Sunday, December 31, 2017

Aliana, Kucing, Tikus dan Kamus

Ilustrasi: Instagram/ @doru_sue

Kami bertemu di depan kampus. Aliana datang sendiri, langkahnya santai namun penuh membuatku curiga kalo sebenarnya dia sedang tergesa-gesa. Sebab ketika sampai dia padaku, Aliana langsung mendesak kalau waktunya tak banyak. Dia mengibas-ngibaskan buku kamus bahasa Inggris di tangan kirinya seperti foto polaroid supaya cepat kering.

Aliana mengenakan kostum serba pink. Kemeja pink, rok panjang pink, jam tangan pink. Entah sepatunya. Sepatunya tertutup rok panjang yang ia kenakan. Aku menebak warna merah, atau kuning atau apa pun. Pokoknya selain warna pink.

"Cepat," katanya. "Apa yang kau pikirkan?"

"Um, tidak ada."

Aliana menggeser letak berdirinya namun yang justru kulihat seseorang sedang menggeser cangkir kopi dari tatakan.

"Oke. Kalau sudah selesai sebaiknya aku pergi ya?"

Aliana segera melangkahkan kakinya. Aku buru-buru menghalaunya agar terhenti.

"Semalam aku bermimpi." Aku bercerita. Lalu menarik napas, merasa lega telah menyelesaikan tugasku dengan baik.

Aliana berdehem. Lantas memutar kedua bola matanya, seolah aku ini orang dewasa yang lamban dan tak tahu caranya memenuhi permintaan anak kecil. Lalu seperti suara anak kecil pula, Aliana mengatakan, "Ya terus... apa hubungannya denganku?"

Aliana benar. Apa hubungannya antara seekor kucing dengan tikus yang masuk ke dalam lemari pakaian.

Namun karena aku tak ingin terlihat konyol di hadapannya, wanita yang kucintai, akhirnya kebiasaan lamaku pun kuulangi juga. Yakni: mengarang cerita.

"Tapi mungkin ini ada hubungannya dengan kita," kataku. "Kau tahu, kucing itu masuk ke dalam lemari. Tikus itu bersembunyi di sana. Selama beberapa menit memang kudengar mereka saling kejar-kejaran. Berisik sekali di dalam. Namun setelah sepuluh menit kemudian tak ada suara apa-apa yang bisa kusimak."

"Yap," Aliana mengatupkan mulutnya. Lalu berkesimpulan. "Karena kucing itu sudah menangkapnya. Sudah mencincang tikus itu dengan kedua gigi taringnya dan memasukannya ke dalam lambung. Masa begitu saja kamu enggak ngerti sih?"

"Bukan, Aliana. Sama sekali bukan. Maksudku, ini mimpi. Dan ketika kau bermimpi kau mendapakan simbol."

"Simbol?" Aliana mengangkat sebelah alisnya. Seolah ia baru saja mendengar sesuatu yang aneh dan menajubkan.

"Seperti simbol U di lengannya Pak Tono. Si penjaga kaset langganan kita," kataku menjelaskan padanya.

"Itu tato, Caius. Tato U untuk mewakili 'Kamu' dalam bahasa Inggris. I love U."

"Tapi kurasa bukan itu. Bukan itu maksudnya, huruf 'U' seperti yang kau bilang. Tapi 'U' untuk..." Aku memikirkan kata-kata yang tepat, yang barangkali cocok untuk menggambarkannya. Namun aku tak bisa memikirkan kata-kata yang cocok untuk mewakili simbol itu. "Ah. Nanti kutanyakan langsung saja sama orangnnya. Eh tapi, memangnya, kenapa sih kau selalu berharap kalau seekor kucing yang berlari mengejar tikus itu karena mereka kelaparan?"

"Seperti Tom and Jerry?"

"Seperti Tom and Jerry," Aku membeo kalimat yang Aliana katakan.

Aliana menjentikkan jarinya. "Tahu ya. Aku belum pernah lihat. Oke, langsung saja ke intinya. Apa arti dari simbol itu? Dan apa hubungannya denganku?"

"Hubungannya?"

"Ya. Hubungannya? Jangan bilang kalo tikus itu aku, dan kucing itu kau. Aku selalu membencimu dan hal itu terus terjadi hingga sekarang. Karena begitulah naluriahku bekerja."

"Mereka tidak bermusuhan. Mereka saling jatuh cinta. Mereka memutuskan--"

"--Berteman." Alina memotong.

"Ya. Mungkin itu yang lebih tepat."

"Tidak terlalu tepat, sebetulnya. Karena kalau Ibu si tikus tahu bahwa si kucing pernah menyakiti hati putrinya, ibu si tikus pasti sudah membunuh si kucing bahkan sekarang juga."

"Aku minta maaf."

"Ya, dan kau bukan lagi pacarku. Atau temanku lagi. Aku benci kau." Aliana membasahi bibir bawahnya. Dan tindakannya itu semakin membuatnya terlihat manis dan... apa yang telah kulakukan? Mengapa dua hari lalu aku membuatnya kesal seharian. Mengapa aku dengan sengaja tidak mengabarkannya bahwa aku meninggalkan ponselku di rumah. Bahwa aku pergi membeli pakan kucing dan membiarkan Jes memelukku di depan toko kucing dan membiarkan Aliana menyaksikannya dengan telanjang mata.

"Aku yang salah. Aku yang salah."

Aku segera pulang dan segera mengecek ponselku. Ada 21 panggilan tak terjawab, dan 21 pesan masuk yang isinya kemarahan Aliana. Yang intinya dia begitu menyesal telah percaya padaku selama ini. Dia tidak ingin mengenalku lagi. Astaga. Aku bahkan berkata apa-apa.

Namun karena dipenuhi rasa bersalah, akhirnya aku menelpon Aliana dan bermaksud meminta maaf. Tapi kupikir ponselnya dialihkan. Mungkin dia sengaja mematikannya. Astaga. Aku bahkan belum mengatakan apa-apa. Aku bahkan ingin sekali menjelaskan bahwa kucing Jes mati. Dan Jes sangat sedih karena kucingnya mati. Lalu kutambahkan, Jes butuh pelukanku untuk membuatnya lebih baik. "Aku bahkan saat itu juga meninggalkan Jes di tempatnya berdiri demi mengejar kau, karena aku tahu kau begitu marah padaku."

Tapi sayang, permohonan maaf dan penyesalanku tak pernah sampai padanya. Aliana sudah kadung muntap dan tak ingin mengenalku lagi, meskipun aku tahu di kamus Aliana tak ada orang asing. Yang ada hanya orang yang belum ia kenal. Dan jika dia sudah kenal, maka dia akan segera menganggapnya teman.

Dan hari ini, nampaknya aku telah membuat Aliana semakin kesal karena dia tak bisa menarik kata-katanya sendiri. Dan dia merasa tak punya urusan lagi denganku. Dia tak punya obsesi dekat-dekat dengan orang yang paling dia benci di dunia ini.

Aliana melangkah keluar dari lingkaran radar pesawatku bisa menangkapnya. Dia berjalan ke depan melewatiku dan memotong langkah seorang mahasiswa yang berjalan tepat di hadapanku. Dengan langkah tergesa, hampir saja dia menabraknya.

Aku mulai mengarang cerita lagi. Seperti yang sudah-sudah. Andai saja Aliana tadi menabrak mahasiswa tampan itu, aku pastilah mahasiswa lain yang hancur karena sempat mengisi pikiranku dengan adegan murahan sinetron yang penuh modus. Si Wanita menjatuhkan bukunya, dan Si Mahasiswa yang kelewat tampan itu mengambilnya sambil mengulurkan tangan, mengajaknya berkenalan.

Tidak. Itu semua tidak terjadi. Sebab semata-mata yang terjadi adalah kecelakaan karambol di kepalaku yang tak bisa berhenti memikirkan caranya membujuk Aliana agar mau memasukkanku lagi ke dalan kamusnya.

Lamat-lamat, dari jarak kejauhan aku melihat warna belakang sepatu Aliana berwarna pink.

Andi Wi, 27 Desember 2017

Kisah di Balik Pulang Artinya Sederhana


Dari sekian banyak sajak yang saya bikin, Pulang Artinya Sederhana adalah sajak yang paling saya suka.

Seorang teman yang juga seorang pembaca saya, pernah bertanya: sajak apa sih yang menurutmu paling berkesan pernah kamu buat? Hari itu saya belum bisa menjawab. Namun kali ini saya yakin bahwa Pulang Artinya Sederhana, adalah jawabnya.

Saya tak punya alasan. Apa itu juga bisa disebut sebagai alasan?

Saya pernah beberapa kali menemukan titik lokasi dimana saya biasa membuat sajak. Saya tahu tempatnya. Namun orang-orang mungkin tidak akan percaya kalau yang saya katakan itu benar alih-alih saya cuma mengarang. Persis seperti alasan tak masuk akal bahwa saya menyukai Pulang Artinya Sederhana, adalah tidak beralasan.

Ketika saya sedih dan begitu sedih dan tak bisa mengatasi apa yang ingin saya harapkan. Saya membacakan sebuah sajak untuk diri saya sendiri. Mungkin bukan hal yang menarik untuk disimak. Tapi saya membutuhkan sajak itu untuk memperbaiki keadaan saya yang seringnya cenderung merasa tidak layak bersaing dengan orang lain. Atau dalam hal berbeda, misalnya, ketika saya begitu kecewa dengan apa yang telah saya lakukan tapi hasilnya jauh dari yang saya inginkan.

Saya membaca sajak itu untuk diri saya sendiri. Saya hapal di luar kepala.

"Tentang penderitaan mereka
tak pernah salah"

Itu petikan kecil dari sajak yang saya suka selama bertahun-tahun milik W.H.Auden.

Lalu saya ingat bulan-bulan ketika pertama kali saya sama sekali tak punya keberanian menulis barang satu kalimat pun. Akan tetapi saya  memanfaatkan kondisi itu dengan menghapal beberapa sajak-sajak yang saya suka. Tidak semua, kadang cuma satu larik.

Saya menanamkan diri untuk menghapal setidaknya satu sajak, puisi juga boleh, sekurang-kurangnya satu minggu. Waktu itu saya banyak menghapal dan hapal beberapa sajak misalnya milik Lorca, Whitman, Szymborska, Joko Pinurbo dll.

Seperti keinginan menghibur diri. Saya butuh mereka.

Baik. Kembali lagi ke sajak Pulang Artinya Sederhana.

Saya menulis sajak itu, kira-kira tak lebih satu jam di atas kereta, dalam perjalanan saya Pasar Senen menuju Purwokerto. Karena saya gagal memberi alasan saya mengapa "paling" dalam tanda kutip menyukai sajak itu, maka ijinkan saya berkisah asal mula saja itu saya bikin.

Kereta Ekonomi.

Saya duduk berhadapan dengan sepasang kekasih muda yang terlihat sangat akur. Saking akurnya mereka nampak seperti kakak beradik. Di samping saya, duduk seorang perempuan yang sejak awal masuk pintu gerbong tak mau melepaskan maskernya. Tujuan dia ke Bandung, sepanjang perjalanan ke tanah kembang itu, dia tidur melulu. Sementara, sepasang kakak beradik di hadapan saya, asyik sendiri, mengobrol bedua saja. Saya tidak tahu tujuan mereka.

Kereta kami mengambil jalur memutar. Jarak yang biasanya dapat ditempuh dalam waktu tujuh jam, menggandakan diri jadi empat belas jam.

Tak ada kejadian menarik di dalam kereta itu. Kecuali jantung saya, dan jantung semua orang yang mereka sayangi, berdegup mengikuti alunan irama gerak kerata. Selebihnya nyaris tak ada apa-apa.

Karena tak ada yang mengajak saya mengobrol, saya akhirnya tertidur dengan sendirinya selama empat jam. Lalu ketika saya terbangun, perempuan bermasker di sebelah saya sudah tidak ada. Perasaan saya tiba-tiba saja cemas ketika mendadak mengetahui seseorang di samping saya tidak ada. Tapi saya segera bisa mengatasinya dalam dua puluh menit. Terlebih saya bisa melupakan sosok perempuan bermasker itu sambil selonjoran. Saya tertidur lagi.

Saya terbangun empat jam kemudian ketika sepasang kekasih itu membangunkan saya karena bujur kaki kepala saya menghalanginya mengambil tas. Saya membuka jalan. Dan setelah itu saya tidak tidur lagi. Pertama karena merasa sudah cukup. Kedua karena saya lapar.

Saya mengecek ponsel. Ingin tahu seberapa jauh kereta yang saya tumpangi melintas. Namun ponsel saya tidak mendapatkan sinyal. Namun saya sadar, bahwa dua bangku dari tempat saya duduk, yang mulanya kosong, sudah diisi. Oleh seorang perempuan.

Saya melihat dia mengenakan jilbab terusan warna pink. Begitu  panjang dan berumbai-rumbai. Dari pandangan saya, dia membawa bantal sendiri yang dia masukan ke dalam plastik. Dia baru duduk namun nampak kelelahan sekali.

Karena saya tidak mengenal dia, saya mengabaikannya. Saya kembali menatap lanskap jendela kereta yang berganti-ganti, lalu tiba-tiba.... pikiran saya dipenuhi hal-hal gaib yang terus melintas yang tak terdefinisikan namanya.

Lalu saya kembali menyimak, di jendela kereta, muka saya, terlihat sepuluh tahun lebih tua dari pada seharusnya. Saya segera menyangkal pikiran saya sendiri. Lalu dengan kendali otomatis yang terkontrol, saya menyelipkan lidah saya di antara gigi-gigi saya. Takut-takut saya ompong, seperti kakek-kakek tua. Namun ternyata tidak. Gigi saya utuh. Namun meski pun saya tahu itu tidak benar. Saya tetap saja merasa belum terhibur.

Saya tak tahu cara menghibur diri sendiri. Namun akhirnya saya mengambil ponsel, lalu mulai memotret suasana di sekitar saya. Dan tanpa sengaja, bidikan saya memotret perempuan pembawa bantal itu.

Saya memerhatikan hasil potretan saya. Lantas sempat terpaku beberapa detik dengan perempuan pembawa bantal itu. Yang terlihat seperti menangis. Yang terlihat seperti perempuan paling sedih di dunia; yang terlihat, seakan-akan dia menyuruh saya untuk menuliskan kisah hidupnya.

Perempuan itu menutup mukanya dengan bantal. Mula-mula saya yakin dia hanya mengantuk, dan kelelahan, tapi jika diperhatikan dia lebih seperti perempuan kecil yang sedang menangis dan menutup mukanya dengan bantal agar orang lain tak tahu bahwa dia sedang menangis.

Namun kira-kira apa yang membuatnya menangis ya? Apa yang membikin dia begitu sedih? Memangnya kesedihan apa yang ia hadapi hingga ia begitu sedih?

Saya mulai menebak-nebak. Mungkin perpisahan. Atau ada hal lain yang lebih menyedihkan dari perpisahan? Tapi apa?

Dan dari sanalah saya tahu bahwa saya harus mulai menulis. Untuknya. Meski pun saya tahu dia tak akan membaca tulisan saya, tapi boleh jadi dengan menuliskannya, semua orang bisa merasakan kesedihan yang sedang dia alami. Jadi ketika dia merasa sedih sendiri sebenarnya orang-orang menemaninya  Semoga ini terlihat adil pikir saya.

Saya pun mulai menulis. Mulai otak-atik kata. Dan karena saat itu sedang gerimis, saya memenggal kata kerja rintik-rintik itu untuk  menyebut namanya: ris. Riris. Yang dalam bahasa jawa artinya gerimis.

Bukan hanya kau, yang mengalami perpisahan. Semua orang di kereta ini  mengalami perpisahan.



Pulang Artinya Sederhana

Kisah sederhana untuk orang sederhana
jalan tak pernah berpindah, Ris
seperti cabang tubuh saya yang hapal betul
menempuhmu dengan rute-rutenya

Besok adalah rahasia
tangan yang terulur
memegang kotak ulang tahun kepada kekasih

Di kereta ini tak ada kau
di luar jendela, pohon-pohon liat
membentang bagai anak sungai
memeluk lelah yang patuh
memohon dadaku tahan dari rindu

Tidak, Ris
Tidak sekarang, kau tahu, 
sebab tak ada kau di sini, pagi ini
di antara penumpang-penumpang mengantuk itu

Lihat lagi, Ris, saya pulang
risau di belakang punggung sendiri
tak bisa menemukan 
dadamu

Pukul delapan lewat sepuluh, kereta berhenti
perjalanan ini sampai
Namun pikiran saya menempuhmu lagi

Lalu langit 
yang gugup terbuka
Memberi ragu-ragu
kisah sederhana ini tercipta
buru-buru bergegas

Pagi hari yang menemukan saya
Adalah pagi hari yang pendiam, 
tak banyak bicara,
ingin menyapamu...

Purwokerto, 27 Mei 2017

Friday, December 22, 2017

Selamat Jalan Sampai Jumpa


Kupikir aku akan pergi. Cuacanya sungguh menarik untuk bepergian. Udara kering yang setengah asap, setengah alami. Tak apa. Aku selalu siap jika harus pergi. Sebab aku hanya akan pergi.

Aku akan pergi dan itulah tujuanku. Tenang, aku ingat kita sudah berpisah. Jadi aku tak akan mengunjungi rumahmu. Melainkan justru aku akan mendekati hal-hal yang membuatku jauh darimu.

Kau sudah kubebaskan. Tak lagi seperti bayi kura-kura kecil yang kupelihara di dalam botol pasir. Kau kubebaskan.

Karena dulu, aku memang mengambilmu dari alam, kini, kukembalikan pula kau ke asalmu.

Dengan harapan... tak ada satu pun orang yang sanggup menghalangimu karena kini, kau kubebaskan.

Tak ada yang baru di bawah langit. Waktu cuma siasat cuaca buruk yang berusaha menahan kita di antara tempat. Masa lalu dan masa sekarang. Aku pernah mendapatkan keduanya bersamamu. Namun setelah kita berpisah, aku sadar harus rela memilih salah satu dari mereka.

Dan hari ini, kurasa, aku akan pergi. Maaf, aku tak membawa serta perlengkapan yang kubutuhkan untuk mengingat kenangan kita. Aku tak ingin membebani perjalanan sederhanaku untuk terus mengingatmu. Untuk terus berada di bawah bayang-bayangmu.

Sebab aku berharap, kelak jika suatu saat aku kembali, aku hanya ingin kembali dengan cara yang lebih baru.

Kau mungkin tak akan mengenaliku lagi sebagai sosok yang lama.

Tentu itu sebuah kemujuran, bahwa dengan sebab yang jelas, hidup ini adalah kepastian yang membuat kita beranjak mengambil keputusan.

Aku akan pergi, membisik murung ke dalam hatimu selamat tinggal. Semoga kau dengar. Suara yang baru saja kulemparkan. Hingga nanti, meski kuucapkan selamat jalan. Sampai jumpa di masa depan yang lebih baru dan berlangsung lama.

22 Desember 2017

Saturday, December 16, 2017

Kita Begini Saja Begitu Parah

Ilustrasi: Instagram/kulturtava
Kita Begini Saja Begitu Parah

Menuju hilir, perahu origami kecil berlayar mempelajari alam sekitar.
Kita begini saja. Ada dan mengada-ada. Aku tahu kautahu kita sama-sama tahu menyembah Waktu, yang kini menjadikannya berhala untuk keyakinan bersandar dua luka kita yang penyabar.
Segalanya terjadi nampak seperti mimpi, sekaligus nyata, yang nyatanya itulah yang terjadi.
Aku mencintaimu. Maafkan aku yang tak pernah bisa menghiburmu dari hari-hari buruk, kesepian ekslusif yang menghasut minta peluk dan perasaan tenang yang tak pernah tepat kujanjikan.
Tersenyumlah, andai kautahu, betapa Tuhan tak pernah khilaf membiarkan. Untukmu: kuat-kuatlah sejadi-jadinya hamba maha tabah menyimpan.

(2016)

Tuesday, December 12, 2017

Hari Besar

Ilustrasi: Instagram/mileu

Ini adalah hari terbesar dalam hidupku

Terimakasih atas pertemuannya
yang singkat
bersamaku

Dengan diriku yang lama
Dengan duduk di sebelahku

Malam ini
Jangan sia-siakan percakapan kita
dengan mengatakan sampai jumpa

Mungkin benar aku pendoa
Tapi dengan sepuluh jariku
yang tetap dan tak mungkin bertambah bilangannya
Mereka bukanlah persekongkolan yang solid dan tabah

Bagaimana pun caranya
Deraan telah bertubi-tubi
kuterima
membuatku tercerai-berai

Jika telah sampai aku
membuatmu takut
sejujurnya
aku lebih takut
menyaksikanmu
Berrkali-kali
membetulkan letak kerudungmu

Kupikir kamu sudah cantik
Sejak melangkah keluar rumah

Aku adalah anak laki-laki
yang tak punya rencana cadangan
Jika segala sesuatunya
mendadak berubah aneh
dan menegangkan.

Maka ketika kukakatan, "Apa kau ingin pulang?"
Diam-diam aku menyesalinya
Aku ingin menariknya kembali.

Aku ingin memastikan
menarik tanganmu juga
Dan memikirkan cara ilegal
Agar kamu tetap bersamaku

Sambil membujuk, "Kita mungkin
dua orang paling kesepian
di muka bumi ini. Hanya saja
butuh waktu
seribu tahun
untuk menyadarinya."

Namun semudah menebak jalan
pikiranku, kamu tahu
Sejak awal yang kupikirkan
Justru
Kau akan membeo kata-kataku
"Tapi aku ingin pulang," katamu.

Aku pun membalas, "Bisakah kita
bertemu kembali?"
"Secepatnya," jawabmu menimpali.

Lantas aku pun menunggu aba-aba
Penasaran sekali:
Bagaimana caramu kelak
mengatakan berpisah dikemudian hari.

Kau adalah hari terbesarku
Maka jika hari itu tiba
Kupastikan, berpisah denganmu
Adalah hari jadi paling menyepiku.

Ajibarang, 12 Desember 2017

Wednesday, December 6, 2017

Kembalilah, Pulanglah

Ilustrasi: https://www.instagram.com/jessecobbphoto/

Kembalilah, pulanglah

Kamu kembali. Bukan untuk menetap. Hanya menyelesaikan urusan yang belum selesai menurutmu.

Semalam, kamu datang. Mengetuk pintu rumah pelahan. Tidak begitu larut sebenarnya, tapi melihat kamu yang ada di balik pintu mendadak aku kusut. Kusilakan duduk, di teras saja, aku enggan mengajakmu masuk.

Ditemani lampu remang-remang, kamu membuka obrolan remeh-temeh yang terdengar sangat basi di telingaku. Hingga akhirnya sampai pada inti yang kamu inginkan. Ikhlaskan, katamu. “Semua yang terjadi di masa lalu, ikhlaskan. Izinkan aku tenang dengan hidupku sekarang.” lanjutmu.

Aku terkesiap. Kita pernah punya masa yang indah. Kemudian berakhir dengan tidak indah. Kamu memilih meninggalkan sayatan luka yang dalam di hidupku. Kamu lepaskan genggamanku demi meraih genggaman lain di ujung sana. Itu dulu dan sudah berlalu.
Aku tertegun. Bukankah aku sudah memberimu maaf ketika waktu itu kamu dengan bersusah-payah menyusun kata permohonan maaf. Kukira sudah selesai. Sekarang, kenapa begini?

Dadaku kembang-kempis, menahan amarah. Kamu sudah memilih jalanmu sendiri. Apa-apa yang terjadi dalam perjalananmu dengannya tidak lagi menjadi tanggung jawabku. Katamu, apa yang menimpamu karena kesalahanmu terhadapku. Bahkan kamu bertanya doa buruk seperti apa yang aku mohonkan Tuhan untukmu.

Aku marah. Benar-benar marah. Bahkan ketika kamu membuangku, tak pernah sekalipun aku memaki atau menyumpah-serapahi kamu. Apalagi sampai memohonkan balasan kepada Tuhan untukmu seperti yang kamu tuduhkan. Sama sekali tidak pernah. Aku memang membencimu tapi tidak sejahat itu.

Jadi, pulanglah. Bawa segala kemarahanmu atas kisahmu dengannya yang tidak berjalan seperti yang kamu harapkan. Bawa juga pemikiran-pemikiran konyolmu itu. Jangan lampiaskan kekesalanmu kepadaku. Semua yang kamu alami bisa jadi hasil tabunganmu di masa lalu. Atau mungkin tangan Tuhan-lah yang bekerja.

Kembalilah. Pulanglah. Jangan datang lagi untuk memaki. Aku hanyalah cerita usang yang ada dalam buku lamamu. Tak lebih.

Salatiga, 6 November 2017


Nunik Kadarsih

Nomaden. Menetap di Salatiga, namun kadang-kadang merasa ingin segera mengusulkan dirinya pindah ke Jogja. 

Tuesday, December 5, 2017

Hantu Kecoak

Iluatrasi://kecoak-kolerik.blogspot.co.id

Di pelipis kanan dan kiri dan kening saya, ada seperti garis panjang dengan bintik-bintik kecil di atasnya. Bintik-bintik itu seperti taburan wijen di atas kue. Sehingga nampak begitu jelas di satu titik lokasi yang membikin muka saya perih. Kata adik saya, itu karena ulah coro. "Bintik-bintik kecil itu," ujarnya sambil menggaruk pelipis, "Ada, karena muka Kakak dikencingi oleh kecoak saat Kakak sedang tidak sadar, atau tidur."

Demi tuhan, saya tidak percaya. Tapi saya memilih terbengong-bengong mendengar penjelasannya lebih lanjut. Lalu untuk menguatkan pernyataannya itu, adik saya menceritakan pengalamannya pernah mengalami hal yang sama. "Di sini dan di sini," katanya sambil menunjuk hidung sendiri.

Berbeda dengan Ayah saya. Beliau justru punya jawaban yang lebih ringkas, kalau tak boleh menyebutnya tak masuk akal. Yakni, bintik-bintik di muka itu, dikarenakan dicakar oleh setan. "Makanya kalo tidur itu berdoa," Ayah saya memberi saran.

Kedua jawaban di atas memang enggak masuk akal. Setidaknya, saya butuh jawaban ketiga. Misalnya, yang lebih rasional. Karena saya jarang mandi contohnya. Jawaban itu mungkin lebih bisa dimaklumi ketimbang kita harus mengada-ada hal yang jelas-jelas tidak patut dipercaya.

Toilet di rumah saya lumayan nyaman dan besar. Saya pikir cukuplah untuk menampung sepuluh ribu kecoak jika memang mereka menginginkannya: berak atau kencing berjamaah.

Lantas saya kira, jika memang itu benar, meskipun jarang bercermin, saya pikir, muka saya enggak sama-sama amat kan dengan pintu toilet? Lantas mana mungkin mereka bisa mengira muka saya ini sama nyamannya dengan wastafel? Apa mungkin binatang macam coro itu sebegitu bodohnya, sehingga mereka menganggap muka saya ini dan adik saya itu toilet umum?

Konon, kecoak atau coro itu adalah binatang yang paling kuat di muka bumi ini. Bahkan manusia kalah setrong dengan mereka. Binatang bertubuh mengilap itu bahkan menjadi satu-satunya binatang yang sanggup bertahan hidup atas radiasi bom nuklir yang mematikan. Dan yang lebih menajubkan lagi, mereka bahkan sanggup bertahan hidup tanpa kepala selama tujuh hari berturut-turut tanpa makan dan minum.

Meskipun kepala mereka dipenggal, dipisahkan dari lehernya, mereka akan tetap hidup. Kepala tidak terlalu penting bagi mereka. Seperti upil yang mudah saja diabaikan keberadaannya. Nah, sampai di sini mungkin agak sedikit masuk akal.

Karena tidak pernah menganggap serius keberadaan kepala mereka sendiri, kecoak-kecoak itu juga terlatih jarang sekali menggunakan otaknya. Maka bisa dipastikan bahwa kecoak yang mengencingi tidur saya, adalah kecoak yang tidak berkepala. Kecoak yang tidak punya otak.

Baiklah. Jawaban adik saya, sementara saya tampung.

Kedua, jawaban ayah saya. Bintik-bintik itu ada karena ulah setan. Mungkin setan iseng yang baru saja belajar menjadi setan, dan ia ingin menjajal kemampuan cakar-cakarnya: apa cakar ini asli? Mungkin begitu pikirnya. Lalu penasaran dengan runcing cakarnya sendiri, si pemula itu, menjajalnya ke muka saya. Lantas dia begitu gembira dengan mainan barunya, lantas dia berniat melakukannya lagi dan lagi dan lagi. Dan korbannya muka saya lah yang jadi sasaran ketololannya itu.

Eh, tapi, ngomong-ngomong soal ketololan, apa Anda ingat tentang seekor kecoak yang mati tanpa kepala? Seekor kecoak itu yang mati dan jadi hantu dan tanpa kepala dan otak?

Saya sih berharap, ini cuma salah paham.

Sunday, December 3, 2017

Hari Ini Hujan, Kita Tak Akan Pergi Kemana-mana

    Ilustrasi: Instagram.com/itsme.ashffyw/

Kita tak akan pergi ke mana-mana. Kau selalu bilang mendambakan aroma tubuh apel yang menempel pada diriku. Karena hanya dengan berada di dekatku kau merasa bisa mencium segala sesuatunya dari pada yang kau pikirkan.

Apa yang kau pikirkan ketika jauh dariku, kau berkata, kau kesepian. Bahkan saat dirimu merasa ramai. Padahal kau juga sama sekali tak punya alasan untuk mengingkarinya.

Kita memang tidak akan pergi ke mana-mana. Itu lebih baik. Karena sekalipun kita berhasil mengambil jarak, apa yang akan kita peroleh ialah sama saja.

Merelakan diri mengunjungi taman, mal, museum, atau sekedar menonton galeri lukisan-lukisan, atau menanamkan kaki di pasir putih pantai, kau tahu, kita hanya akan mendapati diri kita yang kesepian di tempat lain; kita hanya akan menemukan diri kita yang terjebak kesepian di tubuh orang lain.

Jadi sudah kuputuskan hari ini kita tidak akan pergi ke mana-mana. Dulu aku datang padamu sebagai seorang kesepian, dan kau menghampiriku layaknya seorang yang putus asa. Jadi tetaplah bersamaku. Karena dengan begitu kau tak perlu merasa dirimu sedang berpaling pada orang lain. Dan begitu juga aku.

Aku tak akan meninggalkanmu. Maka aku pun seperti yang telah kukatakan padamu, tidak akan ke mana-mana seperti seharusnya sebelum dirimu sendiri urung membuat keputusan.

Aku tak akan meninggalkanmu. Sedetik pun tidak. Iya kalo pun kau menganggap aku teman setiamu, itulah aku. Tidak apa-apa. Sekalipun kau lebih sering bersikap kasar padaku dan menganggap diriku hanya sebuah produk pikiranmu. Yang mudah sekali diprogram, disusupi, dimanupulasi, dan rawan mabuk setiap kau turut serta membawaku dalam rangkaian perjalanan-perjalananmu. Yang mudah sekali kau abaikan nasehat-nasehatnya. Yang tak lagi kau percayai kata-katanya. Yang jika bukan bagian dari tubuhmu sendiri, mungkin, kau sudah meninggalkanku di setiap tempat perjalanan yang menjadi persinggahanmu.

Namun karena boleh jadi manusia itu bersifat tunggal tapi kesepiannya justru membuatnya berlipat ganda, kau tak pernah bisa benar-benar meninggalkanku. Karena dengan meninggalkanku, sebagian dirimu yang lain, akan memugutnya lagi. Begitu terus sampai kau sendiri tak punya alasan menolak alih-alih menerimanya dan mulai memeliharanya kembali. Dan apa yang akan kau lakukan saat sadar dirimu hanya kutipan bagi orang lain?

Lalu mengapa kita harus pergi? Jika menuju sama dengan melihat sisi baiknya. Adalah kita bisa tetap bersama. Karena bagiku, bersamamu adalah unsur kebahagiaanku.

Hari ini hujan, dan kau tak perlu berpikir: aku adalah dirimu yang lain. Jangan sekali-kali mengira begitu. Karena aku tak mau jadi orang-orang di luar sana. Yang merasa dirinya basah kuyup, yang memperoleh kenikmatan hidup sekali tapi justru sanggup mati berkali-kali.

Aku tak ingin jadi benda-benda yang terjebak hujan di luar jangkauan kita. Jika boleh aku hanya ingin jadi benda kesayanganmu yang senantiasa berada di dekatmu. Yang sanggup menenangkan semua kecemasanmu, melipur rahasia laramu, mengajakmu hidup lebih dari sekali.

Hari ini hujan. Dan kita tak akan pergi ke mana-mana. Mengapa aku menginginkanmu begitu? Kau yang paling tahu jawabannya.

Ajibarang, 11 Oktober 2017

Di tempat.

Doaku Siang Ini

Ilustrasi: dokumen pribadi/
Untuk kau,

Dan untuk kau, sekali lagi ini bukan  hari keberuntunganku. Kulihat, orang-orang lewat dan menyerupaimu. Perangai yang kuingat betul kurangkai tahun demi tahun ketika aku mencicil mencintaimu. Diriku yang kepayahan, dirimu yang lunas lebih dulu ketimbang yang kuharapkan.

Aku mencintaimu dan itukah alasan kau membenciku. Tidak sama sekali. Aku bahkan bagai mengenakan jam tangan, tapi tak pernah tahu ketepatan. Kapan tepatnya aku mulai mencintaimu setiap hari sama yang kuperlukan untuk menahan diriku agar tetap bernapas. Meskipun dengan cara lain, kau justru bernapas untuk membenciku.

Di antara letih, perih dan laparku. Jadilah yang tak terganti. Karena dengan begitu jatuh cinta denganmu takkan pernah sama jatuh cinta dengan orang lain.

Aku memang mencintaimu tapi tak mungkin betah berlama-lama. Tubuhku sering ditinggalkan banyak orang, diriku sendiri menginginkan pergi. Aku tak punya kesabaran menanti bagai orang-orang shaleh menuntaskan setengah agamanya. Aku tak punya cukup keyakinan untuk menunggu secepat ia sampai kepadaku. Kembali mencintaimu adalah caraku memulai keseimbangan itu.

Aku mencintaimu bahkan kupastikan sampai ke akar-akarnya. Kubayangkan dirimu pohon. Yang mencengkeram tanah dan batu. Begitu kuat. Adalah dosa menyembah sebatang pohon, tapi urusanku bukan untuk percaya bagaimana kau bekerja keras siang dan malam bagai penjaga toko, melainkan caramu berdiri tak tergoyahkan oleh angin, badai, dan bencana ketika yang meluluhkan.

Aku memang mencintaimu tapi tak pernah cukup tegar untuk menghadapinya. Meskipun setengah bocah laki-laki di dalam tubuhku kerap berterus terang mengaku dirinya sudah dikalahkan, dihancurkan, dikeping-kepingkan.

Akulah gigil itu yang gagal di tubuh ikan. Di dasar, di dasar, di dasar kolam kau tak melihatku.

Tapi aku mencintaimu dan kau tahu apa doaku siang ini ketika menatap langit? Semoga harimu baik. Semoga hari ini menjadi hari keberuntunganmu di antara milyaran manusia yang tidak beruntung seperti aku.

*

Ajibarang, 3 Desember 2017

Friday, December 1, 2017

Mendengar Ia Mengomel


Ilustrasi: https://www.instagram.com/mayrianadhani/

Di telinga saya, seseorang mengomel dan bicara tanpa henti dan tanpa bisa dihentikan.

Hari ini saya sama sekali kurang bersemangat. Rasanya bagai baru diputuskan pacar; atau karena saya tak punya pacar yang telah menemani saya bertahun-tahun di hari-hari buruk dan muram, alasan itu terpaksa saya coret. Mungkin akan lebih tepat jika saya analogikan rasanya bagai belum bayar kontrakan selama berbulan-bulan; tapi karena saya hidup menumpang bersama orang tua, artinya saya tak perlu cemas. Atau rasanya saya belum membayar kas negara, tapi karena saya mungkin satu dari 2,3 juta warga negara yang tidak peduli dengan mobilitas keuangan negaranya, saya bisa mengabaikan fakta itu dengan mudah. 

Saya pikir, saya selalu nampak punya pelbagai alasan terhadap kegiatan yang saya lakukan. Saat sedang mengulur waktu misalnya, saya bersedia bersenang-senang menjerang air hanya demi membuat dubur saya merasa nyaman ketika cebok. Anda harus merasakannya sendiri jika tidak percaya. Penting diketahui bahwa betapa menyenangkannya saat dubur kita cebok dengan air hangat. Namun masalahnya, untuk hari ini, saya tak bisa menjelaskan perasaan yang tiba-tiba muncul tentang pertanyaan sentimentil: mengapa hari ini saya kurang bersemangat? 

Sejauh yang saya mengerti, saya tidak mengerti. Saya mengerti hidup ini harus dijalani, dengan alis yang kadang-kadang perlu disatukan untuk memahami kebenarannya, dengan arah hidung yang menghadap ke arah pas, dan sebagainya dan sebagainya. Lawan dari api bekerja adalah api yang menganggur. Lalu apa yang Aan Manyur bilang di buku puisinya, Tokoh-tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita? Saya jadi ingat kalau saya tak mengingat apa-apa. Hari ini saya kurang bersemangat. Tapi saya pergi ke kamar, mengambil jaket, menciumnya seperti seorang kekasih, lalu membekap jaket bisbol itu di pelukan saya, lalu mengenakannya dengan lumayan pantas. Hari ini sudah saya putuskan tidak akan melawan siapa-siapa. Dengan mengenakan jaket abu-abu yang saya kenakan, mungkin saya berencana menyerahkan diri kepada mereka. Tapi arah menuju ke sana pun saya tak tahu, justru air panci yang saya siapkan lima menit lalu sudah mendidih di pancinya. Hari ini pula saya sedang tidak bersemangat mengulur waktu, maka saya mengabaikan air yang seharusnya saya gunakan untuk cebok, dan memakainya untuk membuat kopi. 

Saya bersijingkat. Lalu tiba-tiba secangkir kopi terhidang di hadapan saya. Dengan ya, um, sikap sedikit gerakan agak lotus, saya sampai pada kesimpulan: Hari ini saya kurang bersemangat, akan tetapi saya putuskan untuk mendengar seseorang mengomel tanpa henti di dasar permukaan telinga saya dengan agak bersemangat!  
© Guebaca.com
Maira Gall