Thursday, June 14, 2018

Selamat Berlebaran Bagimu, Bu!

Ilustrasi Dokumen pribadi

Selamat hari kemenangan untukmu. Lebaran kali ini adik kehilangan banyak uang, Bu, sementara saya sendiri cuma kehilangan sepasang sandal. Kamu tak pulang, jadi kami tak bisa cerita panjang-lebar soal urutan kejadiannya. Intinya kami sama-sama kehilangan. Tak apa. Jangan sedih. Katamu di dunia ini tak ada sesuatu yang benar-benar hilang, tapi cuma pindah tempat, sesuatu yang pergi, jika tidak melengkapi kita, maka ia akan melengkapi yang lainnya. Semoga saja itu benar, Bu.

Ramadan tahun ini telah usai. Saya yang salah. Saya mengaku tidak dapat memberikan apa-apa bagimu, Bu. Uang, pakaian, hingga pacar yang seharunya saya kenalkan padamu di hari indah ini, Bu. Saya memang tak punya apa-apa. Tolong jangan menyesal punya anak seperti saya. Maafkan saya.

Bagaimana kabar keluarga di Kalimantan, Bu? Sehat semua? Syukurlah. Meski saya jarang berdoa, tapi saya senantiasa berharap Ibu baik-baik saja. Cucu-cucumu juga baik. Semakin hari semakin lucu dan menggemaskan. Kabar Ayah, mantan suamimu, juga tak kalah hebat darimu. Kadang-kadang dia memang masih suka marah, tentang hal sepele namun agaknya orang rumah senang mengulang-ngulang kesalahan yang membuatnya cepat naik darah.

Besok pagi sudah tak lagi puasa, Bu. Cuma mengingatkan kalau makan opor jangan terlalu banyak, apalagi manisan. Tidak baik. Nanti diabetesmu kambuh dan itu akan bikin repot diri kamu sendiri. Belum pernah saya melihat kamu mengeluh sedemikian rupanya kecuali ketika sakitmu mulai kambuh. Jadi ingat baik-baik saran saya. Ya, memang apalah saya ini cuma bisa memberikan saran. Yang lain tidak. Kebahagiaan dekat, pertolongan saat kamu butuh seseorang membelikan obat, hingga bukan juga termasuk seorang anak yang dapat menjaminmu masuk ke surga dengan usaha yang saban hari kamu tunaikan di dunia untuk meraihnya.

Ibu, saya sendiri, jangankan membahagiakan orang lain, bahkan untuk membahagiakan diri sendiri pun, di hari indah ini, saya sering merasa kesulitan. Tak tahu caranya memulai. Seperti berangkat tidur, saya sulit sekali melakukannya hingga akhir-akhirnya jam tidur saya berantakan.

Sejak kecil, kamu tahu lah, saya ini jenis anak laki-laki yang tak menyukai kepura-puraan. Saya akan mengatakan apa yang saya pikirkan. Itulah sebabnya orang-orang menyukai saya. Tapi kini semuanya telah berubah, Bu. Saya berubah dari anak laki-laki polos jadi anak laki-laki yang cakap pura-pura. Semua yang saya lakukan cuma kepura-puraan. Seperti pemain komedi yang tertawa di muka umum tapi menangis di belakang layar. Saya kesepian setiap saat dan tak tahu cara menghentikannya.

Oh, kamu betul-betul boleh melupakan kata-kata itu. Bukankah telah saya katakan bahwa saya hanya pura-pura? Berhenti mencemaskan saya. Saya baik-baik saja.

Malam tadi saya keliling-keliling kota, masuk ke dalam toko satu, ke toko yang lainnya demi mencari sepasang sandal yang sama, yang mirip dengan sandal saya yang baru saja hilang. Tapi tidak ketemu. Saya jadi ingin marah pada diri sendiri, harusnya saya mengingat-ingat dimana pernah membayar sandal itu. Dimana saya pernah membelinya? Ingatan saya memang buruk. Lebih parah lagi, saya juga bukan orang hebat dalam soal marah-marah. Jadi saya putuskan untuk tidak jadi marah. Lagi pula saya sangat lelah.

Malam itu pun saya putuskan pulang. Saya tahu, kasur empuk di kamar saya sudah menanti tuannya sejak lama ia ditinggalkan.

Akhirnya saya pulang. Memarkir kendaraan di teras rumah, lalu langsung naik ke lantai atas. Memantikan lampu kamar.

Namun memang sial, Bu, rencana ingin tidur lebih awal yang telah saya rancang sepanjang perjalanan pulang ke rumah, gagal total. Tapi kabar baiknya, saya tak punya daya lagi untuk alasan marah. Saya segera mencari ide alternatif. Kamu tahu apa itu? Yah, saya makan kuaci di samping tempat tidur, yang kemarin sempat ditinggalkan Adik ketika ia mampir ke kamar saya. Pletak-pletak, seorang sendiri, memasukan satu per satu buah biji matahari ke dalam mulut dalam keadaan gelap.

Selamat berlebaran bagimu, Bu. Semoga ada hal-hal baru yang terus menguatmu hidup dan memaafkan orang lain. Terlebih memaafkan saya.

Anakmu

Thursday, May 24, 2018

Dasar Kecemasan Kita

Ilustrasi @kulturtava
Kelak aku tahu yang bisa kauingat dariku adalah kenangan kita. Rindu tidak. Karena hari-harimu hanya akan diisi oleh orang-orang yang kaucintai, juga seseorang yang terus berada di sampingmu, yang senantiasa buatmu tersenyum, meredam hasrat amarahmu saat kaumarah, menuntun jalanmu saat kau merasa tersesat, ia adalah satu-satunya orang yang sanggup menenangkan semua kecemasanmu dengan kesabarannya yang saleh dan penuh kasih.

Kau tidak lupa denganku. Sepenuhnya. Kehidupn seperti pesta murahan yang diadakan sehari semalam. Pesta sekejap kembang api yang meletus di langit yang cakap membikin kita khawatir: apakah akan ada kembang api berikutnya?

Aku mengatasi kecemasanku dengan kebisuan. Menciptakan ruang hujan buatanku sendiri di dalam kepala dan menghentikannya jika tiba-tiba merasa asing.

Saat-saat dulu kau mencintaiku apa yang kau cintai dari diriku? Sesuatu yang tak kau temukan dari orang lain? Tapi apakah itu?

Aku ingat, saat-saat kita masih bersama, aku sering merasakan kau seperti orang yang tersesat. Berada di sampingku tapi seolah jauh dari jangkauanku dan kau menggumam tak karuan tapi mulutnya tak mengatakan apa-apa.

Apa yang sudah dunia lakukan padamu? Makanan apa yang kau telan sampai aku tak bisa merasakannya? Aku ingin bertanya  padamu seperti itu tapi mungkin kau takkan menjawabnya. Kau tak ingin membaginya denganku.

Kau tidak membenciku. Kau hanya membenci dirimu sendiri yang tak sanggup protes akan sesuatu yang terjadi tak sesuai keinginanmu.

Di samping lemah, kau mencintaiku karena aku unggul. Tapi kau tak bisa menerimanya. Kau tak bisa memanfaatkannya. Kau hanya ingin memiliki dirimu sendiri.

Itu kesalahanku. Tapi kau tak perlu minta maaf. Semua kesalahanmu sudah kumaafkan.

Baiklah. Sepanjang ini, kurasa segalanya sudah terjawab. Tapi apakah ada yang terhapus dari kita?

Andi Wi

Friday, May 18, 2018

Ia yang Ingin Kau Miliki Sepenuhnya Tapi

Ilustrasi: @lupitadewief
Dulu bulan puasa begini kita lebih sering ketemu. Kau pagi-pagi betul ke masjid, tersenyum ketika kita berpapasan. Kau pulang kuliah siang hari dengan cara berjalanmu yang amat lambat dan mengkhawatirkan, seolah itulah cara terbaik mengulur waktu untuk kita bertemu di depan pintu rumahku.

Menjelang magrib, aku menyaksikanmu lemas seperti seorang yang kurang darah, aku, mengintipmu dari balik jendela kamarku kau memasak menyiapkan tajil untuk keluarga besarmu.

Menjelang hampir adzan magrib, kau repot-repot berubah jadi anak  baik dan lucu dan manis dan segalanya gambaran seorang sempurna pendamping hidup dunia akhirat demi mengirimku masakan terbaikmu untuk aku santap bagi puasaku.

Selepas magrib, kini kau benar-benar menyatakannya sebagai bidadari surga yang mengenakan mukena, yang menggulung sajadahnya di tangan kanannya untuk memenuhi panggilan isya dan taraweh.

Lantas rasanya saat kau melewatiku, aku ingin sekali menabrakmu dengan gerakan sengaja agar kekacauan kita terjadi lagi yang tentu saja membikin kita semakin akrab. Tapi sayang aku tak pernah berani bertindak sebesar itu. Tak pernah sekecil pun berani ingin melakukannya. Justru yang kupikirkan malah aku hanya akan mengotorimu.

Kemudian yang bisa kulakukan, aku memerhatikanmu dari jauh saat mengambil air wudhu meskipun itu artinya aku sudah suci. Aku melakukannya, membersihkan kaki dan tanganku berkali-kali banyaknya meskipun itu artinya sudah bersih dan suci dan mungkin saja kubik air masjid akan kuhabiskan sendiri kalau saja tak ada orang yang menghentikannya.

Dari matamu aku melihat surga
Jauh lebih dekat dari pada
yang kubayangkan
yang kitab bilang
Susah dicapai bagi pemalas
berandal, dan 
kucing yang beribadah dengan menggulungkan tubuhnya
di atas kain pel.

Ambilah darahku kalau kau mau 
Andai hari terlalu panas
Andai kau lemas, ambilah
Tapi jangan ambil semuanya
Karena semuanya belum kumiliki.

Sepulang taraweh saat semua orang meninggalkan barisan menuju pintu keluar, entah kenapa aku punya keinginan kuat ingin menyundulmu. Tapi maksudku bukan ke arah gawang pintu melainkan menjauhkanmu dari jalan keluar tersebut. Ingin kubilang padamu, "Jangan pulang dulu. Sebentar saja. Lima menit. Aku pengin natap kamu."

Itu memang konyol. Bagaimana caraku menahanmu? Aku harus cari alasan. Aku sudah tak sabar ingin menemukan alasannya. Bagaimana kalau kita buka bersama besok? Ah. Itu terlalu lama. Kenapa harus besok! Sekarang saja. Tapi rasanya sekarang kau pasti sudah buka puasa. Apa ini? Apa ini alasannya? Sekali lagi aku memang bukan jenis orang yang pawai membujuk orang lain agar sedetik bersamaku.

Dari ribuan jamaah yang keluar dari pintu masjid, aku tak pernah kesulitan menemukanmu. Kau gampang sekali kutemukan karena kau punya ciri khas dan detail yang mengagumkan. Kau mengenakan mukena putih dengan tali putih yang masih terikat di kepala dan tentu saja semua orang memang mengenakan mukena putih dan tali kepala putih. Tapi aku bersungguh-sungguh aku selalu menemukanmu di antara bidadari-bidadari itu. Aku seekor anjing pelacak handal yang dengan satu endusan dengan mudah mampu menemukan targetnya. 

Aku melatih semua indraku dengan telaten untuk giat menggambarkanmu dalam mimpi dan sadarku, dan kurasa takkan ada orang yang sanggup menyamaiku. Apa kau tahu?

Ya, tentu saja kau tidak tahu. Sebab bagaimana pun fakta inilah yang membuatku sedih. Sebab jika ada satu orang saja yang sanggup menyamaiku dan kemampuannya malah lebih baik dariku, mungkin inilah saatnya menyaksikanmu menikah lebaran kali ini.


Andi Wi

Ramadhan Kedua,

Ajibarang, 18 Mei 2018 

Friday, May 11, 2018

Harga Sebuah Masa Lalu

Ilustrasi: shuttershock

Aku tadi tiba-tiba memikirkanmu ketika menyebrang jalan. Tapi syukurlah aku bisa selamat. Seorang pengendara tiba-tiba kehilangan kendali. Lalu ia berhenti sebentar, memutar lehernya seperti burung hantu lalu memakiku, "Bangsat!"

Tapi kurasa dia masih sangat kesal. Kemudian untuk menyalurkan kekesalannya lagi, sebelum dia melajukan kendaraannya kembali, dia menambahkan, "Kalau jalan liat-liat ya, Sial!"

Aku tidak mengangguk. Tak juga menggeleng. Aku lelaki yang sudah cukup tua untuk membalas makian dengan makian.

Hari ini kau ulang tahun. Aku bingung ingin memberi kado apa. Tapi kurasa aku tak perlu memikirkannya karena kekasihmu pasti sudah memikirkan ini jauh hari sebelum aku sempat memikirkannya.

Dulu, saat menjelang ulang tahunmu dan aku bertanya padamu kau mau apa, kau selalu jawab: kau tak ingin apa-apa. Kau cuma ingin bersamaku di hari ulang tahunmu. Saat itu aku cuma tersenyum. Ternyata kebahagiaanmu mudah sekali. Dan saat kau ulang tahun, aku selalu menyempatkan diri untuk ada di sampingmu. Untuk mengabulkan permohonanmu yang simpel dan super murah itu.

Tapi waktu ternyata bukan hanya berlalu tapi melintas. Dan tak ada satu pun lampu merah yang mampu menghentikannya sampai kemudian pun kita juga memutuskan melanjutkan hidup masing-masing. Kau dengan orang yang kau cintai dan aku dengan diriku sendiri. Kau ke arah barat sementata aku ke arah timur. Kau terus melaju, begitu juga denganku. Tapi meski bumi ini bulat kita tak akan pernah bertemu lagi.

Lalu hari ini pun sampai. Di hari ulangmu, seperti dulu kau bilang hanya ingin bersamaku, aku kepikiran tak bisa mewujudkannya; kebahagiaanmu itu yang simpel dan super murah.

Pelajaran pertama. Ternyata apa yang kita yakini murah dan simpel akan jadi amat mahal jika itu melibat waktu.

Hari ini mungkin harga es cendol tiga ribu rupiah, tapi lima tahun ke depan nominal itu mungkin tak pernah sama lagi.

Benar. Sambil menunggu angkotku masuk ke jalurnya, aku memang sedang memesan segelas es cendol di pinggir jalan. Satu bulan lalu harganya masih tiga ribu rupiah, tapi hari ini harganya sudah melambung. Mungkin statistiknya akan terus merangkak sampai tingkat yang mengkhawatirkan.

Aku membayangkan di tahun 2090 harga cendol bisa mencapai satu juta rupiah. Harga yang menggiurkan untuk memulai buka usaha sendiri. Sungguh tolol apa yang sedang kupikirkan.

Tapi memangnya siapa yang tak suka makan es cendol siang panas terik begini? Dan mumpung masih bisa membelinya dengan harga murah, bagaimana kalau kita makan sebanyak-sebanyaknya? Sungguh sebanyak-banyaknya sampai kita mungkin saja bisa berubah diri jadi Hulk? Hulk. Monster bertubuh hijau itu. Kau tahu kan?

Ya, aku tahu itu memang tidak lucu. Karena kau selalu ingin sesuatu yang lucu 'kan? Begini. Aku punya ide. Bagaimana kalau kita memikirkan manusia sewaktu bayi sangat menggemaskannya tapi setelah pengalaman dan hari buruk yang dilaluinya mengubah hidupnya cenderung ke arah kaku dan berubah ke arah yang sama sekali  tak lucu lagi? Sumpah. Aku sama sekali tak sedang mengecohmu. Tapi itulah yang terjadi. Kalau saja aku tahu caranya kembali ke masa dan menjadi anak kecil lagi aku mungkin bisa membuatmu tertawa. Bahkan saat aku cuma terdiam dan mengantuk. Tapi sayang aku tidak tahu cara melakukannya.

Tapi sebenarnya aku sering memikirkan kalau "pintu lorong waktu" itu sekecil lubang sedotan es cendol. Jadi jika kita bisa mengecilkan diri sekecil cendol yang lentur kita mungkin bisa masuk ke dalamnya dan kemudian memilih waktu kita sendiri kemana kita ingin kembali.

Jika hal itu terjadi. Aku ingin memungkinkan kembali ke tahun dimana, saat-saat kau selalu melibatkanku dalam hidupmu. Tapi hal itu tak mungkin tercapai kan? Tak ada bayi lucu, tak lorong waktu, dan tak ada jalan ke masa lalu.

Pesanmu hari itu masih kuingat betul: Apa yang kita inginkan ternyata bukan yang kita butuhkan.

Semua orang mungkin ingin kembali ke masa lalu. Tapi mereka tak pernah benar-benar membutuhkannya, selama mereka sadar bahwa setiap hari adalah waktu yang indah untuk memulai.

Lilin sudah ditiup, dadu telah dilemparkan.

Oh. Baiklah. Itu angkutanku sudah datang. Aku harus segera naik dan mengakhiri lamunanku. Kau selamat menjalani hari baru ya. Pesanku: jangan merasa kesepian di tempat ramai. Aku tinggal tidur dulu.

Andi Wi 

Surat

Ilustrasi: @kulturtava

Apa kau sudah menulis surat untuk membalas surat-suratku? Penantian telah makan banyak korban di alam semesta ini, membunuh yang lemah, mencuri yang lengah, menggantikan yang tiada dan melakukan semua hal yang menyebabkan kesedihan manusia di muka bumi.

Apa kau sedang memutuskan membalas surat-suratku? Hari berlalu begitu cepat dalam satu embusan napas, tapi, berganti amat lama tanpa adanya rencana cadangan dan pilihan yang bisa kuperoleh.

Apa kau telah memikirkan kata-kata tepat untuk membalas surat-suratku? Jangan terlalu panjang. Aku tak ingin menyulitkanmu. Aku cuma ingin tahu bagaimana kau akan membalas surat-surat itu setelah sekian lama kau buatku bersabar.

Aku tak akan marah bila balasanmu tiba sedemikan terlambatnya, sebab mungkin saja suratmu mesti menempuh jarak milyaran tahun cahaya jauhnya untuk sampai di tanganku. Aku bersumpah takkan melaporkanmu ke polisi karena perbuatan tak menyenangkan telah membuat menanti seseorang tanpa kepastian dan tindakan seseorang yang mengambil keputusan.

Namun jika nanti telah kau putuskan membalas surat-suratku, balaslah segalanya dengan ringan, dengan semua kejujuranmu yang maha mengetahui sebab aku selalu ingin tahu apa yang tak kuketahui darimu.

Tapi jika nanti sudah kau putuskan membalas surat-suratku, dengan cara tak ingin membalas surat-suratku. Aku, sungguh sama sekali tak keberatan. Sebab dengan atau tanpa kedatangan suratmu tiba, aku akan masih tetap merasa utuh menantimu, hingga suatu waktu kau mungkin saja akan mengubahku menjadi surat itu sendiri.

Andi Wi

Ajibarang, 12 Mei 2018

*Editing terakhir

Thursday, May 3, 2018

Berhenti

Ilustrasi: dokpri
Ada perasaan tak sampai hati ingin saya sampaikan padamu. Saya menyerah. Saya sampai di sini saja.

Ternyata tak mudah menanti seseorang yang tak pernah tahu dirinya ditunggu. Saya capek berpura-pura baik-baik belaka,  padahal saya tidak.

Saya tak butuh waktu lagi, saya akan mengakhiri ini semua.

Saya tahu, kamu memang berhak membuat menanti seseorang seribu tahun, bahkan seumur hidupnya. Tapi saya mungkin bukan orang itu.

Sebelum segalanya semakin menjengkelkan, saya berhenti. Mungkin kamu harus mulai mencari seseorang lain lagi yang lebih sabar ketimbang saya, seseorang yang sama sekali bukan saya. 

Saya memang jenis orang yang tunduk pada peraturan tapi saya bukan jenis orang yang tunduk pada peraturan yang bahkan sama sekali tak pernah kita sepakati. Kamu tak menyebutkan peraturannya; kapan saya harus bertahan, mengapa saya tak boleh menyerah, berapa lama lagi saya harus menantimu.

Tapi sudah, hari ini saya putuskan, saya tak ikut permainanmu itu lagi.

Saya tak akan menantimu. Bahkan berharap berubah pikiran karena kamu seseorang yang layak ditunggu. Saya tak akan membujuk diri saya untuk menunggumu lagi. Saya tak akan menginspirasinya untuk setia. 

Tidak. Semuanya telah usai, bahkan seharusnya semuanya memang telah usai sejak awal saya putuskan menantimu, sejak perasaan saya jatuh cinta denganmu, sejak hanya diri saya yang jatuh, tapi kamu tak menolongku.

Pada titik ini, saya harus menolong diri saya sendiri, mereka butuh diselamatkan dari perasaan bodoh telah menghabiskan sisa hidupnya demi sesuatu yang tak bisa ia miliki.

Saya berhenti.

Kamu ingin melihat sesuatu yang tiba-tiba berhenti? Ini, kamu sedang menyaksikannya sendiri.

Andi Wi


Friday, April 27, 2018

Bayangan Kematian

Ilustrasi ig/andiwi

: Gao Xingjian

Kau tak lagi hidup dalam bayang-bayang orang lain dan tak lagi menganggapnya sebagai musuh khayalan. Kau meninggalkan bayangan itu, berhenti berkhayal dan melamunkan hal-hal aneh, dan kini terpuruk dalam kehampaan yang damai. Kau datang ke dunia dengan telanjang, tiada yang membutuhkanmu dan andaikan kau menginginkan sesuatu, kau tak akan mampu melakukannya. Satu-satunya rasa takutmu hanyalah pada maut yang datang tiba-tiba.

Kau ingat rasa takutmu pada maut berawal di masa kecil. Saat itu rasa takut itu lebih besar dari kini. Kesedihan sepele membuatmu begitu cemas, seolah-olah itu adalah penyakit tak terobati dan saat kau jatuh sakit kau akan mengigau ketakutan.

Kau telah bertahan melalui berbagai penyakit dan bencana yang kau lewati dengan kemujuran. Kehidupan itu sendiri adalah keajaiban yang tak bisa dijelaskan dan hidup di dalamnya adalah perwujudan sebuah keajaiban. Tak cukupkah bahwa sesosok tubuh yang sadar bisa merasakan sakit dan senang dalam hidup ini? Apalagi yang mesti dicari?

Ketakutanmu pada kematian muncul saat kau rapuh jiwa dan raga. Kau merasa sesak dan cemas, khawatir keburu mati sebelum sempat menghela napas berikutnya. Seolah-olah kau terlempar ke dasar jurang, perasaan keterpurukan ini sering muncul dalam mimpi-mimpi masa kecilmu dan kau akan terbangun dengan napas terengah-engah, ketakutan. Saat itu ibumu akan membawamuke rumah sakit, namun kini, sebuah permintaan dokter untuk melakukan pemeriksaan pun kau tunda berkali-kali.

Jelas sekali bagimu kehidupan berakhir dengan sendirinya dan saat akhir itu tiba rasa takutmu memudar, karena rasa takut itu sendiri adalah perwujudan kehidupan. Saat kehilangan kesadaran dan keinsyafan, hidup tiba-tiba berakhir tanpa menyisakan makna dan pemikiran.
Penderitaanmu adalah pencarian makna bagimu. Saat kau mulai membincangkan arti kesejatian hidup manusia dengan teman-teman masa mudamu, kau hidup dengan susah payah, seolah-olah kini kau telah menikmati segala kesemuan hidup dan kau menertawakan kesia-siaanmu dalam pencarian makna. Yang terbaik adalah mengalami keberadaan dan menjaganya.

Kau merasa melihat makna hidup dalam kehampaan, cahaya samar yang muncul dari antah berantah. Ia tak berdiri di tempat tertentu di atas bumi. Ia seperti dahan pohon tanpa bayangan, sementara ufuk yang memisahkan langit dan bumi telah lenyap. Atau, ia bagaikan seekor burung di sebuah tempat berselimut salju yang memandang berkeliling. Terkadang, ia menatap ke depan, menghunjam dalam pikiranmu, walaupun tak jelas benar apa yang ia renungi. Itu hanyalah isyarat tubuh sederhana, isyarat tubuh yang indah. Keberadaan pun senyatanya adalah sebuah isyarat tubuh, mencoba mencari rasa nyaman, merentangkan lengan, menekuk lutut, berbalik, memandang ke belakang di atas relung kesadaran. Dari situ ia mampu menggapai kebahagiaan sekejap. Tragedi, komedi, dan lelucon. Penghakiman atas keindahan hidup manusia yang berbeda bagi masing-masing orang, waktu, dan tempat. Perasaan pun mungkin seperti ini.

Kesedihan yang timbul di saat ini di waktu yang lain bisa jadi sebuah kekonyolan dan penyucian diri. Hanya isyarat tubuh yang tenang bisa memperpanjang hidup ini dan bersusah payah menyimpulkan misteri kekinian di saat kebebasan tercapai. Menyendiri, meneliti pendapat diri melalui kekalahan-kekalahan orang lain.

Kau tak tahu apa lagi yang akan dilakuan, apa pun yang bisa kau lakukan tak penting lagi. Jika kau ingin melakukan sesuatu, lakukanlah. Tapi tak kau lakukan pun tak jadi soal. Dan kau tak perlu ngotot melakukan sesuatu jika kau merasa lapar dan haus, lebih baik kau makan dan minum. Tentu saja kau bebas berpendapat, menafsir apapun, punya keinginan, dan bahkan marah, biarpun kau telah sampai pada usia di mana tenagamu tak cukup lagi untuk marah. Secara alamiah, kau bisa naik darah, namun tanpa gairah amarah. Perasaan dan inderamu tetap bekerja, namun tak seperti dulu. Tak akan ada lagi penyesalan. Penyesalan itu sia-sia dan merusak diri.

Bagimu hanyalah kehidupan yang bernilai. Kau telah melekat dan terserap padanya seolah-olah masih ada hal menakjubkanyang bisa kau temukan di dalamnya. Seolah-olah hanya kehidupan yang bisa membuatmu senang. Bukankah itu yang kau rasakan? (*)

Friday, April 20, 2018

Nasehat di Hari Ulang Tahunmu!

Ilustrasi: wow.tribunnews.com


Hari ini kau ulang tahun. Kau tak lupa kan, hari ini  kau ulang tahun? Fakta hari ini kau ulang tahun? Melupakan hari ulang tahun sendiri sungguh bukan lelucon buruk, tapi bukan berarti bisa disebut sebagai selera humor.

Semua orang saya rasa penting juga memperingati hari ulang tahunnya sendiri. Bukan untuk apa-apa atau supaya terlihat kebarat-baratan. Akan tetapi, apresiasilah dirimu itu karena bagaimana pun caranya, kau beruntung dan mujur karena bisa selamat sampai diusiamu yang sekarang. Banyak loh, orang-orang yang tak selamat di usia muda mereka. Sok Hok Gie meninggal di usia muda. Meski dia sering bilang manusia beruntung adalah manusia yang tidak dilahirkan, dan yang kedua adalah mereka yang mati muda. Tapi kau tahulah, itu cuma omong kosong. Buktinya banyak sekali kok orang di dunia ini yang  berdoa agar usia mereka di panjangkan. 

Meski tidak secara spesifik berapa usia yang mereka inginkan, tapi intinya mereka ingin tumbuh tua; mungkin juga masih banyak hal belum sempat mereka lunaskan selama masa muda mereka. Seperti pergi ke pantai sendiri, mendaki sendiri, atau mengunjungi dirinya sendiri yang terkenal paling dekat itu.

Dan omong-omong, apa saja yang telah kau lakukan selama ini, selama 26 tahun kau hidup dan bernapas? Dengan mati lebih dulu ketimbang kita, seekor kucing hanya mengajarkan kepada kita cara hidup yang menyakitkan. Tapi sebaiknya jangan dipikirkan. Lakukan yang terbaik, dan bermalas-malaslah selagi ada waktu.

Orang-orang punya pengertian sendiri tentang hidup. Pengertiannya sebegitu kompleks sampai saya kira untuk membahasnya butuh berak-rak buku untuk menyelesaikan pertanyaan sederhana tersebut.
Di antara semua kenyataan yang serba terbalik, apa pun yang terjadi, tolong jangan buat dirimu sendiri kesulitan. Itu akan membuatku sedih. Masa depanmu belum terbeli oleh siapa pun. Masa lalumu telah kau jual ke pabrik-pabrik, benda mati, seorang wanita, dan hobi dan banyak hal yang tak bisa kau tulisakan satu per satu.

Jangan menaruh kunci di tempat yang sulit ditemukan. Jangan memasukkan kunci sepeda motor ke lubangnya kalau kau tak tahu kemana akan beranjak. Jangan mengemasi barang-barangmu kalau nantinya kau juga akan pulang ke rumah.
Mestinya, kau yakin kau bukan seekor semut yang dapat mengangkat sepuluh kali lipat dari berat tubuhnya sendiri, tapi saya yakin, kau dapat mengatasi semua masalah di dunia ini. Tidak boleh berlebihan. Kalau kau tak sanggup mengatasi seluruhnya, paling tidak kau dapat mengatasi seperempatnya saja, juga tidak apa-apa.

Jangan selalu menganggap dunia ini arena pertarungan dan kau adalah atlet kelas bulu yang tak pernah naik tingkat. Sikap pesimismu itu, selain dapat melukai dirimu sendiri juga secara kenyataan dapat melukaiku. Jika kau ingat...
Ini bukan saatnya buat perubahan. Hari esok mungkin masih ada, tapi mimpimu tidak. Kau mungkin bisa bersikap lebih baik. Aku tahu rasanya memang tak mudah untuk bersikap tenang saat kau menemukan sesuatu terjadi.

Jangan berkecil hati. Itu yang ingin kukatakan padamu.  Hari ini kau ulang tahun. Karena hari ini kau ulang tahun, berbahagialah.

Hari ini saya tak punya kado. Tapi saya punya doa. Dan doa saya sama seperti doamu.

Senyum dong! :)


21 April 2018

Sunday, April 1, 2018

Delusional

Ilustrasi: @kulturtava

Nanti aku tahu
kau akan menelponku
dan bertanya, aku dimana?

Setelah dua tahun berpisah
Sudah barang tentu
kau ingin sekali
mengajukkan pertanyaan itu

Bukan hal aneh jika
Tiba-tiba kau menghubungiku
lagi

Kadang kala aku pun merasa
Punya satu kewajiban khusus
yang seolah lama sekali kutinggalkan

Dari tempatku berdiri
Segala sesuatunya berubah
Saat masih kecil
Aku hanya punya satu kekhawatiran khusus
: sepatu baruku menyentuh lumpur

Tapi kini aku menyimpan banyak sekali
rasa takut dalam benak dan mimpiku sendiri

Aku memikirkanmu ketika
Menyetir mobil
Kau yang mendorongku melamuni hal-hal musykil

Saat aku tergila-gila dengan diriku sendiri
Kau yang menyembuhkannya

Maret ini hujan tiba
April menyapunya dengan debu musim panas

Sering kudengar seseorang berteriak di telingaku,
"Kalau ternyata selama ini
kita salah
bagaimana?"

Tapi seperti bahasa asing
aku sulit menerjemahkannya
dalam bahasa ibuku.

Aku memikirkanmu lagi
Ketika tidur
Aku membayangkan
diriku seorang pasien yang dijenguk
masa lalu

Besok adalah hari terakhir puasaku
yang tinggal menunggu dioperasi

Aku tidak sangat khawatir
Tapi terlampau cemas
Ketika dibedah, seorang dokter
Ia tak menemukan kamu

Tapi boleh jadi malah
kamulah dokter itu

Aku setengah sadar
"Hallo?" katamu
Seperti seolah sedang mengangkat telepon
Aku membalas,
Tapi tidak terdengar membalas.
Mungkin saat itu aku sedang sekarat.

Kau berkata lagi,
"Kamu dari mana saja?
Aku mencarimu kemana-mana tau,
tapi kau entah dimana."

Aku di sini, balasku
singkat.

Kemudian situasinya berubah amat cepat
Jam dinding yang memutar ke arah kiri
ke sisi sebaiknya berputar ke arah sebaliknya lagi.

Aku sangat kaget. Ini membuatku sangat kaget
Aku berubah jadi dokter berjubah itu
dan kau
Sementara kau
menjelma pasien pucat
yang terbaring lemah
memanggil-manggil nama
semua orang
yang pernah kau cintai.

Andi Wi

Ajibarang, 1 April 2018

Sepiring Nasi Goreng dan Masa Depan

Ilustrasi: @kulturtava

"Kenapa sih kau selalu mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi?" 

Kami sudah berjalan sejauh kira-kira seratus meter untuk mencari makan. Leah memaksaku menemaninya makan di luar. Aku mengambil jaket di belakang pintu lalu memutuskan menemuinya. Sebenarnya aku tidak terlalu lapar. Tapi aku tak bisa menolak karena dia akan mentraktirku.

Tapi apa yang terjadi sekarang. Dia malah menantangku. "Memangnya kau tak pernah menjadi aku kan? Coba kau jadi aku. Kau pasti tahu rasanya apa kutakutkan!"

"Tidak masuk akal," timpalnya polos.

Kami tidak berpegangan tangan. Sepanjang jalan hanya mengobrol dan sesekali diam beberapa saat. Selanjutnya kami hanya mengobrol.

"Aku punya nasehat untukmu," ujarku, "Bagaimana kalau kau memikirkan pertanyaan mengapa kita harus berjalan sejauh ini kalau semua penjual nasi goreng, bukankah sama saja?" 

"Ya. Semua tukang nasi goreng memang saja tapi cita rasa tiap penjual berbeda. Wait. Tunggu dulu. Apa kau sedang berupaya menghubung-hubungkan pidato ini dengan yang baru saja kita bicarakan?"

"Nah, itu karena kau khawatir apa yang akan kau makan tidak enak. Sama sepertiku. Aku juga khawatir kalau masa depanku akan berubah jadi makanan yang tidak enak jika aku terpaksa tidak mengkhawatirkannya. Dan sama sepertimu, mungkin, aku juga harus berjalan sangat jauh terlebih dahulu untuk menemukan apa yang ingin kudapatkan. Mungkin aku harus khawatir dan takut akan semua hal yang akan menimpaku tanpa belas kasih." 

"Oh, kau sungguh orang yang rumit," tiba-tiba Leah menggandeng tanganku dan membawaku masuk ke kedai nasi goreng. 

Kami duduk di bangku kayu panjang dengan meja setinggi dada orang dewasa ketika tentu saja saat mereka sedang duduk. Saat aku memilih duduk di hadapannya, Leah segera memprotesku, "Duduklah di sampingku," keluhnya. Seolah dia benar-benar sedang mengeluh. 

Aku tanya, "Kenapa?" Aku memutar mataku. "Apa aku menghalangi pandanganmu ke tukang nasi goreng itu? Apa dia lebih tampan dariku?"

Aku tidak berniat menggodanya, tapi entah kenapa dia tertawa. Tertawa kecil. Cukup kecil sampai aku bersumpah dia begitu manis. 

Pelayan datang menghampiri kami. Leah segera memesan dua nasi goreng lengkap dengan potongan hati ayam dan pete dan dua gelas es jeruk yang sedikit manis. Kurasa Leah sudah sering ke tempat ini karena begitu dia mengatakan apa yang dia inginkan, si pelayan segera mengangguk otomatis seperti robot yang fasih dengan judul-judul pesanan pelanggannya. 

Kami duduk di bangku panjang itu. Suasannya sepi. Hanya ada kami berdua. Terang saja, ini sudah pukul tengah malam. 

Sepanjang menanti pesanan kami tiba, kami tak banyak bicara. Leah sibuk dengan gadgetnya dan dia tak mengajakku bicara. Ketika aku mengajaknya bicara dia hanya menjawabnya sepintas, "oh, masa sih, benarkah, menurutmu begitu, dan sebagainya," seakan-akan dia hanya sedang terlibat dalam adegan televisi dan dia selaku penonton yang santun cuma sanggup berkomemtar sesuai nalurinya yang malas. 

Karena merasa lelah memancing percakapan tidak menarik berharap menjadi menarik, akhirnya aku diam. 

Selama sepuluh menit kurang-lebih, yang kulakukan cuma menengok kanan-kiri seolah-olah sedang mencurigai gerakan seseorang. Tapi karena di tempat itu hanya ada kami berdua, dan Leah nampaknya bukan seorang yang layak dicurigai, yang kulakukan sekarang mungkin malah sedang mencurigai diriku sendiri. 

Tapi kurasa itu tidak mungkin. 

Aku mulai mendengar suara srok-srok wajan yang digesek-gesek begitu keras dengan sutilnya. Suaranya tidak mengganggu cuma terdengar aneh saja di telingaku. Keduanya seperti sedang bercakap-cakap, setelah lama tak bertemu, percakapan rahasia. Telingaku juga mulai mendengar sendok-sendok dan garpu-garpu di hadapan kami sudah saling berbisik, mungkin bergosip. Aku ingin ikut terlibat mendengarnya. Tapi seperti semua hal tentang gosip, suara itu terlalu lirih supaya sampai ke telingaku. Lalu kurasakan aku mendengar pelbagai bunyi-bunyian, gas yang dihidupkan, suara derit sandal, dan sebagainya. Tapi sebenernya aku tidak mendengarkan apa-apa.

Leah mengenakan kaos kerah abu-abu yang dilapisi sweter hitam. Sweter itu pemberianku diulang hari tahunnya yang ke-24. Dan tanpa alasan yang jelas dan disengaja, malam ini pun aku mengenakan jaket tebal hitam pemberiannya yang bertuliskan: Ini Payah! di sisi kiri atas saku.

Setiap tahun, kami memang sering bertukar kado ulang tahun begitu. Kadang kala karena ulang tahun Leah lebih dulu ketimbang ulang tahunku, aku merayakanku di ulang tahunnya supaya kami bisa sama-sama merayakannya. Atau terkadang, sebaliknya, Leah menunggu perayaan ulang tahunnya diulang tahunku. 

Kami berteman sejak lama. Kami memahaminya. Karena berteman lama dan sejak kecil dan saling memahami itu, aku jadi sering berpikir dalam waktu dekat ini, kami mungkin ingin memutuskan jadi kakak-beradik. Tapi kurasa itu juga tidak mungkin. Pertama, aku benci jika ada seorang lelaki yang mencoba mendekati Leah. Aku membenci lelaki itu sampai-sampai membuatku tak bisa tidur. Leah juga pernah berkata jika ada wanita yang sedang dekat denganku sebaiknya aku berkisah. 

Tak ada wanita yang dekat denganku. Satu-satunya wanita yang dekat denganku ya kamu, kataku padanya suatu kali. Tapi Leah tak percaya. 

Aku juga tak percaya jika hari ini aku harus menghadapi kenyataan bahwa kami tak akan sedekat ini lagi.  

Sebelumnya Leah mengatakan, "Kau tahu, Caius, mungkin ini hari terakhir kita bisa bersama. Besok ketika ijab-kabul itu dinyatakan, suamiku mungkin akan melarangku menemuimu lagi. Aku ingin jadi istri yang baik dan patuh. Jika benar dia menginginkan hal semacam itu dariku, aku mungkin tak bisa menolaknya. Ini mungkin akan sulit bagimu tapi lama-kelamaan kau akan terbiasa. Kau tahu maksudku kan?"

"Aku tahu maksudmu," jawabku saat itu. Lalu mengela napas, lalu menghirupnya lagi, lalu menghelanya lagi. Mungkin proses ini akan kulakukan sampai diriku sendiri lupa. 

Saat aktivitas panjang hela-embuskan napas itu terjadi sebenarnya aku sedang berupaya mengatasi pikirkanku, aku sedang melindungi pikiranku, aku sedang berupaya untuk melupakannya. Tapi ini benar-benar membuatku khawatir: apa yang akan kulakukan esok hari? Apa yang akan terjadi esok hari?

Pesanan kami tiba. Memikirkan masa depan dan proses panjang yang mungkin saja akan kualami mendatang, menguras isi perutku. Tiba-tiba aku berubah sangat lapar. Aku langsung menyantap hidangan di depanku.

Leah masih sibuk dengan gadget di tangannya.

Sambil memasukkan sesondok demi sesendok nasi goreng ke dalam mulut, aku berpikir: kalau saja masa depan itu hidangan seperti nasi goreng, mungkin aku ingin sekali melahapnya dalam satu piring. 


Andi Wi 

Ajibarang, 2 April 2018

Thursday, March 29, 2018

Merekam Kita

Hari ini aku sadar
aku tidak terlalu mencintaimu
ternyata
yang kulakukan cuma
mencintai diriku sendiri

hidup bahkan terlalu
terlambat
untuk menyadarinya

Jika kau mencintaiku
Akulah orang paling sial di dunia
Karena aku harus melengkapimu
Padahal aku bahkan tak bisa melengkapi diriku sendiri

Kita tak pernah dapat
benar-benar lengkap, itulah
Mengapa jatuh cinta selalu
membuat kita dalam masalah

Saat kau genggam tanganku
sekali lagi, apa yang kau pikirkan?

Aku memikirkan dirimu yang kesepian
Menyelam terlalu dasar sampai
tak sanggup membawamu kembali

Karanglah cerita masuk akal
Soal kebahagiaan sejati
Tentang takdir paling murni
cahaya total
Tentang kegelapan yang terlalu mencolok

Agar aku bisa paham
Kita ini apa? Dua orang murka
yang menyembuhkan dirinya
dengan jatuh cinta?

Andi Wi

Monday, March 26, 2018

Apa itu Kebahagiaan?

Ilustrasi: Dokumen Pribadi

Sekarang saya kehilangan selera membaca dan menulis dan hal-hal menyenangkan lainnya entah karena apa. Rasanya saya tak mungkin bisa terus-terusan menghibur diri dengan cara seperti itu. Saya ingin mencari alternatif lain tapi, saya tidak tahu cara melakukannya.

Dulu saya sering mudah bahagia dengan hal-hal kecil yang terjadi di sekitar saya. Tapi kali ini itu tak pernah berhasil.

Suatu kali, saya merekam suara sendiri: "Manusia hidup dan tidak bahagia" dan memutarnya berulang-ulang dengan volume kencang sampai saya yakin saya tertidur.

Saya memiliki keyakinan itu akan membantu saya menjadikan saya lebih tenang. Dan berhasil: Manusia memang hidup dan tidak bahagia. Saya telah mencapai kesimpulan bahwa untuk menjadi manusia kau tak perlu-perlu amat bahagia.

Akan tetapi saya sadar usaha semacam itu tak bertahan lama sampai kemudian saya sadar bahwa: di dunia ini ada orang hidup dan mereka bahagia. Pertanyaan singkat: bagaimana caranya mereka melakukannya?

Ada perasaan iri saat menyaksikan orang-orang di sekitar saya mudah tertawa dan bahagia.

Belum lama ini, saya melakukan ritual menyepi. Cuma sehari. Namun meskipun cuma sehari perasaan saya ketika selesai saya yakin pada saat itu saya merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Saya merasa terlahir kembali. Dengan semangat baru dan harapan-harapan baru. Dan.... Yah, ternyata saya lah yang paling tahu diri saya sendiri sebab sehari setelah saya merasa bayi paling suci yang baru terlahir ke bumi, tak lama kemudian, saya merasa langsung kotor dan kembali tidak bahagia.

Apa itu bahagia? Mengapa saya kembali tidak bahagia? Kehidupan apa yang layak dijalani oleh kita? Apakah selama ini kita nyaman dengan kehidupan yang kita jalani?

Pertanyaan itu muncul berulang-ulang seperti gema yang memantul-mantul saat suaramu tercebur di dalam sumur.

Saya tidak bahagia. Dalam bukunya Faith, Eric Winer pernah berkata, lebih terang dia berspekulasi bahwa: mungkin kita terlalu malas berjalan menghampiri kebahagiaan kita sendiri. Dan bisa jadi dia benar. Tapi bagaiamana tentang kata-kata yang menyatakan bahwa: kebahagiaan itu bukan ditemukan tapi diciptakan? Apa itu artinya kita tak perlu kemana-mana untuk mendapatkan kebahagiaan tersebut.

Ini membuat saya bingung. Seseorang menyatakan premis benar sementara sebaliknya yang seseorang di antaranya mengatakan premis itu salah. Karena dia punya premis sendiri yang lebih memikat.

Dalam film pendek yang pernah saya ciptakan bersama teman-teman Kawan Sebangku, saya pernah menulis begini: kita tak bisa buat kebahagiaan kita sendiri, kita harus menciptakannya bersama orang lain.

Saya merenung lama memikirkan kalimat tersebut dan hanya butuh waktu lima detik untuk mengutuki kalau itu adalah kalimat paling bodoh yang pernah saya dengar akhir-akhir ini.

Saya yang menulis naskah dan kenapa bisa saya memikirkan kalimat semacam itu. Bukankah seharusnya saya tahu bahwa kebahagiaan bukan berasal dari hasil kolaborasi yang janggal? Maksud saya, lihat orang yang lebih banyak menderita dibanding yang tidak dalam penyatuan spiritual macam pernikahan. Apa bukti semacam itu tidak cukup?

Saya pernah mengajukan pertanyaan berbeda kepada teman saya yang masing-masing telah menikah dan belum menikah.

"Kenapa memutuskan menikah? Apa itu tidak membuatmu menderita? Kau harus mengurus anak-anakmu dan menyedikan stok beras untuk mereka, jaminan kesehatan, biaya pendidikan, dan yang paling parah, jika kau punya waktu berlibur, kau harus mengajaknya berjalan-jalan sore seolah-olah kau memiliki seekor anjing. Kau tahu, jika kau punya anjing, kau harus mengajaknya berjalan-jalan sore hari."

Teman saya yang menikah menjawab, "Aku tahu aku capek dan menderita. Tapi entah kenapa aku merasa penting, kalau mereka layak mendapatkannya." 

Jadi di sini sudah jelas.

Pertanyaan lain, bagi teman saya yang belum menikah. "Kenapa kau belum menikah?"

Dia jawab, "Saya tahu semua orang seusiaku -usianya 26 tahun,  tiba-tiba ingin menikah. Tapi entahlah, aku belum tertarik dengan ide semacam itu. Kau tahu, aku selalu deg-deg an, jika harus menyempatkan diri memikirkan masa depan. Jika bisa aku ingin mati tanpa penderitaan dan tidak merepotkan sekitarku dan dikubur dengan layak. Yang lainnya bisa menyusul. Aku tak ingin bunga mengotori tanah pemakamanku, aku tak ingin orang-orang berduka dengan cara seperti itu. Bunga lebih baik di kebun. Bukan di tanah pemakaman."

***

Saya bersumpah, ini bukan pertama kalinya saya menulis tentang kebahagiaan. Tapi saya rasa ini penting, saya tak bisa seakan-akan menolaknya alih-alih saya sanggup menghindari pertanyaan dasar tersebut yang membelenggu kepala semua orang.

Yang ingin saya katakan: andai saja ada atlas kebahagiaan yang bisa ditunjuk oleh semua jari orang, termasuk saya, saya mungkin juga berniat ingin berkemas secepat mungkin dan menghampiri tanah yang menjanjikan kebahagiaan tersebut. Kalau saja ada. Kalau saja ada.

Agama dalam praktiknya, inilah yang ditunggu-tunggu, senantiasa menjanjikan kebahgiaan nyata, tanah murni yang diyakini diciptakan sebagai simbol abadi kebahagiaan bagi semesta. Tempat itu bernama: surga.

Tapi untuk mencapainya rasanya terlampau sulit karena sebaiknya para pencari harus mati lebih dulu jika ingin sampai.

Agama melarang pengkutnya yang tak sabaran seperti Anda untuk mati bunuh diri. Jika dilakukan maka Anda didisfikualisasi. Saya tak percaya kita tak punya pilihan. Selain kita menjalani hidup ini dengan tidak bahagia.

 Apa yang Anda pikirkan?
Apa yang kau pikirkan?

(*)

Andi Wi

Ajibarang, 26 Maret 2018

Sunday, March 4, 2018

Kesepakatan Kesempatan

shuttershock

Kau ingin masuk lagi ke dalam tubuh panasku dan ingin tinggal lebih lama di sana tapi, jangan kecewa, jika tubuhku pakaian, gaun, sepatu, jam tangan, pernak-pernik murahan yang hanya akan membuatmu nampak norak dan memalukan ketika mengenakannya.

Kau ingin masuk lagi ke dalam tubuh panasku dan ingin tinggal di dalamnya sebagai tukang ledeng, petani, ahli reparasi dan koki amatir kecil tapi, maaf, tubuhku sudah sanggup menggurus dirinya sendiri. Seperti sejak lama ia terlatih menjadi manusia lengkap atas kutukan dan karunianya.

Kau ingin masuk lagi ke dalam tubuh panasku tapi, aku menolak jika hanya sementara karena aku tak sedang mencari penghuni baru yang sewaktu-waktu dapat merasa bersalah dan mengusir diri sendirinya sendiri dari dalam rumah.

Kau ingin masuk lagi ke dalam tubuh panasku dan ingin tinggal lebih lama di sana. Aku tidak keberatan. Tapi jika bisa jadilah penghuni yang baik dan ramah. Tak hanya menjadi tamu, aku bahkan sanggup menjadikanmu merasa sedang berada di rumahmu sendiri.

Andi Wi

Ajibarang, 1 Febuari 2018

Dua Kata Kerja dalam Satu Kejadian

@andiwi_andiwi

Dia sudah melupakanku. Aku pikir tidak apa-apa. Juga saat pertama kali dia berkata dia mencintaiku kupikir aku layak menerimanya. Kini aku tak bisa mendorong diri sendiri untuk melupakannya, tapi aku akan melupakannya. Dia telah menginspirasi dirinya sendiri untuk melupakanku. Sekarang usaha kami hanya akan bergantung bagaimana kami mencobanya.

Aku biasa berlari di mimpiku sendiri. Dia bahkan sering bercerita: dia ketakutakan, di mimpinya, dia mengendarai sepeda dengan mundur.

Setiap kali alasan bisa saja dibuat-buat namun dengan modal asumsi berikut, kami yakin, kami tak akan bertemu lagi untuk waktu yang lama.

Kadang-kadang dia menelponku di (suatu) tengah malam yang dingin hanya untuk bertanya: aku dimana?
Jika kamu punya kekasih di masa lalu dan dia tiba-tiba bertanya demikian, ingat kata-kataku: dia tidak merindukanmu. Dia hanya ingin tahu kamu dimana, dengan nada eksplisit yang terdengar jelas supaya kamu menjawab pertanyaan: apakah kamu bahagia tanpanya selama ini? Apa saja yang kamu lakukan selama kalian berpisah?

Selama berpisah dengan dia, aku melakukan banyak hal yang sebelumnya tak terpikirkan olehku akan melakukannya. Aku mengunjungi kebun bintang sendirian, aku bermain lotre, aku bersimpati dengam teman lamaku yang ditinggalkan pacar sepuluh tahunnya. Aku membuat kopi dan meminumnya sendirian. Aku pergi ke perpustakaan sendirian. Aku duduk di angkot bersama ibu-ibu berisik namun merasa sendirian. Aku memanjat pohon sendirian. Aku berkelahi dengan dua pemuda mabuk sendirian. Aku dikeroyok dua ekor anjing gila sendirian, aku muncul dari balik pintu bioskop sendirian, aku mengusulkan pendapat sendiri dan mendebatnya sendiri, aku berpisah dengan penjual cilok yang ramah, aku pergi ke dokter gigi sendirian. Aku menyalakan lilin keberuntunganku sendiri dan meniupnya sendirian.

Saat-saat seperti itu, aku sering menelungkupkan tanganku di depan dada lalu mengatakan pada diri sendiri: aku berdoa, aku berdoa, sebanyak lima kali tanpa menyebutkan keinginanku. Lalu aku berkata lagi: tidak apa-apa. Memang tidak apa-apa. Tapi setelah itu terjadi aku merasa seakan-akan sedang dikepung perasaan-perasaan purba yang diwariskan leluhurku yang kini dikenal dengan nama: kesepian.

Dia sudah melupakanku. Kupikir tidak apa-apa. Aku mungkin cuma akan merasa kesepian tanpanya. Tapi itu bukan masalah. Melupakan dan kesepian adalah kata kerja. Kupikir aku bisa melakukan dua hal sekaligus.

Andi Wi

Ajibarang, 4 Maret 2018

Thursday, March 1, 2018

Dari

@kulturtava
Kalau aku tak pernah bisa
Aku tak ingin menghitung waktunya
Berapa lama aku ingin mencintaimu
Karena kamu tak pernah bisa!

Atau
Aku mencintaimu dari,
yang tak berakhir hingga
yang tak bisa kuubah.

Andi Wi

Perkara Kamu dan Pelukan Itu

@kulturtava

sejak dulu aku sudah curiga
kau laut yang tak bisa tumpah
dasar gelombang yang tak ingin
membuatku tenggelam
magenta mahir memulihkan warna mata ikan-ikan
camar yang tak lagi suka
menyamar kesedihan gadis kecil
sejak mula lahir, akulah paling pintar menyaru
kugubah pasir-pasir,
cangkang sepatu, atau apa saja
yang bisa menyerupaimu
seorang yang
alasan satu-satunya aku
berguru pada kepiting sepertimu
dari hidup yang sebentar
namun terus-terusan
membuatku miring dan memar
dunia paling ganas, kekasih, oh
menyimpan luka perih sia-sia
di tubuh anak petani sepertiku
yang tak pernah bisa
mengajari
batang kelapa, anak-anak angin
menyanyi atau bersiul
di tepi pantai
ketika tak ada yang sama
caramu menyeka dan merangkul
paling hangat.

Mari Bertaruh, Mari Ambil Lotremu

@kulturtava

Hidup ini tidak mengejutkan. Sekalipun kita menaruh petasan menyalakannya di cuping telinga sendiri, itu masih sama sekali tidak mengejutkan. Tapi mengagetkan. Selebihnya proses alami mendengar perbagai bebunyian bukan lagi hal yang pantas untuk diperdebatkan.

Orang-orang berbunyi. Bahkan saat diri mereka tertidur, melupakan dirinya sesaat. Dunia ini aneh. Selalu ada yang terlelap saat yang lain terjaga.

Hidup ini sendiri adalah rasa simpati, belas kasihan. Jika bukan untuk diri sendiri, kita akan melakukannya untuk orang lain. Kita akan memproyeksikan diri kita sebagai pohon yang menginginkan bayangan sempurna saat cahaya menimpanya.

Meski terkadang bayangan yang terjadi tidak sesuai dengan bayangan yang kita harapkan. Bayangan yang terlalu buruk untuk melekat pada tubuh kita. Namun sejatinya sebuah pohon, kita tak bisa berbuat apa-apa.

Kita hanya berdiri. Menikmati angin sepoi yang melintas. Sesekali agak terganggu dengan siulan burung yang seenaknya hinggap, dan meninggalkan jejak kotorannya di muka kita. Lebih dalam lagi, di hati kita.

Kita selalu menginginkan cerita yang lebih lengkap. Tapi seperti semua cerita, kau dan aku, selalu penasaran apa yang terjadi setelah misalnya ciuman itu di keningkan? Apa yang terjadi setelah sepasang kekasih hidup berdampingan bersama-sama di sebuah rumah mewah, gubuk, atau tempat yang memiliki fantastis macam di negeri dongeng. Apa yang terjadi setelah kita mencapai bahagia bersama orang kita cintai? Apa cuma begini saja?

Kita memang orang yang melelahkan. Kita memang jenis orang yang mudah lelah.

Dan mestinya setelah kita berhasil membaca kalimat pertama, "Kaca ini mudah lepas. Tolong jangan ditekan!" Apakah itu artinya kita selamat dari resiko?

Sudah sering kita menyaksikan seekor burung bersiul. Membuat sarang. Berciuman di atas ranting. Bercinta tepat di depan mata kepala kita sendiri, seperti di film-film porno yang menjijikan. Lalu kita melihat anak-anak mereka tumbuh dan berpikir dengan cara menjijikan. Kita menyaksikan kejadian itu semua dengan mata kepala kita sendiri, seperti sedang mengawasinya dari balik layar televisi.

Kau boleh memegang teguh kalimat: orang yang mengalahkanmu hari ini, tak akan bisa mengalahkanmu esok hari. Tapi percayalah, itu kalimat yang membosankan. Mereka bahkan sanggup mengalahkanmu yang satu kali pun kau tak punya kesempatan untuk membalasnya.

Tapi jangan terkejut. Sebab kau bukan satu-satunya orang yang tak bisa mengalahkan bandar itu.

Andi Wi

Wednesday, February 28, 2018

Cara Lain Mencintaimu

Ilustrasi: shuttershock

Puisi yang kutulis mungkin
tak pernah bisa memenjarankanmu
yang licin
dan gingsul itu

dengan cara paling lelap
kubebaskan engkau
bagai suasana lain
yang terperangkap uap jendela
sedikit gerimis,
gerobak sayur langganan ibu,
atau raungan asap kendaraan di hari minggu

kubayangkan engkau lampu jalan
setangah mati
menunduki sisa-sisa
bayang-bayangmu sendiri

menjelang pagi
aku mengaku sehelai daun yang
tumpah di antara kaki-kakimu yang
tak pernah menemukan titik balik itu.

lantas engkau yang liberal
kubebaskan sekali
menyerap seluruh kenyal aku
bagai gombal membersihkan air
kencing, kemenakan yang baru
belajar sesuatu sederhana
yang siap engkau pesingkan
dengan cara yang
paling tidak sederhana.

kini, berbahagialah
demi dirimu sendiri sebab
ada aku di sini
tentang seorang yang kaucintai
karena entah untuk apa
kau sendiri mencintainya
dengan sempat, hampir
tergesa-gesa, dia mungkin
akan datang sedikit terlambat.

Tapi berbahagialah
sebab kau masih
dan akan tetap seperti itu
sejak mula dilahirkan
untuk mengganti kata menunggu.

05 April 2017

Sunday, February 25, 2018

Pertanyaan Menakutkan yang Tak Pernah Ingin Dipertanyakan

@kulturtava

Ada satu pertanyaan penting yang tak pernah kupikirkan sebelumnya. Pertanyaan random yang jika dijadikan bahan obrolan sesama orang dewasa akan terasa sangat membosankannya.

Apa itu cinta?

Aku tak pernah memikirkan kata-kata itu karena bagiku sebelumnya tak terpikirkan akan mengajukan pertanyaan semacam itu. Kupikir bahkan aku tak pernah berpikir bahwa pertanyaan itu layak dijadikan sebuah pertanyaan.

Aku punya tujuh cara untuk membahagiakan diri sendiri. Aku punya tujuh tempat yang bisa kukunjungi jika masyarakat tak menerimaku lagi. Aku punya tujuh catatan dan sedang memikirkan menambahkannya jika dalam waktu dekat ini tak bisa tidur di bawah pukul dua pagi.

Sedangkan cinta? Aku bersumpah aku lebih suka hal-hal teoritis sesuai pengertiannya secara umum. Cinta adalah reaksi kimia. Cinta adalah sama halnya seperti perasaan panik yang kapan saja bisa muncul. Saat bos kita tanpa pemberitahuan lebih dulu minta laporan pajak padahal kita adalah tukang kebun. Atau perasaan tikus yang tak pernah menyadari jebakan di depannya.

Kadang-kadang aku memang mengatakan pada seseorang aku mencintainya begitu dalam. Namun begitu selesai mengatakannya sedikit banyak aku merasa bersalah.

Bukan karena terlalu banyak menggunakan kata-kata penyair. Akan tetapi terlalu takut mengahadapi pertanyaan susulan seperti: Memangnya apa sih yang kamu cintai dari diriku?

Aku pasti tak mungkin sanggup menjelaskannya, apa yang kusukai darinya. Dan saat itulah, perasaan tiba-tiba ingin sekali berubah jadi gozila itu pun muncul kembali. Gozila yang tanpa alasan yang jelas ingin mengamuk di tengah-tengah penduduk kota. Gozila yang menyemburkan api dari balik pangkal lidahnya.

Temanku mencintai istrinya. Aku tidak bercanda. Tapi yang membuatku heran, dia tak pernah ingin menjadi gozila. Dia tetap ingin jadi manusia meski kubilang berkali-kali jadi manusia itu sungguh sulit dan betul-betul bukan pilihan baik. Tapi sangat disayangkan. Temanku sangat keras kepala.

Manusia adalah robot paling canggih yang pernah terciptakan. Mereka begitu rumit sampai diri mereka sendiri sering tersesat dalam program yang mereka buat  sendiri. Dan apa itu cinta? Setiap robot punya jawaban masing-masing.

Aku sering menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, melihat: sebuah robot yang menunduk begitu rendah kepada robot lain. Sampai tingkat yang mengkhawatirkan bahkan kupikir mereka lebih mirip seorang figuran budak yang tak dibayar seumur hidup.

Untuk menyaksikan hal semacam itu, aku tahu, aku butuh banyak keberanian. Sebab rasanya sungguh menyakitkan membayangkan apabila aku akan jadi orang berikutnya yang jadi budak tersebut. Memikirkannya membuatku ingin menangis.

Untuk cinta itu sendiri, cinta yang dirasakan bersama-sama, mengapa kita membalasnya dengan cara yang berbeda?

Jika ini sama saja bagiku, rasanya aku tak ingin memetik bunga untuk orang lain.


Andi Wi

Ajibarang, 26 Febuari 2018

Saturday, February 24, 2018

Tutorial Menyelamatkan Diri dari Kejadian Masa Lalu

@kulturtava

Bagaimana cara mencintai orang lain yang kita cintai dan tak ingin menyakitinya? 
Jawab: Dengan meninggalkannya.

Ini adalah malam minggu. Saya bahkan tidak tahu di luar hujan deras dan yang paling menjengkelkan, saya harus hujan-hujanan untuk membeli satu pil obat sakit kepala dan harus mendengar penjaga toko berkali-kali mengingatkan, "Ini malam minggu, lho!"

Ini memang malam minggu. 
Beberapa menit setelah berhasil menelan obat sakit kepala, saya berencana langsung tidur. Saya merebahkan tubuh di atas kasur. Lalu memejamkan mata sampai kemudian mencontoh perilaku budhis: mengosongkan pikiran yang tidak perlu dipikirkan yang sebelumnya terisi penuh. Jadwal-jadwal, suara-suara orang tertawa, benda mati yang dihadirkan keberadaannya untuk menyindir saya, dan sebagainya dan sebagainya. Saya menyingkirkan mereka semua. Dan alangkah, bom, saya tidak tidak berhasil melakukannya.
Saya menebak, mungkin ini terjadi karena saya terlalu banyak menyingkirkan "dan sebagainya " tersebut. Karena dengan melakukannya, itu berarti saya mesti perlu waktu lebih banyak untuk menyingkirkan mereka semua. Dan yang harus saya akui, saya tidak bisa sesabar itu.

Ini malam minggu. Dan rencana saya tidur lebih awal, gagal. Saya terbangun. Saya berjalan menuju dapur dan membuat secangkir teh untuk diri saya sendiri. Terus terang sebetulnya saya bahkan berharap ketika saya melakukannya, saya sedang tidur. Saya tidur sambil berjalan dan membuat teh. Akan sangat menyenangkan jika hal itu benar terjadi. Akan tetapi saya sadar bahwa itu tidaklah mungkin.

Air mancur ajaib, yang dapat mengabulkan semua permohonan, itu juga tidak mungkin ada. 

Tapi saya percaya. Tiap kali manusia mengalami perpisahan, mereka akan jauh terlihat sepuluh tahun lebih tua dari pada seharusnya. Dan malam ini, entah malam minggu yang keberapa, kami mesti berpisah. Saya berpisah dengan banyak malam minggu, padahal saya bahkan sering merasa baru berusia 17 tahun ketika pacar saya mengatakan kami sudah tak lagi cocok. Rasanya saya tidak melewati apa-apa hingga saya sekarang berusia 27 tahun, kecuali perpisahan itu sendiri. 

Saya cuma, kadang-kadang, seperti kebanyakan orang. Merasa amat takut, apa yang harus mereka katakan, jika mereka bertemu dengan dirinya sendiri.

Saya tak pernah menemui diri saya sendiri. Kami memang bersama-sama selama lebih dua dasawarsa. Tapi tak pernah cukup tangguh untuk menemuinya. Untuk berani sekedar menyapanya, "Selamat pagi." Atau kata-kata menyenangkan yang ingin didengar semua orang, "Jaga dirimu baik-baik." Tapi kami sepenuhnya tidak berselisih atau bermusuhan. Kami mungkin lebih mirip kakak-beradik yang ingin saling menunjukkan kepeduliannya tapi tak pernah tahu cara melakukannya.

Ini adalah malam minggu. Saya membuka ponsel dan tanpa alasan yang jelas, saya memutuskan menonton vidio tutorial cara menyelamatkan diri dari gigitan ular berbisa. Saya tidak tahu kenapa tertarik menontonnya. Satu-satunya yang saya pikirkan adalah, jika saya keluar rumah, saya khawatir kecerobohan saya dapat melukai diri sendiri. Menginjak seekor ular yang sedang melata misalnya. Jadi saya merasa perlu tahu langkah-langkah apa saja yang harus saya ambil apabila terlanjur membuat marah seekor ular. Meskipun itu artinya saya tak sengaja menginjak ekornya, meskipun juga saya berkali-kali minta maaf padanya.

Dunia yang kejam. Bagaimana cara terbaik menghukum diri sendiri?

Ini malam minggu. Entah, tiba-tiba saja saya ingat kata-kata yang pernah dilontarkan begitu saja oleh mantan pacar saya kepada saya sepuluh tahun lalu, "Jika saja aku tahu kamu masa depanku, sungguh, dengan senang hati aku akan melepasmu."

Oh, ini malam minggu. Dan saya juga ingin sekali tahu apa yang akan terjadi di masa depan saya. (*)


Ajibarang, 24 Febuari 2018

Tuesday, February 13, 2018

Pintu Keluar Sebelah Sana!

@drawnbysam

Saudara San yang baik, pintu keluar sebelah sana! Kepala saya bukan gurun yang menyesatkan atau rumah yang  nyaman buat Saudara tinggal. Kepala saya toilet umum, siapa saja bisa masuk, dan tolong, bersihkan semua kekacuan yang telah Saudara timbulkan setelah singgah sepuluh menit di dalamya.

Bukan mengusir atau bersikap kasar pada tamu terhormat seperti Saudara yang datang jauh-jauh entah dari mana. Kepala saya, selalu menerima yang dari mana saja. Kemungkinan-kemungkinan, hari sial, dan pengikutnya sering masuk dan ingin tinggal lebih lama.

Saudara San yang baik. Tinggallah. Saya ijinkan. Tak perlu bayar. Tapi jangan lama-lama. Sebab kepala saya tidak cukup besar untuk menampung segalanya jika Saudara tinggal terus seperti pertapa. Saya ingatkan, kepala saya jamban, bukan gua, atau rumah ibadah atau seperti tempat harapan Saudara. Lagi pula, apa yang Saudara inginkan dari kepala saya? Sudah tidak ada. Sudah tidak ada.

Toilet ini memang dulunya adalah bangunan megah. Persisnya sebuah rumah. Semua kebahagiaan tercipta di sana. Seseorang menepatinya, bagus sekali cara dia merawat. Lantai yang selalu disapu, halaman depan yang dipenuhi bunga-bunga, pagar bambu, kicau burung pipit pagi hari yang ceria, dan senyum. Saya pikir tempat itulah surga; surga yang itu, yang di ayat-ayat kitab suci, tempat banyak sekali orang ingin kunjungi.

Akan tetapi bagai halnya cerita dalam kitab suci, iblis datang, bisikannya betul-betul lembut seperti bisikan hati nurani. Seperti terdengar kepakan kupu-kupu yang manis dan menggiurkan. Dan hari itu pun tiba. Seseorang yang saat itu sedang menyiram bunga, terpesona dengan kupu-kupu itu. Lantas ia mengikuti terbangnya si kupu-kupu. Seseorang itu berjalan kecil melewati pagar bambu lalu ia lenyap seperti nyaris tak dapat dipercaya. Dan ia tak pernah kembali lagi.

Lama setelah itu, bangunan itu kosong. Sepi. Lapuk dan tak terawat dan kondisinya menyedihkan. Ketika malam tiba hanya terdengar suara angin, gemerisik daun dan gonggongan anjing. Apa boleh buat. Orang-orang mulai takut melintasi bangunan itu, malam maupun siang hari. Orang-orang mulai menyebut bangunan itu sebagai kuburan, ada juga yamg menamainya museum. Meski salah, namun bukan berarti tak benar. Sebab bagaimana pum bangunan itu memang dulunya tempat segala hal pernah dimakamkan, setidaknya pernah ada sebagai benda yang hadir dan menjadi sejarah.

Bangunan itu kosong. Lama sekali. Anak-anak muda sialan yang belum akil baliq tanpa rasa takut justru memanfaatkannya untuk lokasi pacaran, memamerkan kemesraan mereka, dan bangunab itu mendengar sendiri pertanyaan kapan menikah? Yang diucapkan berulang-ulang kali seolah itu adalah pertanyaan iseng, atau vokal lidah kepeleset saat kaki tersandung. Lainnya, orang-orang tersesat datang, memarkir kendaraannya, dan tanpa rasa bersalah sebagai manusia mereka kencing di gedung itu seperti binatang ternak, kadang mereka malah datang beramai-ramai hanya untuk menunjukkan diri kedudukan mereka.

Namun hingga kini tak ada kejadian yang benar-benar penting dan menarik. Cuma karena bau air kencing yang terlalu menyengat, gedung yang mulanya beroprasi sebagai tempat kencan remaja kini beralih fungsi menjadi toilet umum. Dan seperti itulah kisah kepala saya terbentuk. Selama bertahun-tahun.

Orang-orang bertanya pada saya: kapan menikah. Sehari bisa sampai lima kali. Persis seperti keinginan mereka ingin kencing. Di musim dingin, bisa ditambah jadi sebelah kali. Dan memang saat pertanyaan itu diajukan, rasanya, kepala saya mirip toilet umum yang enak buat dikencingi. Saya dikecingi sebanyak sebelas kali di musim dingin ini.

Tidak berlebihan. Kini tak ada orang yang benar-benar ingin tinggal lebih lama bersama saya karena saya bau dan sebagainya. Kecuali keajaiban itu muncul: seseorang yang dulu menepati rumah itu, kembali dan merawat rumah itu lagi. Namum saya pikir itu mustahil. Sebab kabar angin mengatakan, ia sudah tinggal bersama orang lain. Di suatu tempat. Di dalam kepala orang lain. Dan orang itu sudah tinggal di hatinya.

Rumah itu kosong, tak terurus, dan menghawatirkan. Namun Saudara San yang baik, tak perlu khawatir, karena saya sudah menunjukkan pintu keluarnya kepada Saudara. Pergilah. Jadilah kebanyakan orang yang ingin pergi.

Atau (apa) mungkin Saudara San tertarik  membenahi rumah itu lagi? Menjadikannya rumah kembali. Rumah yang ingin Saudara tinggali; merawatnya seperti kekasih dengan bantuan tangan seorang ibu yang sanggup membenahi segala kekacauan yang tak biasa?

Jika itu yang Saudara inginkan, tinggalah lebih lama. Atau tidak sama sekali. Pintu keluar sebelah sana!

(*)

Ajibarang, 14 Febuari 2018

Monday, January 29, 2018

Cinta yang Menyembuhkan Dirinya Sendiri

Ilustrasi @andiwi_andiwi

Semoga ada jalan yang selalu menyembuhkanmu. Rumah sakit 24 jam yang mampu menerimamu kapan pun. Siang malam, menampung segala risau, perasaan gamang yang kadung kamu tampung seperti kesedihan.

Semoga ada matahari yang tak terlalu meragas. Dan kepalamu menjadi satu-satunya batu yang ditumbuhi semak ilalang. Yang bergoyang di terpa angin, kesejukan kerap menyertaimu, hari-hari hijau yang kamu rindukan keberadaannya seperti dulu kamu menjadi bocah layang-layang di ladang.

Semoga ada hari baik untukmu. Yang jadi pelindungmu seperti kakak yang memahami semua keinginan adiknya. Memberimu tepukan lembut ketika kamu merasa kalah.

Semoga ada cinta yang senantiasa memudahkanmu. Cinta yang sanggup berdoa untuk dirinya sendiri. Seperti aroma masakan ibu. Atau suara teratur gemerisik radio ayah. Agar ketika kamu lelah nanti, kamu bisa merasa pulang ke dalam dirimu sendiri.

Andi Wi

Sunday, January 28, 2018

Orang Terakhir yang Ingin Berbahagia

Ilustrasi @instagram.com/mileu/

Tak ada yang sanggup menyakitimu. Tak juga aku, orang lain, sirip lancip ikan patin, atau teh hangat yang dibuat terlalu manis atau pahit, atau daun lembut yang dihimpun setiap pagi di halaman belakang rumah tua yang lama kesepian.

Tak ada yang sanggup menyakitimu karena kamu selalu melakukan hal yang luar biasa. Kegiatan yang senantiasa sanggup membuatmu bahagia.  Melakukannya tanpa rasa takut salah-benar, hari esok akan meninggalkanmu, seperti cara orang-orang berkemas pergi ke puncak dengan kamera di bahunya. Membuat api unggun dan bercerita, dan namum segera lupa dengan foto-foto yang baru saja diambilnya.

Tak ada yang sanggup menyakitimu dengan cara apa pun. Nyanyian yang tak sengaja mampir ke telingamu, yang disenandungkan oleh tetangga sekitar rumahmu. Mereka menginginkan hidup yang sempurna, kamu tak pernah merasa sakit hati karena kamu tak menginginkan hal semacam itu.

Tak ada yang sanggup menyakitimu, tak juga keberadaan kita, lelucon buruk yang gemar mengulang-ngulang kesalahannya sendiri, tak sanggup menghentikan dirinya sendiri. Hal terbaik yang bisa dilakukan dihidup ini ialah terlibat durasi. Tahu kapan berhenti menunggu, bukan salah satunya. Sebab dengan alasan yang sama, membuat diri kita bahagia ialah hal yang jauh lebih penting. Demikian dengan cita-cita menjadi seorang yang terakhir bahagia.

Tak ada yang sanggup menyakitimu. Karena kau tak pernah berniat menyusul kebahagiaan siapa pun. Menunggu adalah perkara sederhana, namun bagi mereka yang berpikir rumit, ini bukan ide bagus. Biarkan mereka mengoceh dengan kisah-kisahnya. Mereka tak pernah tahu cara menabung waktu, sampai kemudian membongkarnya dihari jadi yang bakal buat siapa saja kagum, berkata, "Kau hebat. Kaulah orangnya."

Tak ada yang sanggup menyakitimu, tak juga aku, perkakas yang seringnya keliru memisahkan antara alam mimpi dan alam sadarmu.


Saturday, January 27, 2018

Merencanakan Kegagalan

Ilustrasi @ig_humanplus

Dua hari belakangan ini tidurku tak nyenyak. Aku selalu bangun lebih awal dari biasanya. Aku tak tahu kenapa. Rasanya seperti ada dorongan kuat untuk bangun dan mengerjakan sesuatu. Akan tetapi entah kenapa ketika aku memikirkannya, sesuatu itu kehilangan rencananya sendiri.

Kenapa?

Aku duduk di tepi ranjang. Berpikir beberapa saat sebelumnya akhirnya berani mengajukan pertanyaan untuk diri sendiri: memangnya, sejak kapan aku peduli dengan rencana yang telah kubuat hingga merasa cukup jantan untuk menyelesaikannya?

Baiklah. Kuakui. Dulu aku ini anak laki-laki dengan segudang rencana. Namun sebagai mana rencana diciptakan, mereka selalu gagal. Rencanaku memang selalu gagal. Tapi kupikir itu cuma masalah kecil, karena aku sudah menemukan solusinya.

Ini seperti kenginan kuat kau ingin kaya. Tapi alih-alih selalu gagal dalam meraihnya, kau berpikir, tidak kaya juga tidak apa-apa, terpenting semua kebutuhanmu tercukupi. Nah persis seperti itulah yang kusebut solusi.

Kata orang hidup ini seperti roda. Oke, mungkin yang dimaksud roda itu, roda yang bisa berputar. Roda hidupku juga berputar, tapi mungkin ia bergerak dengan kecepatan begitu lambat sampai aku sendiri tak menyadarinya apakah dia diam atau justru bergerak ke kiri?

Orang-orang melangkah lebih jauh di depanku. Orang-orang selalu ingin tiba lebih dulu dari hari esok. Sementara aku melangkah selangkah demi selangkah untuk mencapai hari esok.

Aku bagai anak laki-laki yang merencanakan segala sesuatunya dari awal, tapi di tengah-tengah rencana berbuah pikiran, atau jika tidak, aku akan tiba dengan rasa gagal di menit-menit akhir.

Sering aku menyaksikan kegagalan di depan mata kepalaku. Sekuat tenaga aku menasehati diriku dengan berujar, "Kau lihat sendiri kan?" Seolah-olah aku sedang menunjuk telur gosong di atas piring.

Jika ada istilah pengusaha sukses di usia muda maka akulah pengusaha muda sebaliknya, yang bangkrut diusianya yang masih muda. Jika ada cerita seorang pemuda yang bangun kesiangan di hari pertamanya tes kerja, maka akulah pemuda itu. Jika ada pemuda yang tiba-tiba tersedak duri ikan sebelum ia sempat menyatakan cintanya kepada gadis pujaannya di meja makan, maka pemuda itu adalah aku, yang dilarikan ke rumah sakit.

Ada sesuatu yang belum bisa kutuntaskan. Banyak hal yang tak bisa kuselesaikan. Aku tahu aku tak bisa berbuat banyak, dan kalau aku bisa, aku pasti selangkah lebih dekat dengan kehancuran.

Aku tak punya pilihan kecuali melupakan rencana-rencana itu. Aku memilih melupakan rencanaku sebagai jalan keluar.

Oi, bicara tentang rencana, aku jadi ingat suatu kali pernah menghadiri acara pesta pernikahan -meski ini sedikit berbeda tapi kurasa ada kesamaannya.

Aku punya seorang teman perempuan. Sebut saja namanya Dewi. Dewi adalah anak perempuan hiperaktif yang selalu cakap mengekspresikan semangat emosinya ketika misalnya dia amat senang, dia tak akan berhenti tertawa meski itu artinya di depan umum. Dewi tak terhentikan.

Berbeda dengan manusia pada umumnya, Dewi bukan tipe manusia yang sering melawan benaknya sendiri. Ketika dia sedih dia akan menangis. Ketika Dewi sedang bahagia dia tahu caranya tertawa.

Dewi tak bisa melakukan dua hal sekaligus yang seringnya cenderung dilakukan orang-orang. Dia itu berbeda. Tak menyukai kepura-puraan.

Nah, maka ketika rencananya yang selama ini dia bangun dengan bersusah payah gagal di tengah jalan, dia menangis dengan begitu kuat. Dewi menangis tersedu-sedunya begitu tahu pacar seumur jagungnya itu, tanpa alasan yang jelas mengatakan bahwa mereka sudah tak lagi cocok.

Aku sendiri kurang paham definisi cocok. Yang jelas aku menyaksikan mereka berdua, teman perempuanku bernama Dewi itu dan kekasihnya -yang kini jadi mantan- selalu berdampingan setiap saat. Mereka melekat bagai tak terpisahkan. Aku bahkan bisa membayangkan mereka bergantian bergilir mengenakan tongkat penyangga jika yang lain, tongkat yang lain lupa letak menaruhnya. Sepasang kekasih kakek-nenek yang amat romantis.

Akan tetapi seperti hal yang kubilang sebelumnya: rencana diciptakan untuk gagal. Dan mereka benar-benar gagal dalam menyongsong masa depan itu. Namun setidaknya, bukan keduanya. Tapi salah satu dari mereka. Sebab, mantan kekasih teman perempuanku itu pada akhirnya menikah dengan orang lain. Menjalani kisah romantis masa depan bersama orang lain.

Itu terjadi dua minggu lalu. Namun meski sudah berlangsung selama itu aku masih bisa ingat cara teman perempuanku itu menyeka air matanya. Berkali-kali. Dan sejumlah berkali-kali pula, aku bagai sedang menyaksikan sebuah lukisan tiga dimensi yang bergerak. Lukisan tiga dimensi yang paling sedih di dunia. Aku tak pernah membayangkan dikehidupanku yang samar-samar akan menyaksikan lukisan semacam itu dengan amat nyata.

Dewi mengajakku ke acara pesta pernikaan mantan kekasihnya. Pulang dari sana, Dewi mengusulkan agar kami mampir ke taman kota. Kami duduk di sebuah bangku besi yang sangat pas untuk selonjoran satu orang. Angin dari arah utara berhembus di sekitar kami. Segala percakapan orang-orang asing di taman kota sore itu berkelindan telingaku. Namun di antara kami sama sekali tak ada percakapan apa pun. Sepanjang sepuluh menit, aku dan Dewi hanya diam saja. Aku tidak mengawasinya, tapi aku segera merasa bersalah ketika tiba-tiba saja dia menagis tersedu-sedu di sampingku.

Seumur hidup aku tak pernah suka menyaksikan orang menangis. Aku selalu ingin menghindarinya. Ketika keponakanku yang paling kecil berumur lima tahun kubuat menangis, aku langsung lari terbirit-birit masuk ke dalam kamar. Bukan karena takut dimarahi oleh Ibuku, atau Ayah dari anak itu tapi karena aku tak tahu cara menenangkan benaknya.

Dan ketika Ibuku bilang, "Caius ini bisanya cuma bikin nangis!" Aku selalu berpikir bahwa yang dikatakan ibuku salah. Aku tak berniat membuatnya menangis tapi justru aku ingin mengajaknya bermain. Apa aku salah?

Keponakanku memang menangis. Tapi tak lama. Hanya selang beberapa menit kemudian, dia sudah kembali tertawa-tawa tidak jelas. Sudah melupakan kesedihannya. Aku sendiri baru berani keluar kamar setelah semua badai reda. Tapi tentu dengan keheranan yang meluap-luap: bagaimana Ibuku melakukannya? Dengan cara apa dia melakukannya?

Aku tidak tahu. Aku tak pernah tahu.

Aku pun tidak tahu apa yang mesti kulakukan ketika Dewi yang di sampingku menangis tersedu-sedu. Aku justru berpikir, apa sebaiknya aku pulang dulu dan bertanya pada Ibuku: bagaimana cara melakukannya? Bagaimana cara membuat orang lain tertawa setelah mereka menangis?

Tidak. Aku tahu, ini konyol. Aku tak boleh terus-menerus menghindari hal yang paling tak kusukai. Sebab mau bagaimana pun aku pasti akan menghadapinya. Entah itu dengan orang lain, atau untuk diriku sendiri hari ini.

Tepat ketika itu aku jadi memikirkan kapan terakhir kali aku menangis dan untuk apa aku melakukannya waktu itu?

Apa yang membuatku begitu sedih sehingga memaksaku mengeluarkan air mata dari liangnya? Dan bagaimana caranya aku bisa lolos dan menenangkan diriku kembali saat itu?

Aku kembali mengunduh kisah masa lampau di kepalaku, yang sudah kuhapus bertahun-tahun silam untuk mengetahui kejadian-kejadian apa saja yang sanggup membuatku menderita lalu menangis. Namun beberapa detik melakukannya, aku gagal mengunduh file di benakku. Apa itu artinya aku telah mengapusnya secara permanent? Aku menyerah, seperti mendapati diriku sendiri menuai kegagalan lagi.

Namun tiba-tiba ketika aku merasa menyerah dengan yang kulakukan, isi kepalaku memunculkan sebuah adegan aneh yang sering muncul di mimpi burukku. Sebuah gambar tercetak jelas di halaman isi kepalaku. Oh tidak. Itu gambar mantan kekasihku yang sedang tersenyum. Tidak. Ini tidak benar. Dia bahkan tak pernah sekali pun membuatku menangis. Kami memang sempat menjalin hubungan beberapa saat sampai kemudian dia mengakui bahwa dia sebetulnya tak mencintaiku. Dia cuma menyukai semangatku. Dia menambahkan catatan, "Aku hanya ingin memberimu apresiasi, dorongan agar kau tetap optimis. Dan kupikir kau pantas mendapatkannya. Tapi aku tidak mencintaimu." Kemudian dia tertawa. Lalu melangkah santai dan pergi menjauhiku.

Ya, meski waktu itu kulihat seakan dia baru saja mendorongku ke tepi jurang yang ke dalamannya tak terlihat, tapi kupikir apa yang dilakukannya itu suatu tindakan yang benar. Dia tak bisa terus-menerus mengajakku berputar-putar di puncak gunung indah dengan orang tak disukainya. Karena bagaimana pun aku hanyalah teman. Teman yang cuma menemaninya mendaki.

Oh, jadi ketika dia mengatakan dia tak menyukaiku lagi, aku berani bersumpah, aku pantas sama sekali tidak ragu untuk tidak menangis. Hanya saja ya, jika sedang sendirian terjaga di tengah makam dan aku tak sengaja memikirkannya, apa yang dilakukannya itu sungguh membuatku merasa nelangsa.

Namun jika kuingat lagi pernah berkata padanya: Cintaku padamu sedalam samudra. Mau tak mau aku menertawai diri sendiri. Aku ragu-ragu apa aku benar-benar mengatakannya pada waktu itu. Apa yang kupikirkan ketika mengucapkan kalimat itu? Apa itu tidak berlebihan? Dan memangnya jika benar aku ingin mencintainya sedalam itu, bagaimana caraku hendak melakukannya? Aku pasti tidak mungkin bisa melakukannya. Jadi ketika dia pergi dariku, sudah kuputuskan aku tidak akan menangis untuknya.

Tapi mungkin saja sebenarnya aku menangis, namun tidak cukup jantan untuk menyadarinya seperti yang sering kumulai.

Kini aku mengingat-ingat lagi hal apa saja yang biasa kulakukan ketika sedang sedih. Aku butuh file itu untuk menenangkan teman sebelahku yang kira-kira sedang menangis tersedu-sedu.

Akan tetapi karena tidak berhasil menemukan yang kucari, mau tak mau aku ambil kesimpulan sendiri: mungkin aku hanya perlu menghiburnya, mendengar semua perkataannya dan menemaninya selagi dia menagis.

Aku duduk dengan tenang. Aku duduk dengan tenang, memerhatikan napasku, menghitung detak jantungku dan siap mendengarkan apa yang akan dikatakan Dewi.

Dewi belum mengatakan apa-apa. Mungkin dia memang tak tertarik mengatakan apa-apa, tak ada yang perlu dikatakan. Mungkin begitu pikirnya.

Aku membayangkan, andai saja Dewi mau membuka mulutnya dan mengatakan sesuatu yang, agar dia bisa lebih tenang, mungkin aku bisa segera menimpalinya. Misalnya dengan berkata, "Manusia itu mahkluk yang sungguh kuat. Itu bohong kan, Caius?"

Ya, tentu saja, aku pasti akan menjawabnya dengan berujar, "Ya. Itu kebohongan besar."

Tapi sepertinya Dewi lebih dulu menghadapi kegagalan untuk mengatakan sesuatu yang ingin sekali dia nyatakan. Seperti aku. Yang sering gagal menyatakan diri ingin lebih baik dari hari kemarin namun selalu tak tahu cara melakukannya, cara memulainya.

Namun mungkin saja, sebaliknya, yang ingin Dewi bilang adalah, "Setelah ini... Maukah kau mengajakku mendaki bersamamu?"

Aku mau. Begitu aku akan menjawabnya.

Tapi Dewi nampaknya tak memikirkan kata-kata itu. Kami pun pulang. Lalu dua minggu setelah itu tanpa alasan yang jelas tidurku tak lagi nyenyak. Aku selalu terbangun tengah malam. Entah untuk apa.

27 Januari 2018
© Guebaca.com
Maira Gall