Aliana, Kucing, Tikus dan Kamus

Ilustrasi: Instagram/ @doru_sue

Kami bertemu di depan kampus. Aliana datang sendiri, langkahnya santai namun penuh membuatku curiga kalo sebenarnya dia sedang tergesa-gesa. Sebab ketika sampai dia padaku, Aliana langsung mendesak kalau waktunya tak banyak. Dia mengibas-ngibaskan buku kamus bahasa Inggris di tangan kirinya seperti foto polaroid supaya cepat kering.

Aliana mengenakan kostum serba pink. Kemeja pink, rok panjang pink, jam tangan pink. Entah sepatunya. Sepatunya tertutup rok panjang yang ia kenakan. Aku menebak warna merah, atau kuning atau apa pun. Pokoknya selain warna pink.

"Cepat," katanya. "Apa yang kau pikirkan?"

"Um, tidak ada."

Aliana menggeser letak berdirinya namun yang justru kulihat seseorang sedang menggeser cangkir kopi dari tatakan.

"Oke. Kalau sudah selesai sebaiknya aku pergi ya?"

Aliana segera melangkahkan kakinya. Aku buru-buru menghalaunya agar terhenti.

"Semalam aku bermimpi." Aku bercerita. Lalu menarik napas, merasa lega telah menyelesaikan tugasku dengan baik.

Aliana berdehem. Lantas memutar kedua bola matanya, seolah aku ini orang dewasa yang lamban dan tak tahu caranya memenuhi permintaan anak kecil. Lalu seperti suara anak kecil pula, Aliana mengatakan, "Ya terus... apa hubungannya denganku?"

Aliana benar. Apa hubungannya antara seekor kucing dengan tikus yang masuk ke dalam lemari pakaian.

Namun karena aku tak ingin terlihat konyol di hadapannya, wanita yang kucintai, akhirnya kebiasaan lamaku pun kuulangi juga. Yakni: mengarang cerita.

"Tapi mungkin ini ada hubungannya dengan kita," kataku. "Kau tahu, kucing itu masuk ke dalam lemari. Tikus itu bersembunyi di sana. Selama beberapa menit memang kudengar mereka saling kejar-kejaran. Berisik sekali di dalam. Namun setelah sepuluh menit kemudian tak ada suara apa-apa yang bisa kusimak."

"Yap," Aliana mengatupkan mulutnya. Lalu berkesimpulan. "Karena kucing itu sudah menangkapnya. Sudah mencincang tikus itu dengan kedua gigi taringnya dan memasukannya ke dalam lambung. Masa begitu saja kamu enggak ngerti sih?"

"Bukan, Aliana. Sama sekali bukan. Maksudku, ini mimpi. Dan ketika kau bermimpi kau mendapakan simbol."

"Simbol?" Aliana mengangkat sebelah alisnya. Seolah ia baru saja mendengar sesuatu yang aneh dan menajubkan.

"Seperti simbol U di lengannya Pak Tono. Si penjaga kaset langganan kita," kataku menjelaskan padanya.

"Itu tato, Caius. Tato U untuk mewakili 'Kamu' dalam bahasa Inggris. I love U."

"Tapi kurasa bukan itu. Bukan itu maksudnya, huruf 'U' seperti yang kau bilang. Tapi 'U' untuk..." Aku memikirkan kata-kata yang tepat, yang barangkali cocok untuk menggambarkannya. Namun aku tak bisa memikirkan kata-kata yang cocok untuk mewakili simbol itu. "Ah. Nanti kutanyakan langsung saja sama orangnnya. Eh tapi, memangnya, kenapa sih kau selalu berharap kalau seekor kucing yang berlari mengejar tikus itu karena mereka kelaparan?"

"Seperti Tom and Jerry?"

"Seperti Tom and Jerry," Aku membeo kalimat yang Aliana katakan.

Aliana menjentikkan jarinya. "Tahu ya. Aku belum pernah lihat. Oke, langsung saja ke intinya. Apa arti dari simbol itu? Dan apa hubungannya denganku?"

"Hubungannya?"

"Ya. Hubungannya? Jangan bilang kalo tikus itu aku, dan kucing itu kau. Aku selalu membencimu dan hal itu terus terjadi hingga sekarang. Karena begitulah naluriahku bekerja."

"Mereka tidak bermusuhan. Mereka saling jatuh cinta. Mereka memutuskan--"

"--Berteman." Alina memotong.

"Ya. Mungkin itu yang lebih tepat."

"Tidak terlalu tepat, sebetulnya. Karena kalau Ibu si tikus tahu bahwa si kucing pernah menyakiti hati putrinya, ibu si tikus pasti sudah membunuh si kucing bahkan sekarang juga."

"Aku minta maaf."

"Ya, dan kau bukan lagi pacarku. Atau temanku lagi. Aku benci kau." Aliana membasahi bibir bawahnya. Dan tindakannya itu semakin membuatnya terlihat manis dan... apa yang telah kulakukan? Mengapa dua hari lalu aku membuatnya kesal seharian. Mengapa aku dengan sengaja tidak mengabarkannya bahwa aku meninggalkan ponselku di rumah. Bahwa aku pergi membeli pakan kucing dan membiarkan Jes memelukku di depan toko kucing dan membiarkan Aliana menyaksikannya dengan telanjang mata.

"Aku yang salah. Aku yang salah."

Aku segera pulang dan segera mengecek ponselku. Ada 21 panggilan tak terjawab, dan 21 pesan masuk yang isinya kemarahan Aliana. Yang intinya dia begitu menyesal telah percaya padaku selama ini. Dia tidak ingin mengenalku lagi. Astaga. Aku bahkan berkata apa-apa.

Namun karena dipenuhi rasa bersalah, akhirnya aku menelpon Aliana dan bermaksud meminta maaf. Tapi kupikir ponselnya dialihkan. Mungkin dia sengaja mematikannya. Astaga. Aku bahkan belum mengatakan apa-apa. Aku bahkan ingin sekali menjelaskan bahwa kucing Jes mati. Dan Jes sangat sedih karena kucingnya mati. Lalu kutambahkan, Jes butuh pelukanku untuk membuatnya lebih baik. "Aku bahkan saat itu juga meninggalkan Jes di tempatnya berdiri demi mengejar kau, karena aku tahu kau begitu marah padaku."

Tapi sayang, permohonan maaf dan penyesalanku tak pernah sampai padanya. Aliana sudah kadung muntap dan tak ingin mengenalku lagi, meskipun aku tahu di kamus Aliana tak ada orang asing. Yang ada hanya orang yang belum ia kenal. Dan jika dia sudah kenal, maka dia akan segera menganggapnya teman.

Dan hari ini, nampaknya aku telah membuat Aliana semakin kesal karena dia tak bisa menarik kata-katanya sendiri. Dan dia merasa tak punya urusan lagi denganku. Dia tak punya obsesi dekat-dekat dengan orang yang paling dia benci di dunia ini.

Aliana melangkah keluar dari lingkaran radar pesawatku bisa menangkapnya. Dia berjalan ke depan melewatiku dan memotong langkah seorang mahasiswa yang berjalan tepat di hadapanku. Dengan langkah tergesa, hampir saja dia menabraknya.

Aku mulai mengarang cerita lagi. Seperti yang sudah-sudah. Andai saja Aliana tadi menabrak mahasiswa tampan itu, aku pastilah mahasiswa lain yang hancur karena sempat mengisi pikiranku dengan adegan murahan sinetron yang penuh modus. Si Wanita menjatuhkan bukunya, dan Si Mahasiswa yang kelewat tampan itu mengambilnya sambil mengulurkan tangan, mengajaknya berkenalan.

Tidak. Itu semua tidak terjadi. Sebab semata-mata yang terjadi adalah kecelakaan karambol di kepalaku yang tak bisa berhenti memikirkan caranya membujuk Aliana agar mau memasukkanku lagi ke dalan kamusnya.

Lamat-lamat, dari jarak kejauhan aku melihat warna belakang sepatu Aliana berwarna pink.

Andi Wi, 27 Desember 2017

No comments

Powered by Blogger.