Mendengar Ia Mengomel


Ilustrasi: https://www.instagram.com/mayrianadhani/

Di telinga saya, seseorang mengomel dan bicara tanpa henti dan tanpa bisa dihentikan.

Hari ini saya sama sekali kurang bersemangat. Rasanya bagai baru diputuskan pacar; atau karena saya tak punya pacar yang telah menemani saya bertahun-tahun di hari-hari buruk dan muram, alasan itu terpaksa saya coret. Mungkin akan lebih tepat jika saya analogikan rasanya bagai belum bayar kontrakan selama berbulan-bulan; tapi karena saya hidup menumpang bersama orang tua, artinya saya tak perlu cemas. Atau rasanya saya belum membayar kas negara, tapi karena saya mungkin satu dari 2,3 juta warga negara yang tidak peduli dengan mobilitas keuangan negaranya, saya bisa mengabaikan fakta itu dengan mudah. 

Saya pikir, saya selalu nampak punya pelbagai alasan terhadap kegiatan yang saya lakukan. Saat sedang mengulur waktu misalnya, saya bersedia bersenang-senang menjerang air hanya demi membuat dubur saya merasa nyaman ketika cebok. Anda harus merasakannya sendiri jika tidak percaya. Penting diketahui bahwa betapa menyenangkannya saat dubur kita cebok dengan air hangat. Namun masalahnya, untuk hari ini, saya tak bisa menjelaskan perasaan yang tiba-tiba muncul tentang pertanyaan sentimentil: mengapa hari ini saya kurang bersemangat? 

Sejauh yang saya mengerti, saya tidak mengerti. Saya mengerti hidup ini harus dijalani, dengan alis yang kadang-kadang perlu disatukan untuk memahami kebenarannya, dengan arah hidung yang menghadap ke arah pas, dan sebagainya dan sebagainya. Lawan dari api bekerja adalah api yang menganggur. Lalu apa yang Aan Manyur bilang di buku puisinya, Tokoh-tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita? Saya jadi ingat kalau saya tak mengingat apa-apa. Hari ini saya kurang bersemangat. Tapi saya pergi ke kamar, mengambil jaket, menciumnya seperti seorang kekasih, lalu membekap jaket bisbol itu di pelukan saya, lalu mengenakannya dengan lumayan pantas. Hari ini sudah saya putuskan tidak akan melawan siapa-siapa. Dengan mengenakan jaket abu-abu yang saya kenakan, mungkin saya berencana menyerahkan diri kepada mereka. Tapi arah menuju ke sana pun saya tak tahu, justru air panci yang saya siapkan lima menit lalu sudah mendidih di pancinya. Hari ini pula saya sedang tidak bersemangat mengulur waktu, maka saya mengabaikan air yang seharusnya saya gunakan untuk cebok, dan memakainya untuk membuat kopi. 

Saya bersijingkat. Lalu tiba-tiba secangkir kopi terhidang di hadapan saya. Dengan ya, um, sikap sedikit gerakan agak lotus, saya sampai pada kesimpulan: Hari ini saya kurang bersemangat, akan tetapi saya putuskan untuk mendengar seseorang mengomel tanpa henti di dasar permukaan telinga saya dengan agak bersemangat!  

No comments

Powered by Blogger.