Tuesday, December 5, 2017

Hantu Kecoak

Iluatrasi://kecoak-kolerik.blogspot.co.id

Di pelipis kanan dan kiri dan kening saya, ada seperti garis panjang dengan bintik-bintik kecil di atasnya. Bintik-bintik itu seperti taburan wijen di atas kue. Sehingga nampak begitu jelas di satu titik lokasi yang membikin muka saya perih. Kata adik saya, itu karena ulah coro. "Bintik-bintik kecil itu," ujarnya sambil menggaruk pelipis, "Ada, karena muka Kakak dikencingi oleh kecoak saat Kakak sedang tidak sadar, atau tidur."

Demi tuhan, saya tidak percaya. Tapi saya memilih terbengong-bengong mendengar penjelasannya lebih lanjut. Lalu untuk menguatkan pernyataannya itu, adik saya menceritakan pengalamannya pernah mengalami hal yang sama. "Di sini dan di sini," katanya sambil menunjuk hidung sendiri.

Berbeda dengan Ayah saya. Beliau justru punya jawaban yang lebih ringkas, kalau tak boleh menyebutnya tak masuk akal. Yakni, bintik-bintik di muka itu, dikarenakan dicakar oleh setan. "Makanya kalo tidur itu berdoa," Ayah saya memberi saran.

Kedua jawaban di atas memang enggak masuk akal. Setidaknya, saya butuh jawaban ketiga. Misalnya, yang lebih rasional. Karena saya jarang mandi contohnya. Jawaban itu mungkin lebih bisa dimaklumi ketimbang kita harus mengada-ada hal yang jelas-jelas tidak patut dipercaya.

Toilet di rumah saya lumayan nyaman dan besar. Saya pikir cukuplah untuk menampung sepuluh ribu kecoak jika memang mereka menginginkannya: berak atau kencing berjamaah.

Lantas saya kira, jika memang itu benar, meskipun jarang bercermin, saya pikir, muka saya enggak sama-sama amat kan dengan pintu toilet? Lantas mana mungkin mereka bisa mengira muka saya ini sama nyamannya dengan wastafel? Apa mungkin binatang macam coro itu sebegitu bodohnya, sehingga mereka menganggap muka saya ini dan adik saya itu toilet umum?

Konon, kecoak atau coro itu adalah binatang yang paling kuat di muka bumi ini. Bahkan manusia kalah setrong dengan mereka. Binatang bertubuh mengilap itu bahkan menjadi satu-satunya binatang yang sanggup bertahan hidup atas radiasi bom nuklir yang mematikan. Dan yang lebih menajubkan lagi, mereka bahkan sanggup bertahan hidup tanpa kepala selama tujuh hari berturut-turut tanpa makan dan minum.

Meskipun kepala mereka dipenggal, dipisahkan dari lehernya, mereka akan tetap hidup. Kepala tidak terlalu penting bagi mereka. Seperti upil yang mudah saja diabaikan keberadaannya. Nah, sampai di sini mungkin agak sedikit masuk akal.

Karena tidak pernah menganggap serius keberadaan kepala mereka sendiri, kecoak-kecoak itu juga terlatih jarang sekali menggunakan otaknya. Maka bisa dipastikan bahwa kecoak yang mengencingi tidur saya, adalah kecoak yang tidak berkepala. Kecoak yang tidak punya otak.

Baiklah. Jawaban adik saya, sementara saya tampung.

Kedua, jawaban ayah saya. Bintik-bintik itu ada karena ulah setan. Mungkin setan iseng yang baru saja belajar menjadi setan, dan ia ingin menjajal kemampuan cakar-cakarnya: apa cakar ini asli? Mungkin begitu pikirnya. Lalu penasaran dengan runcing cakarnya sendiri, si pemula itu, menjajalnya ke muka saya. Lantas dia begitu gembira dengan mainan barunya, lantas dia berniat melakukannya lagi dan lagi dan lagi. Dan korbannya muka saya lah yang jadi sasaran ketololannya itu.

Eh, tapi, ngomong-ngomong soal ketololan, apa Anda ingat tentang seekor kecoak yang mati tanpa kepala? Seekor kecoak itu yang mati dan jadi hantu dan tanpa kepala dan otak?

Saya sih berharap, ini cuma salah paham.

No comments

© Guebaca.com
Maira Gall