Kembalilah, Pulanglah

Ilustrasi: https://www.instagram.com/jessecobbphoto/

Kembalilah, pulanglah

Kamu kembali. Bukan untuk menetap. Hanya menyelesaikan urusan yang belum selesai menurutmu.

Semalam, kamu datang. Mengetuk pintu rumah pelahan. Tidak begitu larut sebenarnya, tapi melihat kamu yang ada di balik pintu mendadak aku kusut. Kusilakan duduk, di teras saja, aku enggan mengajakmu masuk.

Ditemani lampu remang-remang, kamu membuka obrolan remeh-temeh yang terdengar sangat basi di telingaku. Hingga akhirnya sampai pada inti yang kamu inginkan. Ikhlaskan, katamu. “Semua yang terjadi di masa lalu, ikhlaskan. Izinkan aku tenang dengan hidupku sekarang.” lanjutmu.

Aku terkesiap. Kita pernah punya masa yang indah. Kemudian berakhir dengan tidak indah. Kamu memilih meninggalkan sayatan luka yang dalam di hidupku. Kamu lepaskan genggamanku demi meraih genggaman lain di ujung sana. Itu dulu dan sudah berlalu.
Aku tertegun. Bukankah aku sudah memberimu maaf ketika waktu itu kamu dengan bersusah-payah menyusun kata permohonan maaf. Kukira sudah selesai. Sekarang, kenapa begini?

Dadaku kembang-kempis, menahan amarah. Kamu sudah memilih jalanmu sendiri. Apa-apa yang terjadi dalam perjalananmu dengannya tidak lagi menjadi tanggung jawabku. Katamu, apa yang menimpamu karena kesalahanmu terhadapku. Bahkan kamu bertanya doa buruk seperti apa yang aku mohonkan Tuhan untukmu.

Aku marah. Benar-benar marah. Bahkan ketika kamu membuangku, tak pernah sekalipun aku memaki atau menyumpah-serapahi kamu. Apalagi sampai memohonkan balasan kepada Tuhan untukmu seperti yang kamu tuduhkan. Sama sekali tidak pernah. Aku memang membencimu tapi tidak sejahat itu.

Jadi, pulanglah. Bawa segala kemarahanmu atas kisahmu dengannya yang tidak berjalan seperti yang kamu harapkan. Bawa juga pemikiran-pemikiran konyolmu itu. Jangan lampiaskan kekesalanmu kepadaku. Semua yang kamu alami bisa jadi hasil tabunganmu di masa lalu. Atau mungkin tangan Tuhan-lah yang bekerja.

Kembalilah. Pulanglah. Jangan datang lagi untuk memaki. Aku hanyalah cerita usang yang ada dalam buku lamamu. Tak lebih.

Salatiga, 6 November 2017


Nunik Kadarsih

Nomaden. Menetap di Salatiga, namun kadang-kadang merasa ingin segera mengusulkan dirinya pindah ke Jogja. 

No comments

Powered by Blogger.