Friday, May 18, 2018

Ia yang Ingin Kau Miliki Sepenuhnya Tapi

Ilustrasi: @lupitadewief
Dulu bulan puasa begini kita lebih sering ketemu. Kau pagi-pagi betul ke masjid, tersenyum ketika kita berpapasan. Kau pulang kuliah siang hari dengan cara berjalanmu yang amat lambat dan mengkhawatirkan, seolah itulah cara terbaik mengulur waktu untuk kita bertemu di depan pintu rumahku.

Menjelang magrib, aku menyaksikanmu lemas seperti seorang yang kurang darah, aku, mengintipmu dari balik jendela kamarku kau memasak menyiapkan tajil untuk keluarga besarmu.

Menjelang hampir adzan magrib, kau repot-repot berubah jadi anak  baik dan lucu dan manis dan segalanya gambaran seorang sempurna pendamping hidup dunia akhirat demi mengirimku masakan terbaikmu untuk aku santap bagi puasaku.

Selepas magrib, kini kau benar-benar menyatakannya sebagai bidadari surga yang mengenakan mukena, yang menggulung sajadahnya di tangan kanannya untuk memenuhi panggilan isya dan taraweh.

Lantas rasanya saat kau melewatiku, aku ingin sekali menabrakmu dengan gerakan sengaja agar kekacauan kita terjadi lagi yang tentu saja membikin kita semakin akrab. Tapi sayang aku tak pernah berani bertindak sebesar itu. Tak pernah sekecil pun berani ingin melakukannya. Justru yang kupikirkan malah aku hanya akan mengotorimu.

Kemudian yang bisa kulakukan, aku memerhatikanmu dari jauh saat mengambil air wudhu meskipun itu artinya aku sudah suci. Aku melakukannya, membersihkan kaki dan tanganku berkali-kali banyaknya meskipun itu artinya sudah bersih dan suci dan mungkin saja kubik air masjid akan kuhabiskan sendiri kalau saja tak ada orang yang menghentikannya.

Dari matamu aku melihat surga
Jauh lebih dekat dari pada
yang kubayangkan
yang kitab bilang
Susah dicapai bagi pemalas
berandal, dan 
kucing yang beribadah dengan menggulungkan tubuhnya
di atas kain pel.

Ambilah darahku kalau kau mau 
Andai hari terlalu panas
Andai kau lemas, ambilah
Tapi jangan ambil semuanya
Karena semuanya belum kumiliki.

Sepulang taraweh saat semua orang meninggalkan barisan menuju pintu keluar, entah kenapa aku punya keinginan kuat ingin menyundulmu. Tapi maksudku bukan ke arah gawang pintu melainkan menjauhkanmu dari jalan keluar tersebut. Ingin kubilang padamu, "Jangan pulang dulu. Sebentar saja. Lima menit. Aku pengin natap kamu."

Itu memang konyol. Bagaimana caraku menahanmu? Aku harus cari alasan. Aku sudah tak sabar ingin menemukan alasannya. Bagaimana kalau kita buka bersama besok? Ah. Itu terlalu lama. Kenapa harus besok! Sekarang saja. Tapi rasanya sekarang kau pasti sudah buka puasa. Apa ini? Apa ini alasannya? Sekali lagi aku memang bukan jenis orang yang pawai membujuk orang lain agar sedetik bersamaku.

Dari ribuan jamaah yang keluar dari pintu masjid, aku tak pernah kesulitan menemukanmu. Kau gampang sekali kutemukan karena kau punya ciri khas dan detail yang mengagumkan. Kau mengenakan mukena putih dengan tali putih yang masih terikat di kepala dan tentu saja semua orang memang mengenakan mukena putih dan tali kepala putih. Tapi aku bersungguh-sungguh aku selalu menemukanmu di antara bidadari-bidadari itu. Aku seekor anjing pelacak handal yang dengan satu endusan dengan mudah mampu menemukan targetnya. 

Aku melatih semua indraku dengan telaten untuk giat menggambarkanmu dalam mimpi dan sadarku, dan kurasa takkan ada orang yang sanggup menyamaiku. Apa kau tahu?

Ya, tentu saja kau tidak tahu. Sebab bagaimana pun fakta inilah yang membuatku sedih. Sebab jika ada satu orang saja yang sanggup menyamaiku dan kemampuannya malah lebih baik dariku, mungkin inilah saatnya menyaksikanmu menikah lebaran kali ini.


Andi Wi

Ramadhan Kedua,

Ajibarang, 18 Mei 2018 

Friday, May 11, 2018

Harga Sebuah Masa Lalu

Ilustrasi: shuttershock

Aku tadi tiba-tiba memikirkanmu ketika menyebrang jalan. Tapi syukurlah aku bisa selamat. Seorang pengendara tiba-tiba kehilangan kendali. Lalu ia berhenti sebentar, memutar lehernya seperti burung hantu lalu memakiku, "Bangsat!"

Tapi kurasa dia masih sangat kesal. Kemudian untuk menyalurkan kekesalannya lagi, sebelum dia melajukan kendaraannya kembali, dia menambahkan, "Kalau jalan liat-liat ya, Sial!"

Aku tidak mengangguk. Tak juga menggeleng. Aku lelaki yang sudah cukup tua untuk membalas makian dengan makian.

Hari ini kau ulang tahun. Aku bingung ingin memberi kado apa. Tapi kurasa aku tak perlu memikirkannya karena kekasihmu pasti sudah memikirkan ini jauh hari sebelum aku sempat memikirkannya.

Dulu, saat menjelang ulang tahunmu dan aku bertanya padamu kau mau apa, kau selalu jawab: kau tak ingin apa-apa. Kau cuma ingin bersamaku di hari ulang tahunmu. Saat itu aku cuma tersenyum. Ternyata kebahagiaanmu mudah sekali. Dan saat kau ulang tahun, aku selalu menyempatkan diri untuk ada di sampingmu. Untuk mengabulkan permohonanmu yang simpel dan super murah itu.

Tapi waktu ternyata bukan hanya berlalu tapi melintas. Dan tak ada satu pun lampu merah yang mampu menghentikannya sampai kemudian pun kita juga memutuskan melanjutkan hidup masing-masing. Kau dengan orang yang kau cintai dan aku dengan diriku sendiri. Kau ke arah barat sementata aku ke arah timur. Kau terus melaju, begitu juga denganku. Tapi meski bumi ini bulat kita tak akan pernah bertemu lagi.

Lalu hari ini pun sampai. Di hari ulangmu, seperti dulu kau bilang hanya ingin bersamaku, aku kepikiran tak bisa mewujudkannya; kebahagiaanmu itu yang simpel dan super murah.

Pelajaran pertama. Ternyata apa yang kita yakini murah dan simpel akan jadi amat mahal jika itu melibat waktu.

Hari ini mungkin harga es cendol tiga ribu rupiah, tapi lima tahun ke depan nominal itu mungkin tak pernah sama lagi.

Benar. Sambil menunggu angkotku masuk ke jalurnya, aku memang sedang memesan segelas es cendol di pinggir jalan. Satu bulan lalu harganya masih tiga ribu rupiah, tapi hari ini harganya sudah melambung. Mungkin statistiknya akan terus merangkak sampai tingkat yang mengkhawatirkan.

Aku membayangkan di tahun 2090 harga cendol bisa mencapai satu juta rupiah. Harga yang menggiurkan untuk memulai buka usaha sendiri. Sungguh tolol apa yang sedang kupikirkan.

Tapi memangnya siapa yang tak suka makan es cendol siang panas terik begini? Dan mumpung masih bisa membelinya dengan harga murah, bagaimana kalau kita makan sebanyak-sebanyaknya? Sungguh sebanyak-banyaknya sampai kita mungkin saja bisa berubah diri jadi Hulk? Hulk. Monster bertubuh hijau itu. Kau tahu kan?

Ya, aku tahu itu memang tidak lucu. Karena kau selalu ingin sesuatu yang lucu 'kan? Begini. Aku punya ide. Bagaimana kalau kita memikirkan manusia sewaktu bayi sangat menggemaskannya tapi setelah pengalaman dan hari buruk yang dilaluinya mengubah hidupnya cenderung ke arah kaku dan berubah ke arah yang sama sekali  tak lucu lagi? Sumpah. Aku sama sekali tak sedang mengecohmu. Tapi itulah yang terjadi. Kalau saja aku tahu caranya kembali ke masa dan menjadi anak kecil lagi aku mungkin bisa membuatmu tertawa. Bahkan saat aku cuma terdiam dan mengantuk. Tapi sayang aku tidak tahu cara melakukannya.

Tapi sebenarnya aku sering memikirkan kalau "pintu lorong waktu" itu sekecil lubang sedotan es cendol. Jadi jika kita bisa mengecilkan diri sekecil cendol yang lentur kita mungkin bisa masuk ke dalamnya dan kemudian memilih waktu kita sendiri kemana kita ingin kembali.

Jika hal itu terjadi. Aku ingin memungkinkan kembali ke tahun dimana, saat-saat kau selalu melibatkanku dalam hidupmu. Tapi hal itu tak mungkin tercapai kan? Tak ada bayi lucu, tak lorong waktu, dan tak ada jalan ke masa lalu.

Pesanmu hari itu masih kuingat betul: Apa yang kita inginkan ternyata bukan yang kita butuhkan.

Semua orang mungkin ingin kembali ke masa lalu. Tapi mereka tak pernah benar-benar membutuhkannya, selama mereka sadar bahwa setiap hari adalah waktu yang indah untuk memulai.

Lilin sudah ditiup, dadu telah dilemparkan.

Oh. Baiklah. Itu angkutanku sudah datang. Aku harus segera naik dan mengakhiri lamunanku. Kau selamat menjalani hari baru ya. Pesanku: jangan merasa kesepian di tempat ramai. Aku tinggal tidur dulu.

Andi Wi 

Surat

Ilustrasi: @kulturtava

Apa kau sudah menulis surat untuk membalas surat-suratku? Penantian telah makan banyak korban di alam semesta ini, membunuh yang lemah, mencuri yang lengah, menggantikan yang tiada dan melakukan semua hal yang menyebabkan kesedihan manusia di muka bumi.

Apa kau sedang memutuskan membalas surat-suratku? Hari berlalu begitu cepat dalam satu embusan napas, tapi, berganti amat lama tanpa adanya rencana cadangan dan pilihan yang bisa kuperoleh.

Apa kau telah memikirkan kata-kata tepat untuk membalas surat-suratku? Jangan terlalu panjang. Aku tak ingin menyulitkanmu. Aku cuma ingin tahu bagaimana kau akan membalas surat-surat itu setelah sekian lama kau buatku bersabar.

Aku tak akan marah bila balasanmu tiba sedemikan terlambatnya, sebab mungkin saja suratmu mesti menempuh jarak milyaran tahun cahaya jauhnya untuk sampai di tanganku. Aku bersumpah takkan melaporkanmu ke polisi karena perbuatan tak menyenangkan telah membuat menanti seseorang tanpa kepastian dan tindakan seseorang yang mengambil keputusan.

Namun jika nanti telah kau putuskan membalas surat-suratku, balaslah segalanya dengan ringan, dengan semua kejujuranmu yang maha mengetahui sebab aku selalu ingin tahu apa yang tak kuketahui darimu.

Tapi jika nanti sudah kau putuskan membalas surat-suratku, dengan cara tak ingin membalas surat-suratku. Aku, sungguh sama sekali tak keberatan. Sebab dengan atau tanpa kedatangan suratmu tiba, aku akan masih tetap merasa utuh menantimu, hingga suatu waktu kau mungkin saja akan mengubahku menjadi surat itu sendiri.

Andi Wi

Ajibarang, 12 Mei 2018

*Editing terakhir

Thursday, May 3, 2018

Berhenti

Ilustrasi: dokpri
Ada perasaan tak sampai hati ingin saya sampaikan padamu. Saya menyerah. Saya sampai di sini saja.

Ternyata tak mudah menanti seseorang yang tak pernah tahu dirinya ditunggu. Saya capek berpura-pura baik-baik belaka,  padahal saya tidak.

Saya tak butuh waktu lagi, saya akan mengakhiri ini semua.

Saya tahu, kamu memang berhak membuat menanti seseorang seribu tahun, bahkan seumur hidupnya. Tapi saya mungkin bukan orang itu.

Sebelum segalanya semakin menjengkelkan, saya berhenti. Mungkin kamu harus mulai mencari seseorang lain lagi yang lebih sabar ketimbang saya, seseorang yang sama sekali bukan saya. 

Saya memang jenis orang yang tunduk pada peraturan tapi saya bukan jenis orang yang tunduk pada peraturan yang bahkan sama sekali tak pernah kita sepakati. Kamu tak menyebutkan peraturannya; kapan saya harus bertahan, mengapa saya tak boleh menyerah, berapa lama lagi saya harus menantimu.

Tapi sudah, hari ini saya putuskan, saya tak ikut permainanmu itu lagi.

Saya tak akan menantimu. Bahkan berharap berubah pikiran karena kamu seseorang yang layak ditunggu. Saya tak akan membujuk diri saya untuk menunggumu lagi. Saya tak akan menginspirasinya untuk setia. 

Tidak. Semuanya telah usai, bahkan seharusnya semuanya memang telah usai sejak awal saya putuskan menantimu, sejak perasaan saya jatuh cinta denganmu, sejak hanya diri saya yang jatuh, tapi kamu tak menolongku.

Pada titik ini, saya harus menolong diri saya sendiri, mereka butuh diselamatkan dari perasaan bodoh telah menghabiskan sisa hidupnya demi sesuatu yang tak bisa ia miliki.

Saya berhenti.

Kamu ingin melihat sesuatu yang tiba-tiba berhenti? Ini, kamu sedang menyaksikannya sendiri.

Andi Wi


Friday, April 27, 2018

Bayangan Kematian

Ilustrasi ig/andiwi

: Gao Xingjian

Kau tak lagi hidup dalam bayang-bayang orang lain dan tak lagi menganggapnya sebagai musuh khayalan. Kau meninggalkan bayangan itu, berhenti berkhayal dan melamunkan hal-hal aneh, dan kini terpuruk dalam kehampaan yang damai. Kau datang ke dunia dengan telanjang, tiada yang membutuhkanmu dan andaikan kau menginginkan sesuatu, kau tak akan mampu melakukannya. Satu-satunya rasa takutmu hanyalah pada maut yang datang tiba-tiba.

Kau ingat rasa takutmu pada maut berawal di masa kecil. Saat itu rasa takut itu lebih besar dari kini. Kesedihan sepele membuatmu begitu cemas, seolah-olah itu adalah penyakit tak terobati dan saat kau jatuh sakit kau akan mengigau ketakutan.

Kau telah bertahan melalui berbagai penyakit dan bencana yang kau lewati dengan kemujuran. Kehidupan itu sendiri adalah keajaiban yang tak bisa dijelaskan dan hidup di dalamnya adalah perwujudan sebuah keajaiban. Tak cukupkah bahwa sesosok tubuh yang sadar bisa merasakan sakit dan senang dalam hidup ini? Apalagi yang mesti dicari?

Ketakutanmu pada kematian muncul saat kau rapuh jiwa dan raga. Kau merasa sesak dan cemas, khawatir keburu mati sebelum sempat menghela napas berikutnya. Seolah-olah kau terlempar ke dasar jurang, perasaan keterpurukan ini sering muncul dalam mimpi-mimpi masa kecilmu dan kau akan terbangun dengan napas terengah-engah, ketakutan. Saat itu ibumu akan membawamuke rumah sakit, namun kini, sebuah permintaan dokter untuk melakukan pemeriksaan pun kau tunda berkali-kali.

Jelas sekali bagimu kehidupan berakhir dengan sendirinya dan saat akhir itu tiba rasa takutmu memudar, karena rasa takut itu sendiri adalah perwujudan kehidupan. Saat kehilangan kesadaran dan keinsyafan, hidup tiba-tiba berakhir tanpa menyisakan makna dan pemikiran.
Penderitaanmu adalah pencarian makna bagimu. Saat kau mulai membincangkan arti kesejatian hidup manusia dengan teman-teman masa mudamu, kau hidup dengan susah payah, seolah-olah kini kau telah menikmati segala kesemuan hidup dan kau menertawakan kesia-siaanmu dalam pencarian makna. Yang terbaik adalah mengalami keberadaan dan menjaganya.

Kau merasa melihat makna hidup dalam kehampaan, cahaya samar yang muncul dari antah berantah. Ia tak berdiri di tempat tertentu di atas bumi. Ia seperti dahan pohon tanpa bayangan, sementara ufuk yang memisahkan langit dan bumi telah lenyap. Atau, ia bagaikan seekor burung di sebuah tempat berselimut salju yang memandang berkeliling. Terkadang, ia menatap ke depan, menghunjam dalam pikiranmu, walaupun tak jelas benar apa yang ia renungi. Itu hanyalah isyarat tubuh sederhana, isyarat tubuh yang indah. Keberadaan pun senyatanya adalah sebuah isyarat tubuh, mencoba mencari rasa nyaman, merentangkan lengan, menekuk lutut, berbalik, memandang ke belakang di atas relung kesadaran. Dari situ ia mampu menggapai kebahagiaan sekejap. Tragedi, komedi, dan lelucon. Penghakiman atas keindahan hidup manusia yang berbeda bagi masing-masing orang, waktu, dan tempat. Perasaan pun mungkin seperti ini.

Kesedihan yang timbul di saat ini di waktu yang lain bisa jadi sebuah kekonyolan dan penyucian diri. Hanya isyarat tubuh yang tenang bisa memperpanjang hidup ini dan bersusah payah menyimpulkan misteri kekinian di saat kebebasan tercapai. Menyendiri, meneliti pendapat diri melalui kekalahan-kekalahan orang lain.

Kau tak tahu apa lagi yang akan dilakuan, apa pun yang bisa kau lakukan tak penting lagi. Jika kau ingin melakukan sesuatu, lakukanlah. Tapi tak kau lakukan pun tak jadi soal. Dan kau tak perlu ngotot melakukan sesuatu jika kau merasa lapar dan haus, lebih baik kau makan dan minum. Tentu saja kau bebas berpendapat, menafsir apapun, punya keinginan, dan bahkan marah, biarpun kau telah sampai pada usia di mana tenagamu tak cukup lagi untuk marah. Secara alamiah, kau bisa naik darah, namun tanpa gairah amarah. Perasaan dan inderamu tetap bekerja, namun tak seperti dulu. Tak akan ada lagi penyesalan. Penyesalan itu sia-sia dan merusak diri.

Bagimu hanyalah kehidupan yang bernilai. Kau telah melekat dan terserap padanya seolah-olah masih ada hal menakjubkanyang bisa kau temukan di dalamnya. Seolah-olah hanya kehidupan yang bisa membuatmu senang. Bukankah itu yang kau rasakan? (*)
© Guebaca.com
Maira Gall