Thursday, November 30, 2017

Kamu Jangan Sakit

Ilustrasi: https://www.instagram.com/debbypermata/

Kamu jangan sakit. Demi tuhan, dunia punya penderitaan yang membuatku ngeri. Menyaksikanmu yang begini cuma membuatku terlihat semakin menuntut. Jangan sakit. Jangan sakit. Sekalipun itu yang kamu inginkan. Sebab jika kamu sakit, aku tak bisa menolongmu. Apa yang bisa kuperbuat. Apa yang sedang kamu lakukan dengan dirimu sendiri? Tolong, jangan sakit, aku tahu kamu juga tak ingin melakukannya untukku 'kan?

Kumohon jangan sakit. Jangan sakit. Sebab jika kamu sakit, aku tak bisa mengajakmu berjalan-jalan ke dalam pikiran kita yang nakal, yang suka berseloroh, yang telah lama sekali menarik diri dari minat dan kehendak. Maka kembalilah. Aku minta. Padamu.

Sebab jika kamu sakit, sebab jika kamu sakit aku serasa kamu sedang mencampakkanku. Aku seperti seekor kucing di bawah ranjang yang menunggu diberi makan.

Kembalilah. Tunjukan dirimu yang sumringah ketika mengelus bulu-bulu lembutku. Kembalilah dan lekas beri aku makanan sisa-sisamu. Kembalilah karena hanya kamu yang kumiliki di dunia yang maha luas ini. Dunia luar yang penuh duri.

Kembalilah. Jangan tertidur saja seolah kamu ingin melakukannya hingga tua. Sebab jika kamu memang ingin sakit, kita hanya akan melakukannya bersama-sama. Kelak, jika kesempatan itu berlabuh merindukan kita dihari tua. Seperti selamanya kita ingin melakukannya setiap hari.

***

Andi Wi

1 Desember 2017

Inilah Alasan Penulis Sebaiknya Berhenti Menulis

Ilustrasi: prelo.co.id

Di Indonesia profesi sebagai penulis belum terlalu dikenal. Tidak terlalu populer juga buat dijadikan pekerjaan di kolom KTP. Enggak seperti dokter, guru, atau tukang  batu akik. Konon karena kebanyakan profesi ini dipandang sebelah mata, penuh suka cita, pemerintah kurang berani mengkategorikan penulis sebagai pekerjaan karena dengan bergelut di dunia kepenulisan itu artinya mereka membiarkan orang lain secara tak langsung mendekati kemiskinan. Wirausaha, buruh atau pengangguran  sekali pun lebih terdengar masuk akal. Ketimbang menjadi penulis, orang tua kita tentu saja lebih mewanti-wanti anaknya agar jadi guru bimbel. Yang lain, teman-teman di sekitar kita, akan mengusulkan: lebih baik jadi tukang sabung ayam.

Betul. Itu memang padangan gila. Namun sial, steorotip pekerjaan penulis sudah kadung melekat di benak masyarakat, memandangnya dengan harapan yang begitu sinis.

Akan tetapi tetapi tentu saja ada orang yang diam-diam menganggap profesi itu cukup keren. Sekalipun dalam artian yang sederhana. Keren buatmu belum tentu keren buatku.

Orang macam Andrea Hirata, Raditya Dika, Jk Rowling, adalah penulis dan mereka keren karena mereka kaya raya. Chairul Tanjung, pengusaha, tua, berkulit cokelat, tapi dia keren karena dia kaya raya.

Dari keempat contoh tokoh di atas tentu Anda bisa menyimpulkan. Keren artinya meninggalkan jejak di rekening. Keren artinya Anda punya penghasilan. Keren artinya Anda menulis dan laku, keren artinya Anda punya satu cara untuk membujuk orang lain membeli tulisan-tulisan Anda; jika tidak, maka rekening Anda kosong, jika rekening Anda kosong, artinya tak ada jejak, jika tak ada jejak artinya Anda tak punya penghasilan, jika Anda tak punya penghasilan, artinya Anda mustahil kaya, jika Anda mustahil kaya macam keempat tokoh di atas, artinya Anda tidak keren.

Yah, bukan hanya disayangkan, akan tetapi memang memalukan. Maka tidaklah heran jika profesi ini sering dikucilkan oleh masyarakat. Bertahun-tahun sampai tingkat waktu yang menghawatirkan. Hingga orang yang bersangkutan yakni penulis itu sendiri sering merasa malu dengan profesinya itu.

Kita akan mengumpulkan sepuluh pekerjaan yang amat disegani di masyarakat. Ke sepuluh profesi ini hendak mengadakan reuni. Tapi sayang, tujuh dari kesepuluh rekan kita yang hendak temu kangen di sebuah cafe, Minggu, di siang hari yang begitu terik tak bisa hadir karena mereka terlalu sibuk. Jadi kita hanya akan menemui tiga orang yang secara beruntung bisa kita simak jalan ceritanya. Oke, mari kita langsung saja menuju tempat kejadian perkara dan lihat apa yang terjadi.

Kita akan melihat mereka duduk melingkari meja. Meja yang bulat yang teksturnya lembut dan halus, dengan bangku empuk dan nyaman. Lalu kita akan menarik napas dalam-dalam sebagai permulaan, lantas mulai mendengar- kalau tidak boleh disebut menguping--orang berpakain serba putih itu berkata, "Saya selama ini bekerja sebagai dokter. Anda?"

Lalu kita akan mendengar, orang yang ditanya menjawab, dengan nada sedikit santai namun penuh kebanggaan, "Saya punya seratus kambing dan lima puluh sapi. Mereka gemuk-gemuk karena karyawan saya memberinya makan. Kemudian vitamin satu minggu sekali. Saya tak pernah punya anak. Tapi saya bisa merasakan merawat mereka seperti merawat anak saya sendiri. Dua hari lalu anak saya yang paling kecil, namanya Penyair. Dia sakit. Saya membawanya ke dokter. Tapi sewatu dalam perjalanan ke rumah sakit nyawanya tak tertolong. Saya menangis sehari semalam waktu itu. Saya sangat menyayanginya. Tapi kayaknya dia tak menyayangi saya. Dia meninggalkan saya di dunia yang menyedihkan ini. Bagaimana menurutmu?"

Dia menatap orang di seberang meja. Orang di seberang meja, memakai kemeja kumuh, dengan rambut kucel, nampak seperti tak pernah disisir dan dia terlihat selalu seperti sedang memicingkan matanya, meskipun tak bermaksud begitu. Akan tetapi kita tak boleh menilai orang lain secara berlebihan, sebab ada yang lebih penting yang akan segera kita dengar. Yakni tanggapannya.

"Saya....," nada pria-di-seberang-meja-itu- tertahan. "Apa maksud Anda menamai anak kambing atau anak sapi atau anak terakhir Anda penyair? Apa Anda bermaksud menghina profesi sebagai penya-- " Kalimatnya dipotong oleh seseorang.

Orang itu tepat berada di samping pria itu. Dia memiliki pekerjaan yang menuntutnya bangun pagi serta kewajiban menjaga nama baiknya. Kalau bisa tetap membuatnya stabil dan terdengar ideal. Tahun ini dia akan mencalonkan diri lagi sebagai wakil kepala desa kalau jabatan sebelumnya kurang memuaskan. Dia berkata, "O, Penyair yang malang." Lalu terkekeh.

Kita akan kembali ke pria-di-seberang-meja, yang perangainya lucu. Namun tak pernah membuat dirinya merasa nyaman jika suatu kesempatan menuntutnya mengungkapkan jati dirinya selama ini: jadi siapa dia hari ini?

Pertanyaan itu terlalu konyol. Akan tetapi jika dia diberi kesempatan untuk menjawab jadi siapa dia hari ini, tentu saja dia akan berkeras menjawab: dia jadi diri sendiri.

Tapi tunggu sebentar.

Oke. Tentu saja itu bisa dimaklumi. Semua pria dan semua jenis pekerjaan yang dimilikinya, adalah supaya mereka tahu apa yang diinginkannya. Apa yang membuat hidup mereka nyaman. Misalnya  cara mereka menentukan pilihan ingin bekerja seperti apa. Berapa banyak keuntungan yang diperoleh dan sebarapa sering mereka berbahagia, tanpa sedikit pun menyesali keputusannya kelak.

Kita akan mengingat pria pertama itu lagi. Yang bekerja sebagai dokter. Kita akan berdoa untuknya. Karena cita-citanya semenjak kecil hingga dewasa tak pernah berubah. Itu sungguh menganggumkan. Semoga dia selalu dilimpahi rahmat dan kebahagiaan.

Namun yang sebetulnya jadi pusat perhatian kita adalah bukan kepada ketiga pria yang sedang duduk-duduk melingkari meja. Melainkan kepada mereka, ketujuh rekan kita yang tak bisa hadir.

(*)

Wednesday, November 29, 2017

Petang Ini

Ilustrasi: https://www.instagram.com/t.1972/


Apa yang paling hakiki dari kita
Hidup rasanya telah membantuku
Jatuh cinta padamu
menyampaikan bahwa
: aku harus menunggu

Tapi dia tidak tahu
Bahwa aku sudah di sini sejak lama
Semenjak orang-orang patah hati
Dan mereka, mengenalkan cinta sejati mereka kepadaku.

Berapa banyak keberanian yang dibutuhkan?
Kesabaran macam apa bagi yang
setia
menanti pelajaran-pelajaran dimulai?

O. Sudah.
Jika ini bukan tentang kamu
Aku pasti sudah menyerah
Dan mencari jalan keluar

Ingin sekali mendengar sesuatu yang menghibur.
Tapi aku tak bisa hentikan hujan ini

Kengerian di dadaku
Adalah selalu kegembiran
Bel sekolah yang dinantikan anak-anak
Mengeluarkan diri dari balik pintu ruang kelas.

Tanpamu aku adalah seorang guru
Yang tiba-tiba merasakan senyap
Ngilu. Sunyi yang sekali,
hendak kusimpan sampai petang ini
hingga besok
Anak-anak itu kembali. Aku sudah tak sabar.


Inilah 5 Kalimat Penting yang harus Kamu Ucapkan Ketika Sedang Terpuruk

Ilustari: http://cdn.trivia.id/trivia/restyamalia/medium

Semua kalimat bagus diucapkan. Kapan saja. Masalahnya kita tak pernah tahu kapan sebaiknya kalimat itu diucapkan. Saat orang-orang yang kita cintai berkata menyakitkan, Bos Besar yang terus-menerus menutut Anda bekerja super ektra atau mainan yang selama ini Anda bangun dan kumpulkan dengan susah payah, oleh orang lain justru dirusak begitu saja tanpa sedikit pun yang tersisa.
Beberapa orang mengenal hari semacam itu sebagai hari buruk. Sisanya amat mengenal sekali. Bahkan bisa dikatakn akrab. Nah, pertanyaannya bagaimana cara kita melaluinya, melintasinya dengan riang suka cita yang tidak berlebihan dan terdengar lumayan untuk masalah yang sering kali kita dapatkan.
Di bawah guebaca.com ingin membagi tips-tips berikut kalimat yang mungkin sedikit membantu hari-hari terpuruk Anda.

Apa saja itu?

Simak baik-baik ya...

Inilah 5 Kalimat Penting yang Harus Kamu Ucapkan Ketika Sedang Terpuruk

Ilustrasi: https://cdn.brilio.net/

1. Katakan saya bisa: Bisa! Bisa! Bisa! 

Sebanyak rekaat witir. Atau lebih juga tak masalah.
Kalimat di atas memang, meskipun terdengar klise namun seperti yang sering Anda dengar, kadang lumayan manjur. Anda bisa mengatakannya kapan saja Anda mau. Lebih sering lebih bagus. Cara ini juga ampuh ketika Anda grogi hendak berkata sebaliknya.

2. Ayolah, .....
Kalimat kedua adalah kalimat persuasi. Artinya mengajak. Ketika Anda mengucapkan kalimat di atas besar kemungkinan Anda akan bisa mencapai sesuatu yang ingin Anda capai.
Anda membujuk diri Anda untuk melakukan sesuatu yang biasanya mustahil Anda lakukan. Anda mengajak diri Anda, bernegosiasi bahwa banyak hal penting yang mesti dilakukan, dipikirkan dan ditemukan akar masalahnya lalu diselesaikan dengan baik-baik. Kapan terakhir kali Anda punya kemampuan semacam itu?

Ayolah, kita bisa mengatasi ini semua!

3.Semua Baik-baik Saja Kan?

Kalimat ketiga tak kalah klise dari kalimat sebelumnya. Akan tetapi percaya atau tidak, saat kita mengucapkan semua masih dalam kendali kan? Semua masih baik-baik saja kan?
Niscahya dengan pikiran seadem ubin masjid, kita akan melalui masalah itu dengan mudah. Tentu saja, tanpa sengaja mengijak kaki orang lain.

4. Yah, Ini cuma masalah akhir pekan...

Kalimat keempat yang perlu Anda ucapkan, misalnya ketika Anda Jomblo dan menghadapi hari Sabtu yang paling buruk. Namun cuaca begitu cerah. Malam hari bulan sabit menggantung di atas langit, lalu tiba-tiba Ibu Anda menginginkan Anda menemainya ke luar rumah, berbelanja bulanan, dan tak bisa menolaknya.

Di setiap sudut jalan Anda mengendari sepeda motor, banyak remaja-remaja pacaran. Di depan pintu masuk swalayan. Di lorong-lorong swalayan aneka buah-buahan, perlengkapan mandi, dan dimana-mana yang Anda dapati cuma rasa iri, rasa kesal, rasa dicapakkan.
Tarik napas Anda dalam-dalam. Embuskan secara perlahan. Maka tepat saat itulah sebaiknya Anda ucapkan kalimat di atas: Yah, ini cuma masalah akhir pekan!

Yah, kita tahu, ini memang tak akan pernah seakan-akan berjalan normal. Namun tentu saja hidup tak menyukai orang-orang pengecut jika yang dimaksud menghindarinya. Kita tak bisa menyingkirkan hari buruk yang tepat terjadi di depan bulu mata kita seolah-olah itu hanya mimpi. Padahal kenyataannya memang terjadi.

Semoga tips di atas bermanfaat bagi Anda.

Oh ya, kalimat kelima tak dicantumkan. Sebab guebaca.com menanti kalimat manjur dari Anda yang tentu saja lebih berpengalaman menghadapi hari buruk. Bagaimana cara Anda mengatasinya?

Tabik,


© Guebaca.com
Maira Gall