Inilah Alasan Penulis Sebaiknya Berhenti Menulis

Ilustrasi: prelo.co.id

Di Indonesia profesi sebagai penulis belum terlalu dikenal. Tidak terlalu populer juga buat dijadikan pekerjaan di kolom KTP. Enggak seperti dokter, guru, atau tukang  batu akik. Konon karena kebanyakan profesi ini dipandang sebelah mata, penuh suka cita, pemerintah kurang berani mengkategorikan penulis sebagai pekerjaan karena dengan bergelut di dunia kepenulisan itu artinya mereka membiarkan orang lain secara tak langsung mendekati kemiskinan. Wirausaha, buruh atau pengangguran  sekali pun lebih terdengar masuk akal. Ketimbang menjadi penulis, orang tua kita tentu saja lebih mewanti-wanti anaknya agar jadi guru bimbel. Yang lain, teman-teman di sekitar kita, akan mengusulkan: lebih baik jadi tukang sabung ayam.

Betul. Itu memang padangan gila. Namun sial, steorotip pekerjaan penulis sudah kadung melekat di benak masyarakat, memandangnya dengan harapan yang begitu sinis.

Akan tetapi tetapi tentu saja ada orang yang diam-diam menganggap profesi itu cukup keren. Sekalipun dalam artian yang sederhana. Keren buatmu belum tentu keren buatku.

Orang macam Andrea Hirata, Raditya Dika, Jk Rowling, adalah penulis dan mereka keren karena mereka kaya raya. Chairul Tanjung, pengusaha, tua, berkulit cokelat, tapi dia keren karena dia kaya raya.

Dari keempat contoh tokoh di atas tentu Anda bisa menyimpulkan. Keren artinya meninggalkan jejak di rekening. Keren artinya Anda punya penghasilan. Keren artinya Anda menulis dan laku, keren artinya Anda punya satu cara untuk membujuk orang lain membeli tulisan-tulisan Anda; jika tidak, maka rekening Anda kosong, jika rekening Anda kosong, artinya tak ada jejak, jika tak ada jejak artinya Anda tak punya penghasilan, jika Anda tak punya penghasilan, artinya Anda mustahil kaya, jika Anda mustahil kaya macam keempat tokoh di atas, artinya Anda tidak keren.

Yah, bukan hanya disayangkan, akan tetapi memang memalukan. Maka tidaklah heran jika profesi ini sering dikucilkan oleh masyarakat. Bertahun-tahun sampai tingkat waktu yang menghawatirkan. Hingga orang yang bersangkutan yakni penulis itu sendiri sering merasa malu dengan profesinya itu.

Kita akan mengumpulkan sepuluh pekerjaan yang amat disegani di masyarakat. Ke sepuluh profesi ini hendak mengadakan reuni. Tapi sayang, tujuh dari kesepuluh rekan kita yang hendak temu kangen di sebuah cafe, Minggu, di siang hari yang begitu terik tak bisa hadir karena mereka terlalu sibuk. Jadi kita hanya akan menemui tiga orang yang secara beruntung bisa kita simak jalan ceritanya. Oke, mari kita langsung saja menuju tempat kejadian perkara dan lihat apa yang terjadi.

Kita akan melihat mereka duduk melingkari meja. Meja yang bulat yang teksturnya lembut dan halus, dengan bangku empuk dan nyaman. Lalu kita akan menarik napas dalam-dalam sebagai permulaan, lantas mulai mendengar- kalau tidak boleh disebut menguping--orang berpakain serba putih itu berkata, "Saya selama ini bekerja sebagai dokter. Anda?"

Lalu kita akan mendengar, orang yang ditanya menjawab, dengan nada sedikit santai namun penuh kebanggaan, "Saya punya seratus kambing dan lima puluh sapi. Mereka gemuk-gemuk karena karyawan saya memberinya makan. Kemudian vitamin satu minggu sekali. Saya tak pernah punya anak. Tapi saya bisa merasakan merawat mereka seperti merawat anak saya sendiri. Dua hari lalu anak saya yang paling kecil, namanya Penyair. Dia sakit. Saya membawanya ke dokter. Tapi sewatu dalam perjalanan ke rumah sakit nyawanya tak tertolong. Saya menangis sehari semalam waktu itu. Saya sangat menyayanginya. Tapi kayaknya dia tak menyayangi saya. Dia meninggalkan saya di dunia yang menyedihkan ini. Bagaimana menurutmu?"

Dia menatap orang di seberang meja. Orang di seberang meja, memakai kemeja kumuh, dengan rambut kucel, nampak seperti tak pernah disisir dan dia terlihat selalu seperti sedang memicingkan matanya, meskipun tak bermaksud begitu. Akan tetapi kita tak boleh menilai orang lain secara berlebihan, sebab ada yang lebih penting yang akan segera kita dengar. Yakni tanggapannya.

"Saya....," nada pria-di-seberang-meja-itu- tertahan. "Apa maksud Anda menamai anak kambing atau anak sapi atau anak terakhir Anda penyair? Apa Anda bermaksud menghina profesi sebagai penya-- " Kalimatnya dipotong oleh seseorang.

Orang itu tepat berada di samping pria itu. Dia memiliki pekerjaan yang menuntutnya bangun pagi serta kewajiban menjaga nama baiknya. Kalau bisa tetap membuatnya stabil dan terdengar ideal. Tahun ini dia akan mencalonkan diri lagi sebagai wakil kepala desa kalau jabatan sebelumnya kurang memuaskan. Dia berkata, "O, Penyair yang malang." Lalu terkekeh.

Kita akan kembali ke pria-di-seberang-meja, yang perangainya lucu. Namun tak pernah membuat dirinya merasa nyaman jika suatu kesempatan menuntutnya mengungkapkan jati dirinya selama ini: jadi siapa dia hari ini?

Pertanyaan itu terlalu konyol. Akan tetapi jika dia diberi kesempatan untuk menjawab jadi siapa dia hari ini, tentu saja dia akan berkeras menjawab: dia jadi diri sendiri.

Tapi tunggu sebentar.

Oke. Tentu saja itu bisa dimaklumi. Semua pria dan semua jenis pekerjaan yang dimilikinya, adalah supaya mereka tahu apa yang diinginkannya. Apa yang membuat hidup mereka nyaman. Misalnya  cara mereka menentukan pilihan ingin bekerja seperti apa. Berapa banyak keuntungan yang diperoleh dan sebarapa sering mereka berbahagia, tanpa sedikit pun menyesali keputusannya kelak.

Kita akan mengingat pria pertama itu lagi. Yang bekerja sebagai dokter. Kita akan berdoa untuknya. Karena cita-citanya semenjak kecil hingga dewasa tak pernah berubah. Itu sungguh menganggumkan. Semoga dia selalu dilimpahi rahmat dan kebahagiaan.

Namun yang sebetulnya jadi pusat perhatian kita adalah bukan kepada ketiga pria yang sedang duduk-duduk melingkari meja. Melainkan kepada mereka, ketujuh rekan kita yang tak bisa hadir.

(*)

2 comments

asep sutisna said...

segar ,masih terasa hangat karyamu mas wi.pacu semangat ntar model caramu bertutur semangkin punya nilai unik semakin khas.dan selera tidak sadar orang akan semangkin gandrung dg hasil mu

Andi Wi said...

Makasih mampirnya kang asep. Makasih pula apresiasinya.. Semoga semakin meningkat ya bagi kita semua. Amin.

Salam hangat mas asep 😂

Powered by Blogger.