Kisah di Balik Pulang Artinya Sederhana


Dari sekian banyak sajak yang saya bikin, Pulang Artinya Sederhana adalah sajak yang paling saya suka.

Seorang teman yang juga seorang pembaca saya, pernah bertanya: sajak apa sih yang menurutmu paling berkesan pernah kamu buat? Hari itu saya belum bisa menjawab. Namun kali ini saya yakin bahwa Pulang Artinya Sederhana, adalah jawabnya.

Saya tak punya alasan. Apa itu juga bisa disebut sebagai alasan?

Saya pernah beberapa kali menemukan titik lokasi dimana saya biasa membuat sajak. Saya tahu tempatnya. Namun orang-orang mungkin tidak akan percaya kalau yang saya katakan itu benar alih-alih saya cuma mengarang. Persis seperti alasan tak masuk akal bahwa saya menyukai Pulang Artinya Sederhana, adalah tidak beralasan.

Ketika saya sedih dan begitu sedih dan tak bisa mengatasi apa yang ingin saya harapkan. Saya membacakan sebuah sajak untuk diri saya sendiri. Mungkin bukan hal yang menarik untuk disimak. Tapi saya membutuhkan sajak itu untuk memperbaiki keadaan saya yang seringnya cenderung merasa tidak layak bersaing dengan orang lain. Atau dalam hal berbeda, misalnya, ketika saya begitu kecewa dengan apa yang telah saya lakukan tapi hasilnya jauh dari yang saya inginkan.

Saya membaca sajak itu untuk diri saya sendiri. Saya hapal di luar kepala.

"Tentang penderitaan mereka
tak pernah salah"

Itu petikan kecil dari sajak yang saya suka selama bertahun-tahun milik W.H.Auden.

Lalu saya ingat bulan-bulan ketika pertama kali saya sama sekali tak punya keberanian menulis barang satu kalimat pun. Akan tetapi saya  memanfaatkan kondisi itu dengan menghapal beberapa sajak-sajak yang saya suka. Tidak semua, kadang cuma satu larik.

Saya menanamkan diri untuk menghapal setidaknya satu sajak, puisi juga boleh, sekurang-kurangnya satu minggu. Waktu itu saya banyak menghapal dan hapal beberapa sajak misalnya milik Lorca, Whitman, Szymborska, Joko Pinurbo dll.

Seperti keinginan menghibur diri. Saya butuh mereka.

Baik. Kembali lagi ke sajak Pulang Artinya Sederhana.

Saya menulis sajak itu, kira-kira tak lebih satu jam di atas kereta, dalam perjalanan saya Pasar Senen menuju Purwokerto. Karena saya gagal memberi alasan saya mengapa "paling" dalam tanda kutip menyukai sajak itu, maka ijinkan saya berkisah asal mula saja itu saya bikin.

Kereta Ekonomi.

Saya duduk berhadapan dengan sepasang kekasih muda yang terlihat sangat akur. Saking akurnya mereka nampak seperti kakak beradik. Di samping saya, duduk seorang perempuan yang sejak awal masuk pintu gerbong tak mau melepaskan maskernya. Tujuan dia ke Bandung, sepanjang perjalanan ke tanah kembang itu, dia tidur melulu. Sementara, sepasang kakak beradik di hadapan saya, asyik sendiri, mengobrol bedua saja. Saya tidak tahu tujuan mereka.

Kereta kami mengambil jalur memutar. Jarak yang biasanya dapat ditempuh dalam waktu tujuh jam, menggandakan diri jadi empat belas jam.

Tak ada kejadian menarik di dalam kereta itu. Kecuali jantung saya, dan jantung semua orang yang mereka sayangi, berdegup mengikuti alunan irama gerak kerata. Selebihnya nyaris tak ada apa-apa.

Karena tak ada yang mengajak saya mengobrol, saya akhirnya tertidur dengan sendirinya selama empat jam. Lalu ketika saya terbangun, perempuan bermasker di sebelah saya sudah tidak ada. Perasaan saya tiba-tiba saja cemas ketika mendadak mengetahui seseorang di samping saya tidak ada. Tapi saya segera bisa mengatasinya dalam dua puluh menit. Terlebih saya bisa melupakan sosok perempuan bermasker itu sambil selonjoran. Saya tertidur lagi.

Saya terbangun empat jam kemudian ketika sepasang kekasih itu membangunkan saya karena bujur kaki kepala saya menghalanginya mengambil tas. Saya membuka jalan. Dan setelah itu saya tidak tidur lagi. Pertama karena merasa sudah cukup. Kedua karena saya lapar.

Saya mengecek ponsel. Ingin tahu seberapa jauh kereta yang saya tumpangi melintas. Namun ponsel saya tidak mendapatkan sinyal. Namun saya sadar, bahwa dua bangku dari tempat saya duduk, yang mulanya kosong, sudah diisi. Oleh seorang perempuan.

Saya melihat dia mengenakan jilbab terusan warna pink. Begitu  panjang dan berumbai-rumbai. Dari pandangan saya, dia membawa bantal sendiri yang dia masukan ke dalam plastik. Dia baru duduk namun nampak kelelahan sekali.

Karena saya tidak mengenal dia, saya mengabaikannya. Saya kembali menatap lanskap jendela kereta yang berganti-ganti, lalu tiba-tiba.... pikiran saya dipenuhi hal-hal gaib yang terus melintas yang tak terdefinisikan namanya.

Lalu saya kembali menyimak, di jendela kereta, muka saya, terlihat sepuluh tahun lebih tua dari pada seharusnya. Saya segera menyangkal pikiran saya sendiri. Lalu dengan kendali otomatis yang terkontrol, saya menyelipkan lidah saya di antara gigi-gigi saya. Takut-takut saya ompong, seperti kakek-kakek tua. Namun ternyata tidak. Gigi saya utuh. Namun meski pun saya tahu itu tidak benar. Saya tetap saja merasa belum terhibur.

Saya tak tahu cara menghibur diri sendiri. Namun akhirnya saya mengambil ponsel, lalu mulai memotret suasana di sekitar saya. Dan tanpa sengaja, bidikan saya memotret perempuan pembawa bantal itu.

Saya memerhatikan hasil potretan saya. Lantas sempat terpaku beberapa detik dengan perempuan pembawa bantal itu. Yang terlihat seperti menangis. Yang terlihat seperti perempuan paling sedih di dunia; yang terlihat, seakan-akan dia menyuruh saya untuk menuliskan kisah hidupnya.

Perempuan itu menutup mukanya dengan bantal. Mula-mula saya yakin dia hanya mengantuk, dan kelelahan, tapi jika diperhatikan dia lebih seperti perempuan kecil yang sedang menangis dan menutup mukanya dengan bantal agar orang lain tak tahu bahwa dia sedang menangis.

Namun kira-kira apa yang membuatnya menangis ya? Apa yang membikin dia begitu sedih? Memangnya kesedihan apa yang ia hadapi hingga ia begitu sedih?

Saya mulai menebak-nebak. Mungkin perpisahan. Atau ada hal lain yang lebih menyedihkan dari perpisahan? Tapi apa?

Dan dari sanalah saya tahu bahwa saya harus mulai menulis. Untuknya. Meski pun saya tahu dia tak akan membaca tulisan saya, tapi boleh jadi dengan menuliskannya, semua orang bisa merasakan kesedihan yang sedang dia alami. Jadi ketika dia merasa sedih sendiri sebenarnya orang-orang menemaninya  Semoga ini terlihat adil pikir saya.

Saya pun mulai menulis. Mulai otak-atik kata. Dan karena saat itu sedang gerimis, saya memenggal kata kerja rintik-rintik itu untuk  menyebut namanya: ris. Riris. Yang dalam bahasa jawa artinya gerimis.

Bukan hanya kau, yang mengalami perpisahan. Semua orang di kereta ini  mengalami perpisahan.



Pulang Artinya Sederhana

Kisah sederhana untuk orang sederhana
jalan tak pernah berpindah, Ris
seperti cabang tubuh saya yang hapal betul
menempuhmu dengan rute-rutenya

Besok adalah rahasia
tangan yang terulur
memegang kotak ulang tahun kepada kekasih

Di kereta ini tak ada kau
di luar jendela, pohon-pohon liat
membentang bagai anak sungai
memeluk lelah yang patuh
memohon dadaku tahan dari rindu

Tidak, Ris
Tidak sekarang, kau tahu, 
sebab tak ada kau di sini, pagi ini
di antara penumpang-penumpang mengantuk itu

Lihat lagi, Ris, saya pulang
risau di belakang punggung sendiri
tak bisa menemukan 
dadamu

Pukul delapan lewat sepuluh, kereta berhenti
perjalanan ini sampai
Namun pikiran saya menempuhmu lagi

Lalu langit 
yang gugup terbuka
Memberi ragu-ragu
kisah sederhana ini tercipta
buru-buru bergegas

Pagi hari yang menemukan saya
Adalah pagi hari yang pendiam, 
tak banyak bicara,
ingin menyapamu...

Purwokerto, 27 Mei 2017

No comments

Powered by Blogger.