk jika itu kulakukan untuk menantimu. Aku malah akan merasa aneh bila bulan ini aku menunggu yang bukan kamu.

Aku memang bisa tersiksa api matahari, Mas. Terguyur hujan awan di atas kepalaku. Bisa kaubayangkan aku meratap tanpa bersuara, tapi, aku, Mas, sudah sedemikian kuyupnya menantimu. Jangan katakan aku tak berusaha.

Dalam tiap jengkal penting peristiwa dalam hidupku, selalu bertujuan. Tapi mencintaimu itulah masalah lain yang menimpaku. Kukira aku orang yang pandai mencari solusi untuk kemudian mengurutkannya seperti benang yang kuurai untuk menemukan ujung masalah. Tapi ternyata aku salah. Kau tak berujung, aku tak menemukan pangkalmu.

Ingin sekali kukatakan padamu: aku rindu jadi kanak-kanak lalu. Sekali lagi boleh bermain dan melupakan identitasku. Bukan karena kau tak mengatakan layak ditunggu, dan aku meninggalkanmu dengan cara mencari mainan baru. Bukan itu, Mas. Menunggumu juga bisa jadi kegiatan menarik. Namun, Mas, aku ingin menantimu, tidak dengan cara seperti itu.

Aku tak ingin menantimu bagai seorang bocah cemas di ujung ruang tunggu rumah sakit. Meski kubilang aku bocah yang suka menanti. Benar-benar menyukainya. Aku hanya tak menyukai tujuannya. Kau seorang yang tak mudah ditebak, yang bersembunyi, tidak pernah berniat memberitahuku kapan berakhirnya permainan ini.

Mas, berhenti memandangku seakan-akan aku telah membuatmu sempurna. Aku akan menantimu tanpa menyerah, aku bersumpah -sekali pun kau bukan yang sempurna untukku.

Sejak awal, aku sudah tahu tak akan mendapatkan pelajaran apa-apa dari permainan ini, penantian ini sepenuhnya tak akan membawaku kemana-mana. Tapi jangan membuatku menderita, Mas, karena tidak menantimu sama saja aku mengotori kesetianku sendiri. Kupikir aku masih terlalu muda untuk bisa menantimu seribu tahun lagi.

Kadang-kadang aku bahkan merasa kau hanya sedang tertidur lelap, yang sewaktu-waktu bisa bangun, yang kunanti-nanti betul kau bangun.

Akan tetapi, Mas, berapa lama pun kau butuhkan waktu untuk tidur dan bermimpi, itu tak penting lagi. Buatlah dirimu nyaman, Mas, itu yang ingin kukatakan, "Aku di sampingmu jika kaubutuhkan." Tidak kemana-mana. Seperti sejak awal permainan ini mulai.

Tidurlah barang sepuluh ribu tahun lagi, Mas, kalau kau mau. Berdoa saja semoga umurku sepanjang itu agar terus terjaga mengawasimu. Menanti dan menyaksikan senyum dalam pulasmu.

Aku akan menantimu, Mas, karena aku penggemar terbesarmu. Lihat aku, perhatikan baik-baik, aku di sampingmu menanti setiap hari berganti kau membuat perubahan.



Andi Wi

12 Januari 2018

Sunday, January 7, 2018

Mengabarimu

Ilustrasi @arial.jade
Keadaannya semakin buruk, Ris. Begitulah kalimat pertama surat ini kubuka. Aku sendiri tak menyangka harus seperti apa kubuat alasan untukmu. Tapi keadaannya sungguh buruk.

Aku merindukan diriku yang dulu.

Aku merindukan diriku yang dulu sebelum aku bertemu denganmu dan bertemu semua orang, sebelum aku menjadi aku yang sekarang. Aku tak bisa menjelaskannya. Tapi itulah yang kumaksud dengan buruk.

Aku kuwalahan menghadapi diriku sendiri. Mereka minta banyak hal dariku, aku harus jadi pelayannya yang berjam-jam melayaninya, patuh kepadanya. Aku tak bisa membolos barang satu hari. Jika sampai membuat kesalahan, semua kekacauan menjadi salahku. Aku tak bisa membela diri di hadapan diriku sendiri. Semuanya sungguh buruk.

Semuanya betul-betul buruk, Ris. Bagaimana denganmu? Masih bekerja di tempat lama? Betah dengan suasana lama? Aku selalu ingin mengunjungimu. Selalu. Tapi tak bisa berbuat banyak. Mereka tak mengijinkanku pergi. Mereka ingin aku tinggal dan rencana untuk kabur yang sudah kupersiapkan tahun-tahun lamanya, selalu tercium lebih awal dari pada aku selesai mengemas barang-barangku.

Kamu apa kabar? Aku selalu tak pernah melupakan pesanmu: kalau aku sedih, kau bilang, ingatlah, ini adalah hari pertamaku hidup. Jadi aku harus berbahagia.

Saat itu, pertama kali kau bilang begitu, aku segera tahu bahwa aku bisa melaksanakannya. Bahkan saat kita benar-benar harus berpisah. Tapi lama kelamaan keyakinan itu berangsur-angsur menghilang, memudar seperti pelangi yang kehilangan cahaya warnanya. Bagaimana kalau sebenarnya hari pertama itu tak ada, tak pernah ada, melainkan adalah hari terakhir aku berbahagia. Apakah aku harus tertawa, Ris? Atau bersedih? Pertanyaanku: mengapa sih kau menghiburku dengan cara seperti itu? Tak usah dijawab, Ris. Cuma yang membuatku heran adalah mengapa?

Surat ini aku tulis untuk kamu baca. Bacalah. Aku tidak ingin muluk-muluk berharap kamu repot membalasnya. Sudah jadi bagianku menasehatimu supaya kamu jangan tidur terlalu larut malam. Jaga kesehatanmu. Bersyukurlah kalau ternyata kamu sakit karena dengan begitu kamu bisa langsung menyaksikan sendiri orang-orang di sekitarmu, mengasihimu dari cara mereka merawatmu lebih dari yang kau bayangkan.

Tapi, Ris, kita sudah berpisah begini jauh. Sebaiknya kau tetap sehat, dan sehat dan sehat. Karena kau membutuhkan itu untuk mendukung rencanamu.

Keadaanku semakin buruk. Tapi jangan khawatir. Ini hanyalah masalah akhir pekan. Aku akan jadi pelayan yang baik, yang patuh dan tak banyak menuntut. Mulai hari ini, aku akan melayani diriku sendiri sebaiknya-baiknya pelayan yang mengabdi; meski begitu masih suka dijejali pertanyaan iseng, ketika misalnya, menyaksikan seekor kucing tetangga yang sedang berjemur di teras rumah, yang membuatku berpikir bahwa, aku terjebak di dalam tubuh yang salah.

Ris, kau baik-baik saja kan? Semoga pernyataan itu tidak mengganggumu. Tidurlah yang nyenyak. Seperti bayi kura-kura ajaib. Seperti dulu kau bercita-citamu ingin memiliki cangkang agar orang-orang tak bisa menyakitimu kecuali dari dalam dirimu sendiri. Seperti aku yang telanjang karena merasa dilucuti cermin, yang membuatku semakin rindu dengan hari kemarin. Hari sebelum aku punya kesempatan menunjuk diriku sendiri di hadapan banyak orang, "Ini aku! Si Pelayan!"

Keadaannya semakin memburuk. Namun begitu segala sesuatunya kembali membaik, sudah, aku pasti segera mengabarimu. Namun jika hal itu tak berhasil, aku akan ingat pesan keduamu: "Berhenti mengeluh. Dan tegarlah!"

Yah, mungkin itulah yang harus kulakukan. Bahagia selalu untukmu.


Salam


Andi Wi

Si Pelayan


Ajibarang, 07 Januari 2018

Saturday, January 6, 2018

Agama Bagi Tokoh-tokoh Rekaan Fiksi Saya

Ilustrasi: instagram @philspinelli
Ada seseorang yang bertanya pada saya: apa agama tokoh-tokoh rekaan fiksi saya.

Baiklah. Saya jelaskan. Tokoh-tokoh fiksi saya setidaknya diciptakan dengan sebuah identitas, nama, karakter, sifat dan lain-lain. Tokoh fiksi saya, saya memberinya pekerjaan jika mereka memang membutuhkannya. Atau jika mereka tidak cukup terampil untuk mengerjakan sesuatu, saya akan memberinya aktivitas apa saja yang membuat mereka sibuk dan tidak kesepian.

Tokoh-tokoh saya sangat cermat dalam menjalani hidupnya di dunia fiksi. Mereka seperti halnya kita; jatuh cinta, patah hati, terjebak dalam kubangan lumpur isap seperti babi sialan, atau digigit seekor anjing. Mereka juga memiliki cita-cita. Ingin membagun negara yang adil-makmur-beradab, ingin menembak mati pelaku koruptor, punya pendapat tentang pelakor, ingin berserikat dengan dengan calon-calon mertuanya, atau ibu-ibu arisan, tukang sayur, atau seorang penyihir jika mereka memang ada.

Tokoh-tokoh fiksi saya seperti manusia pada umumnya. Makan, berak, dan menyembunyikan pensil di dalam tas kecilnya ketika mereka berangkat ke sekolah.

Mereka memesan teh. Memendam rindu a la ABG dan mereka juga menginginkan sebutir pil tidur untuk membuatnya lebih baik.

Mereka lahir dari rahim seorang ibu. Memiliki laki-laki yang kuat sebagai Ayah, dan juga mewarisi keduanya, sisi maskulin dan feminim yang sama sekali samar jika kita tidak terlalu dekat dengannya.

Mereka menangis dan tertawa dan menyadari dengan begitu banyaknya emosi yang terlibat, mereka nampak seperti sosok nyata. Hanya saja mereka memerlukan tubuh untuk membuatnya merasa hidup. Di waktu-waktu tertentu mereka juga punya kesempatan untuk membenci dirinya sendiri. Dan kecenderungan ingin bahagia melampaui harapan mereka.

Namun apa pendapat mereka tentang agama?

Tokoh Caius, dia dikenal lucu dan santai. Namun sebenarnya dia orang yang serius, akan menjelaskannya padamu, "Agama?"

Ya.

"Aku tidak tahu apa agamaku. Tapi aku cukup yakin, aku terlalu tolol jika harus menyampaikan agamaku adalah perahu layar. Yang canggih. Dengan perlengkapan mesin robotik modern dan kukuh. Tak ada gunung es yang sanggup menumbangkanya. Tapi sayang, aku bukan tipe orang yang suka berlayar. Itu saja."

Jelas?

Jika belum, tokoh lain, perempuan imut nan menggemaskan bernama Leah juga akan menambahkan, "Agama bagiku adalah mesin telepati yang membuatku terhubung dengan Ibu. Ibuku tak pernah menghubungiku. Tapi aku selalu ingin berusaha menceritakan segala sesuatunya yang membuatku gelisah."

Ibu Leah meninggal sewaktu dia masih kecil.

Kemudian Bumi. Anak laki-laki doyan makan. Namun itu membuatnya nampak semakin manis karena pipinya gembung. Berpendapat, "Karena aku tukang makan. Agama bagiku sebuah piring. Ada banyak sekali tuhan di dunia ini. Agama menyajikan tuhan dengan cara berbeda. Dengan versi yang mirip namum hampir berbeda. Sejak kecil, ketika ayahku menjelaskan tentang kebaikan dan pahala dan tuhan, aku malah kepikiran ingin membelinya. Dimana aku bisa mendapatkannya? Kata Ayah, semakin kita berbuat bayak kebaikan pada sesama dan patuh kepada perintah tuhan, aku akan mendapatkan pahala yang setimpal bahkan lebih banyak. Lalu aku akan masuk surga. Di surga, kata Ayahku, tersedia banyak sekali makanan dan mainan. Dan gambaranku saat itu, surga itu pasti mirip restoran, yang juga merangkap toko mainan. Seperti apa ya bangunannya ya? Aku bertanya-tanya. O, ternyata itu tidak penting. Karena yang ingin kucari tahu adalah bagaimana caranya memesan makanan yang enak itu dan mainan bagus buatan surga itu? Apa kau punya nomornya?

"Ayahku menjawab tidak. Mendengar jawabanya tersebut aku pun langsung kecewa. Ini juga berlaku ketika aku makan babi panggang. Namun temanku bilang, babi itu tak boleh dimakan. Lalu buat apa? Menggonggong di depan rumah? Tidak katanya. Anjing juga tak boleh dimakan. Untuk kedua kalinya aku kecewa dengan jawaban yang lugas namun penuh kecaman tersebut. Aku tidak tahu apa yang menghalagi mereka untuk mengecamku makan makanan yang kusukai. Aku jadi takut, jangan-jangan semua makanan tak boleh dimakan. Padahal kan aku ini tukang makan? Memangnya apa yang salah? Badanku memang gemuk. Fakta ini tak bisa ditutup-tutupi. Tapi bagaimana kekecewaan? Aku tak mendapatkan nomor tuhan, dan tuhan entah kenapa melarangku makan-makanan bumi yang lezat dan gurih. Itu membuatku kecewa. Andai tuhan memberikan nomornya, aku pasti sudah menghubunginya untuk mendapatkan makanan yang halal yang dianjurkannya. Aku akan memesan kudapan makan malam ini sekarang juga."

Tidak tahu kemana arah percakapannya. Namun itulah komentar panjang lebar mengenai Agama dari tokoh saya bernama Bumi.

Tokoh-tokoh rekaan saya bukan hanya mereka bertiga. Ada banyak. Misalnya Kalani, Hio, tokoh yang masih berumur satu hari, lalu ada Harpa, dll. Mereka semua seperti manusia unggul sekaligus biasa saja. Namun mereka punya pendapat. Dan sebagai sosok manusia sungguhan, yang menciptakan mereka, saya sangat sangatlah menghargai pendapat masing-masing. Boleh dibilang itu sebuah bentuk perhatian saya kepada mereka karena selama ini mau bertahan menemani saya disaat sedih dan senang.

Akan tetapi jika kalian belum puas dengan jawaban yang diterangkan oleh mereka, kalian juga boleh kok, bertanya mengenai hal lainnya yang dirasa perlu dipertanyakan kepada mereka. Tentu saja melalui saya. Dan saya akan dengan senang hati menyampakan pesan kalian kepada mereka. Tenang, pertanyaan kalian pasti dijawab, kalau mereka tidak sibuk. Tapi saran saya, siapkan pertanyaan paling bagus. Tak usah tergesa-gesa ingin menyampikannya. Mereka abadi, jadi kalian punya banyak waktu untuk memikirkan kalimat itu.

Salam

Dari Caius, Leah, Bumi dan teman-temannya untukmu.

Ajibarang, 07 Januari 2018

Pertunjukan Terpisah

Ilustrasi @kulturtava
Kau tidak bersamaku,
saat aku mencukil-cukil kaleng
susu dengan obeng, dan
seorang anak kecil mengamuk
seperti banteng yang tak dapat
dikendalikan dengan tali kekang
-membanting truk kecil mainannya
hingga patah tiga bagian.

Kau tidak bersamaku,
untuk menjawab ketidaktahuan aku
atas nama alamat jalan yang
dibawa Pak Pos tersesat
dengan paket seberat
batu gunung.

Kau tidak bersamaku,
saat-malam-hujan-turun
selurus-lurusnya jatuh
sederas-deras itu, kau tidak bersamaku

saat tujuh
usia bohlam lampu kamar putus
dan Ibuku berteriak, "Terus!"
ketika aku memutar cagak antena
di samping rumah terbengong
-bengong mencari arah.

Kau tidak bersamamaku,
saat aku menatap ubin
memungut uang koin
di depan meja kasir
dan seorang perempuan berjilbab menggeser
sepatu talinya dengan kikuk.

Kau tidak bersamaku, untuk
malam suntuk, dan bayang
-bayang pohon bonsai menyerupai kuda poni terbang
bertanduk, menyerupai rambut
badut raksasa, menyerupaimu
secara fana
namun selembut nyata-nyatanya.

Kau tidak bersamaku, untuk
memberitahuku dunia ini begitu luas
dan indah,
meski tanpamu
dan kita, tak berperan bersama
satu panggung lagi

(2017)

Friday, January 5, 2018

O, Hari yang Panjang

Ilistrasi: instagram @oh_long_leslie

Hio berkata ada yang tak kumengerti. Semakin berusaha keras aku menjauhkan diri dengan orang lain, kesempatannya semakin besar ingin merasa dekat dengan mereka.

Sumpah, perutku sakit mendengar pernyataannya itu. Sebab kenyataannya sama sekali berlainan.

Hio menyelaku, "Kau boleh tertawa sepuasmu. Tapi kau akan segera minta maaf padaku jika yang kukatakan benar."

"Aku janji. Aku hidup untuk meminta maaf pada orang lain. Tapi jika kau berkeras bahwa dua orang berbeda bisa saling memahami satu sama lain, kukira kau salah."

"Temui saja dulu."

"Yah, aku akan menemuinya, sepuluh menit cukup untuk saling menyapa, berjabat tangan menyebutkan nama, dan pulang. Lalu dua minggu kemudian saling melupakan satu sama lain tanpa berniat menyingung."

"Kalani akan mengingatmu dalam daftar orang-orang yang perlu diingat."

"Semoga rencanamu berhasil."

"Itu rencana untukmu. Ah. Kenapa aku tergoda mengatakan: betapa tolol kau ini," Hio kesal.

"Kau benar. Tapi, aku tolol karena aku juga punya teman yang lumayan tolol."

"Terserah saja. Tapi kau harus menemuinya. Lima menit lagi dia tiba. Persiapkan dirimu."

"Jika rencana ini gagal," aku berkata, "jangan bilang aku tak menasehatimu."

Hio tidak menjawab. Dia mungkin begitu kesal sehingga dia kehilangan suaranya sendiri.

Aku menyambar jaket di balik pintu kamar, lalu meraih kunci sekuter matik milik Hio, dan langsung tancap gas ke taman kota. Lima belas menit kemudian aku sampai. Aku sengaja mengulur waktu dengan melambatkan laju sekuter matikku. Perempuan itu pasti belum datang. Aku mengira, dia pasti seperti kebanyakan orang yang suka bertindak ceroboh dan membuang-buang waktunya sendiri.

Dugaanku selalu benar. Dia memang belum tiba. Yah, bagaimana mungkin aku berharap dia sempurna, kalau ternyata dia sudah mengecewakanku sejak awal.

Aku berjalan ke arah warung biasa aku dan Hio memesan kopi. Dulu komentar pertamaku soal kopi di warung itu, adalah, kopi yang sama sekali tidak enak yang pernah kurasakan selama hidup di bumi, tapi Hio menasehatiku bahwa aku hanya belum terbiasa.

Hio benar. Yep. Tapi meskipum Hio benar, dalam kasus ini, kupikir tetap saja tidak mengubah penilaianku terhadap kopi luwak itu. Sebab ketika aku minum kopi di tempat lain, kopi luwak yang selalu diunggul-unggulkan oleh Hio, rangkingnya akan jauh merosot ke dasar, seolah-olah itu layak ia dapatkan.

Aku hanya belum terbiasa, pikiran itu menasehatiku lagi. Dan seringnya terulang-ulang. Kadang kala justru kata-kata itu keluar sendiri, namun dalam kasus yang berbeda.

Aku melangkah hampir sepuluh meter tiba di warung, ketika kedua mata kepalaku tak mempercayai apa yang dilihatnya. Warung kopi itu sepi. Warung kopi itu tidak buka. Mengapa bisa begitu? Mengapa bisa begini? Mengapa ada warung kopi yang tidak enak dan dia tidak buka? Apa yang dia pikirkan? Apa karena aku telah menyinggung perasaannya hingga dia buka namun tutup lebih awal? Pasti ada yang salah. Pasti ada yang tidak beres. Tapi apa?

Warung kopi itu benar-benar sepi. Taman kota masih terlalu pagi sehingga tak orang yang sanggup menjawab rasa penasaranku itu. Sehingga mau tidak mau, aku harus menjawabnya sendiri.

Mungkin ini, mungkin itu, dan mungkin tidak seperti itu. Aku duduk di bangku kayu panjang, dan mulai berspekulasi dengan otak monyetku yang liar dan pecicilan. Sampai kemudian seseorang menyentuh ujung bangku kayu yang kududuki dan dia duduk di sampingku. Aku dapat merasakan kehadiraannya seakan-akan aku ini tokoh supranatural yang dapat mengawasi pergerakan kecil elemen metafisika yang berada di sekitarku.

Tapi elemen itu ternyata sama sekali bukan hantu atau makhluk astral lainnya yang berkunjung ke warung kopi, yang menyediakan kopi luwak yang tidak enak ini. Dia seorang manusia, lengkap dengan ketidaksempurnaannya, dan dia duduk di sebelahku dengan mengenakan tubuh perempuan.

"Aku tahu, kau pasti kecewa kalau warung ini tidak buka? Hio harusnya memberitahumu sejak awal."

"O, kau Kalani?" Aku bertanya.

"Kau pasti Caius-caius itu kan? Anak laki-laki yang suka mendemontrasikan dirinya berusia 200 tahun itu?"

"Apa Hio yang bilang seperti itu padamu?"

"Yang konon lagi, percaya kalo perempuan itu cuma jenis hantu jadi-jadian yang diciptakan guna meneror hidup para laki-laki?"

"Hio terlalu banyak bicara."

"Yang merasa dirinya bukan bagian penting dari peradaban, meski bisa dibilang, suka menanam pohon di pot samping rumahnya?"

"Yang--," Kalani hendak mengoceh lagi.

Aku buru-buru menghentikannya sebelum dia berkata yang keterlaluan. "Kau tak boleh menilaiku hanya karena kau memperoleh cerita itu dari orang lain. Kau tak berhak menghakimiku."

"Oh, sekarang kau juga seorang, um," dia menghentikan ocehanya. "Baiklah. Kau mau minum kopi? Aku membawa kopi di dalam tasku."

Kalani sebenarnya, seperti yang Hio bilang, manis dan berpengetahuan luas dan paling penting ajaib. Dia selalu mempersiapkan segala sesuatunya dengan sempurna. Itu komentar Hio untuknya. Maka tak heran jika di dalam tasnya ada kopi. Semuanya senantiasa terukur dan mencukupi. Dia sempurna, hanya saja aku yakin, pasti ada celah sebagai sosoknya sebagai manusia biasa yang cenderung penuh ketidaksempurnaan. Tapi apa? Aku pasti tertidur ketika Hio sedang menceritakan kelemahan Kalani di hadapanku tadi malam.

Kalani mengeluarkan dua cangkir kopi kecil dan sebuah termos dari dalam tasnya. Lalu mulai membuat jarak untuk menaruh cangkir itu di tengah-tengah kami. Lantas dia menuang termos itu ke dalam cangkir kopi kecil.
"Ini minumlah," Dia mengulurkan cangkir itu ke arahku. Asap keluar dari dalam cangkir kopi, mencari suhu yang lebih dingin.

"Terimakasih." Aku mengucapkan.

Lantas Kalani juga menuang termos kopi untuk dirinya sendiri, dan meminumnya dengan bersemangat.

Sementara itu aku memandangnya dengan penuh ketakjuban. Sebenarnya ini lebih mirip perasaan takut ketimbang mengagumi. Sebab, aku terlalu takut jika kekagumanku itu berlebihan, justru akan membuatku jatuh cinta padanya. Aku takut mencintainya dan itu membuat peluangnya semakin besar untuk menyakitiku? Dan bagaimana caranya aku bisa membela diri?

Selama bertahun-tahun aku menjadi seorang suku Eskimo, yang membangun banteng di tengah gurun salju untuk bertahan hidup dari dunia luar yang dingin dan hendak menyakitiku. Aku tak pernah berkencan dengan seorang perempuan, aku menyukai kamar balok esku. Kupikir, aku akan baik-baik saja. Tapi masalahnya aku punya teman, dan dia terus membujukku bahwa dunia luar tidaklah sekejam yang kupikirkan.

Maka ketika aku berpikir meninggalkan kamar, tak ada yang bisa menjamin aku akan kembali dengan selamat. Tapi semoga saja ada pilihan yang lebih baik ketimbang kembali. Seseorang mengajakku bergabung, misalnya, untuk makan malam di rumahnya. Dan mengajakku menetap, tinggal bersama.

Aku menarik napas. Ketakutan demi ketakutan yang sebelumnya saling susul-menyusul kini berhenti di bagai di lampu merah. Aku berharap bisa menerobosnya, sehingga aku memiliki jarak panjang untuk meninggalkan mereka di belakangku.

"Hai," Kalani mengagetkanku. Dia sungguh mengagetkanku. "Kau melamun!"

Buru-buru aku mengelak. Sebab kalau tidak, itu sama saja membiarkan dia bertanya apa yang sedang kupikirkan. Dia tak boleh yang kupikirkan.

"Hio juga bilang kalau kau ini orang yang suka melamun."

"Dan kau percaya apa yang dikatakannya?"

"Tidak. Aku malah menyaksikannya sendiri."

"Oke. Apa lagi yang Hio katakan tentangku, tentang semua kelemahanku?"

Kalani meneguk cangkir kopinya lagi. "Itu bukan kelamahan, Caius!"

"Tapi?" tanyaku.

"Hanya hal yang perlu dimaklumi. Seperti saat kau jatuh sakit. Semua orang selalu jatuh sakit," Kalani menghembuskan napas. "Saat melamun. Semua orang butuh me-reset otaknya jika dirasa kerjanya kurang maksimal. Atau segalanya dalam keadaan kekacauan. Tapi akan menjadi salah kalau kau melamun sementara kau berada bersama orang lain. Karena dengan melakukannya kau akan dituduh memikirkan yang tidak-tidak."

"Mesum?" Aku menebak.

"Itu tidak berbahaya. Yang kejam justru kau memikirkan masa depan tapi kau sama sekali tidak mengangkat bokongmu dari tempat dudukmu."

Aku tertawa. Bukan karena dia tahu apa yang kupikirkan. Melainkan justru takut apa yang kupikirkan benar-benar terjadi. Meski pun aku tidak yakin berapa besar tingkat keakuratannya.

"Hio bilang, " Hio lagi, pikirku. "Kau orang baik-baik. Jadi tidak mengejutkan kalau kau berpikir orang-orang jahat akan melukaimu, hingga kau merasa masa depanmu terancam akannya. Tapi yang jadi pertimbangan, kupikir kau harus mulai percaya pada orang lain."

Aku bertanya-tanya. Mengapa selalu Hio yang dia sebutkan untuk membuka percakapan. Apa dia tidak kenal orang selain Hio, Hio yang lebih menarik dari Hio yang ia kenal. Kupikir ada banyak sekali Hio di dunia ini. Hiu saja ada banyak jenisnya di lautan. Pasti ada jenis lain dari Hio yang ada dipermukaan bumi ini. Aku jadi curiga kalau mereka ada hubungan khusus sehingga merasa perlu menyebutkan nama satu sama lain dalam setiap percakapan.

"Aku selalu ingin menaruh kepercayaanku kepada orang lain. Masalahnya mereka tak punya meja untuk tempatku meletakan cangkir," kataku sambil benar-benar menaruh cangkir kopi di bangku kayu panjang yang kududuki.

"Lagi pula aku punya satu pertanyaan penting, yang lebih mendesak dari sebuah upaya menaruh kepercayaan pada orang lain. Apa hubunganmu denganmu dengan Hio? Kau selalu membawa nama Hio dalam setiap kata-katamu?"

Kalani tertawa. Dia menutup mukanya dengan kedua telapak tangan. Seperti menyembunyikan sesuatu. Aku jadi penasaran apa yang sedang dia sembunyikan itu.

Kalani membuka mulut, "Hio," katanya tertahan. "Bukan siapa-siapa."

Tidak. Itu tidak benar. Pasti ada sesuatu di antara mereka yang selama ini tidak tercium olehku. Pasti ada. "Tapi... Lalu... Apa?"

Kalani menoleh ke arahku. Aku membalas. Untuk beberapa saat mata kami saling bertautan. Kalani meletakkan sebelah tangannya di atas tanganku. Untuk beberapa saat pula, masing-masing tangan kami saling bertumpuk. Ini bahaya pikirku. Aku tak pernah merasa suka jika posisiku berada di bawah. Aku akan dikendalikan orang lain. Aku akan diperbudaknya. Aku pasti akan diperbudaknya. Ini tak boleh terjadi.

Akan tetapi, kata-kata itu muncul lagi. Aku hanya belum terbiasa. Ya. Aku hanya belum terbiasa dikendalikan oleh orang lain. Dan pagi ini, aku merasa benar-benar sedang dikendalikan oleh orang lain karena ketika Kalani meletakan sebelah tangannya di atas tanganku, aku diam saja. Tak bisa menolak alih-alih membiarkannya berada di atasnya untuk beberapa saat sampai kupikir dia telah berhasil menghipnotisku.

Kalani terus memandangku. Aku memandang matanya. Yang cerlang dan bercahaya. Pipi Kalani sungguh mulus dan merah muda. Rambutnya tergerai di pundaknya. Hidungnya kecil. Alisnya sehitam jelaga dan dia memiliki kumis tipis di bawah hidungnya.

Aku tahu aku telah terhipnotis oleh kecantikannya. Oleh pengetahuannya membujuk orang lain untuk mendengar setiap kata-kata yang diucapkannya. Kini dari balik bola matanya, bisa kulihat diriku sendiri terjeba di sana. Diriku yang terperagkap di dalam cermin. Wajahnya memelas seperti memohon supaya dikeluarkan. Di dalam hati, aku menjawab: aku tidak tahu caranya.

Lalu samar-samar kudengar Kalani mengatakan, "Hio, temanku. Dia menyukaiku. Tapi aku tak menyukainya. Namun aku menerima usulannya: kalau dia tak cukup hebat untuk diriku, dia bilang, dia masih punya satu orang lagi yang lebih hebat darinya. Dan dia ingin aku mengenalmu."

Kepalaku berputar-putar mendengar penjelasan itu. Bukan karena Hio tidak memberi tahuku sejak awal. Tapi lebih kepada, dia telah menjebakku untuk keluar kamar dan merelakanku supaya dimangsa serigala salju. Mengapa dia bisa begitu jahat?

Dia tak bisa mendapatkan Kalani. Dan agar dia tak mengalami penderitaan patah hati sendiri. Dia mengumpankanku ke arah binatang predator itu. Aku bertanya-tanya. Apa sekatang aku sudah cukup tercabik-cabik?

Ya Tuhan. Aku ingin lari.

"Sama seperti yang sudah kau lakukan kepada sahabatku. Kau juga akan melakukan hal sama denganku bukan?"

Kalani mengangkat sebelah tangannya dari tanganku. Tapi lalu dia menaruh dua telapak tangannya tepat di kedua tanganku. Lalu dia mengejutkanku dengan mengatakan, "Namaku Kalani. Aku jatuh cinta denganmu lima menit lalu. Tapi tidak cukup jatuh kalau kau tidak menangkapku. Apa kau ingin menangkapku?"

Demi tuhan. Aku tidak mendengar kata-kata yang diucapkannya. Apa yang baru saja dia katakan? Aku terdiam begitu lama.

"Caius," serunya. "Aku membuatmu takut ya?"

"Caius?"

"Caius?"

"Caius?"

Aku tidak menjawab. Aku cuma terbengong-bengong ketika Kalani berkali-kali menyerukan namaku. Lalu seolah khawatir aku berubah sinting, dia bangkit dari tempat duduknya dan segera berlutut di hadapanku. Padahal satu-satunya yang kupikirkan, cuma, aku takut kalau kami tak bisa saling memahami.

O, hari yang panjang.

***
Ajibarang, 5 Januari 2018
© Guebaca.com
Maira Gall