Thursday, June 14, 2018

Selamat Berlebaran Bagimu, Bu!

Ilustrasi Dokumen pribadi

Selamat hari kemenangan untukmu. Lebaran kali ini adik kehilangan banyak uang, Bu, sementara saya sendiri cuma kehilangan sepasang sandal. Kamu tak pulang, jadi kami tak bisa cerita panjang-lebar soal urutan kejadiannya. Intinya kami sama-sama kehilangan. Tak apa. Jangan sedih. Katamu di dunia ini tak ada sesuatu yang benar-benar hilang, tapi cuma pindah tempat, sesuatu yang pergi, jika tidak melengkapi kita, maka ia akan melengkapi yang lainnya. Semoga saja itu benar, Bu.

Ramadan tahun ini telah usai. Saya yang salah. Saya mengaku tidak dapat memberikan apa-apa bagimu, Bu. Uang, pakaian, hingga pacar yang seharunya saya kenalkan padamu di hari indah ini, Bu. Saya memang tak punya apa-apa. Tolong jangan menyesal punya anak seperti saya. Maafkan saya.

Bagaimana kabar keluarga di Kalimantan, Bu? Sehat semua? Syukurlah. Meski saya jarang berdoa, tapi saya senantiasa berharap Ibu baik-baik saja. Cucu-cucumu juga baik. Semakin hari semakin lucu dan menggemaskan. Kabar Ayah, mantan suamimu, juga tak kalah hebat darimu. Kadang-kadang dia memang masih suka marah, tentang hal sepele namun agaknya orang rumah senang mengulang-ngulang kesalahan yang membuatnya cepat naik darah.

Besok pagi sudah tak lagi puasa, Bu. Cuma mengingatkan kalau makan opor jangan terlalu banyak, apalagi manisan. Tidak baik. Nanti diabetesmu kambuh dan itu akan bikin repot diri kamu sendiri. Belum pernah saya melihat kamu mengeluh sedemikian rupanya kecuali ketika sakitmu mulai kambuh. Jadi ingat baik-baik saran saya. Ya, memang apalah saya ini cuma bisa memberikan saran. Yang lain tidak. Kebahagiaan dekat, pertolongan saat kamu butuh seseorang membelikan obat, hingga bukan juga termasuk seorang anak yang dapat menjaminmu masuk ke surga dengan usaha yang saban hari kamu tunaikan di dunia untuk meraihnya.

Ibu, saya sendiri, jangankan membahagiakan orang lain, bahkan untuk membahagiakan diri sendiri pun, di hari indah ini, saya sering merasa kesulitan. Tak tahu caranya memulai. Seperti berangkat tidur, saya sulit sekali melakukannya hingga akhir-akhirnya jam tidur saya berantakan.

Sejak kecil, kamu tahu lah, saya ini jenis anak laki-laki yang tak menyukai kepura-puraan. Saya akan mengatakan apa yang saya pikirkan. Itulah sebabnya orang-orang menyukai saya. Tapi kini semuanya telah berubah, Bu. Saya berubah dari anak laki-laki polos jadi anak laki-laki yang cakap pura-pura. Semua yang saya lakukan cuma kepura-puraan. Seperti pemain komedi yang tertawa di muka umum tapi menangis di belakang layar. Saya kesepian setiap saat dan tak tahu cara menghentikannya.

Oh, kamu betul-betul boleh melupakan kata-kata itu. Bukankah telah saya katakan bahwa saya hanya pura-pura? Berhenti mencemaskan saya. Saya baik-baik saja.

Malam tadi saya keliling-keliling kota, masuk ke dalam toko satu, ke toko yang lainnya demi mencari sepasang sandal yang sama, yang mirip dengan sandal saya yang baru saja hilang. Tapi tidak ketemu. Saya jadi ingin marah pada diri sendiri, harusnya saya mengingat-ingat dimana pernah membayar sandal itu. Dimana saya pernah membelinya? Ingatan saya memang buruk. Lebih parah lagi, saya juga bukan orang hebat dalam soal marah-marah. Jadi saya putuskan untuk tidak jadi marah. Lagi pula saya sangat lelah.

Malam itu pun saya putuskan pulang. Saya tahu, kasur empuk di kamar saya sudah menanti tuannya sejak lama ia ditinggalkan.

Akhirnya saya pulang. Memarkir kendaraan di teras rumah, lalu langsung naik ke lantai atas. Memantikan lampu kamar.

Namun memang sial, Bu, rencana ingin tidur lebih awal yang telah saya rancang sepanjang perjalanan pulang ke rumah, gagal total. Tapi kabar baiknya, saya tak punya daya lagi untuk alasan marah. Saya segera mencari ide alternatif. Kamu tahu apa itu? Yah, saya makan kuaci di samping tempat tidur, yang kemarin sempat ditinggalkan Adik ketika ia mampir ke kamar saya. Pletak-pletak, seorang sendiri, memasukan satu per satu buah biji matahari ke dalam mulut dalam keadaan gelap.

Selamat berlebaran bagimu, Bu. Semoga ada hal-hal baru yang terus menguatmu hidup dan memaafkan orang lain. Terlebih memaafkan saya.

Anakmu

Thursday, May 24, 2018

Dasar Kecemasan Kita

Ilustrasi @kulturtava
Kelak aku tahu yang bisa kauingat dariku adalah kenangan kita. Rindu tidak. Karena hari-harimu hanya akan diisi oleh orang-orang yang kaucintai, juga seseorang yang terus berada di sampingmu, yang senantiasa buatmu tersenyum, meredam hasrat amarahmu saat kaumarah, menuntun jalanmu saat kau merasa tersesat, ia adalah satu-satunya orang yang sanggup menenangkan semua kecemasanmu dengan kesabarannya yang saleh dan penuh kasih.

Kau tidak lupa denganku. Sepenuhnya. Kehidupn seperti pesta murahan yang diadakan sehari semalam. Pesta sekejap kembang api yang meletus di langit yang cakap membikin kita khawatir: apakah akan ada kembang api berikutnya?

Aku mengatasi kecemasanku dengan kebisuan. Menciptakan ruang hujan buatanku sendiri di dalam kepala dan menghentikannya jika tiba-tiba merasa asing.

Saat-saat dulu kau mencintaiku apa yang kau cintai dari diriku? Sesuatu yang tak kau temukan dari orang lain? Tapi apakah itu?

Aku ingat, saat-saat kita masih bersama, aku sering merasakan kau seperti orang yang tersesat. Berada di sampingku tapi seolah jauh dari jangkauanku dan kau menggumam tak karuan tapi mulutnya tak mengatakan apa-apa.

Apa yang sudah dunia lakukan padamu? Makanan apa yang kau telan sampai aku tak bisa merasakannya? Aku ingin bertanya  padamu seperti itu tapi mungkin kau takkan menjawabnya. Kau tak ingin membaginya denganku.

Kau tidak membenciku. Kau hanya membenci dirimu sendiri yang tak sanggup protes akan sesuatu yang terjadi tak sesuai keinginanmu.

Di samping lemah, kau mencintaiku karena aku unggul. Tapi kau tak bisa menerimanya. Kau tak bisa memanfaatkannya. Kau hanya ingin memiliki dirimu sendiri.

Itu kesalahanku. Tapi kau tak perlu minta maaf. Semua kesalahanmu sudah kumaafkan.

Baiklah. Sepanjang ini, kurasa segalanya sudah terjawab. Tapi apakah ada yang terhapus dari kita?

Andi Wi

Friday, May 18, 2018

Ia yang Ingin Kau Miliki Sepenuhnya Tapi

Ilustrasi: @lupitadewief
Dulu bulan puasa begini kita lebih sering ketemu. Kau pagi-pagi betul ke masjid, tersenyum ketika kita berpapasan. Kau pulang kuliah siang hari dengan cara berjalanmu yang amat lambat dan mengkhawatirkan, seolah itulah cara terbaik mengulur waktu untuk kita bertemu di depan pintu rumahku.

Menjelang magrib, aku menyaksikanmu lemas seperti seorang yang kurang darah, aku, mengintipmu dari balik jendela kamarku kau memasak menyiapkan tajil untuk keluarga besarmu.

Menjelang hampir adzan magrib, kau repot-repot berubah jadi anak  baik dan lucu dan manis dan segalanya gambaran seorang sempurna pendamping hidup dunia akhirat demi mengirimku masakan terbaikmu untuk aku santap bagi puasaku.

Selepas magrib, kini kau benar-benar menyatakannya sebagai bidadari surga yang mengenakan mukena, yang menggulung sajadahnya di tangan kanannya untuk memenuhi panggilan isya dan taraweh.

Lantas rasanya saat kau melewatiku, aku ingin sekali menabrakmu dengan gerakan sengaja agar kekacauan kita terjadi lagi yang tentu saja membikin kita semakin akrab. Tapi sayang aku tak pernah berani bertindak sebesar itu. Tak pernah sekecil pun berani ingin melakukannya. Justru yang kupikirkan malah aku hanya akan mengotorimu.

Kemudian yang bisa kulakukan, aku memerhatikanmu dari jauh saat mengambil air wudhu meskipun itu artinya aku sudah suci. Aku melakukannya, membersihkan kaki dan tanganku berkali-kali banyaknya meskipun itu artinya sudah bersih dan suci dan mungkin saja kubik air masjid akan kuhabiskan sendiri kalau saja tak ada orang yang menghentikannya.

Dari matamu aku melihat surga
Jauh lebih dekat dari pada
yang kubayangkan
yang kitab bilang
Susah dicapai bagi pemalas
berandal, dan 
kucing yang beribadah dengan menggulungkan tubuhnya
di atas kain pel.

Ambilah darahku kalau kau mau 
Andai hari terlalu panas
Andai kau lemas, ambilah
Tapi jangan ambil semuanya
Karena semuanya belum kumiliki.

Sepulang taraweh saat semua orang meninggalkan barisan menuju pintu keluar, entah kenapa aku punya keinginan kuat ingin menyundulmu. Tapi maksudku bukan ke arah gawang pintu melainkan menjauhkanmu dari jalan keluar tersebut. Ingin kubilang padamu, "Jangan pulang dulu. Sebentar saja. Lima menit. Aku pengin natap kamu."

Itu memang konyol. Bagaimana caraku menahanmu? Aku harus cari alasan. Aku sudah tak sabar ingin menemukan alasannya. Bagaimana kalau kita buka bersama besok? Ah. Itu terlalu lama. Kenapa harus besok! Sekarang saja. Tapi rasanya sekarang kau pasti sudah buka puasa. Apa ini? Apa ini alasannya? Sekali lagi aku memang bukan jenis orang yang pawai membujuk orang lain agar sedetik bersamaku.

Dari ribuan jamaah yang keluar dari pintu masjid, aku tak pernah kesulitan menemukanmu. Kau gampang sekali kutemukan karena kau punya ciri khas dan detail yang mengagumkan. Kau mengenakan mukena putih dengan tali putih yang masih terikat di kepala dan tentu saja semua orang memang mengenakan mukena putih dan tali kepala putih. Tapi aku bersungguh-sungguh aku selalu menemukanmu di antara bidadari-bidadari itu. Aku seekor anjing pelacak handal yang dengan satu endusan dengan mudah mampu menemukan targetnya. 

Aku melatih semua indraku dengan telaten untuk giat menggambarkanmu dalam mimpi dan sadarku, dan kurasa takkan ada orang yang sanggup menyamaiku. Apa kau tahu?

Ya, tentu saja kau tidak tahu. Sebab bagaimana pun fakta inilah yang membuatku sedih. Sebab jika ada satu orang saja yang sanggup menyamaiku dan kemampuannya malah lebih baik dariku, mungkin inilah saatnya menyaksikanmu menikah lebaran kali ini.


Andi Wi

Ramadhan Kedua,

Ajibarang, 18 Mei 2018 

Friday, May 11, 2018

Harga Sebuah Masa Lalu

Ilustrasi: shuttershock

Aku tadi tiba-tiba memikirkanmu ketika menyebrang jalan. Tapi syukurlah aku bisa selamat. Seorang pengendara tiba-tiba kehilangan kendali. Lalu ia berhenti sebentar, memutar lehernya seperti burung hantu lalu memakiku, "Bangsat!"

Tapi kurasa dia masih sangat kesal. Kemudian untuk menyalurkan kekesalannya lagi, sebelum dia melajukan kendaraannya kembali, dia menambahkan, "Kalau jalan liat-liat ya, Sial!"

Aku tidak mengangguk. Tak juga menggeleng. Aku lelaki yang sudah cukup tua untuk membalas makian dengan makian.

Hari ini kau ulang tahun. Aku bingung ingin memberi kado apa. Tapi kurasa aku tak perlu memikirkannya karena kekasihmu pasti sudah memikirkan ini jauh hari sebelum aku sempat memikirkannya.

Dulu, saat menjelang ulang tahunmu dan aku bertanya padamu kau mau apa, kau selalu jawab: kau tak ingin apa-apa. Kau cuma ingin bersamaku di hari ulang tahunmu. Saat itu aku cuma tersenyum. Ternyata kebahagiaanmu mudah sekali. Dan saat kau ulang tahun, aku selalu menyempatkan diri untuk ada di sampingmu. Untuk mengabulkan permohonanmu yang simpel dan super murah itu.

Tapi waktu ternyata bukan hanya berlalu tapi melintas. Dan tak ada satu pun lampu merah yang mampu menghentikannya sampai kemudian pun kita juga memutuskan melanjutkan hidup masing-masing. Kau dengan orang yang kau cintai dan aku dengan diriku sendiri. Kau ke arah barat sementata aku ke arah timur. Kau terus melaju, begitu juga denganku. Tapi meski bumi ini bulat kita tak akan pernah bertemu lagi.

Lalu hari ini pun sampai. Di hari ulangmu, seperti dulu kau bilang hanya ingin bersamaku, aku kepikiran tak bisa mewujudkannya; kebahagiaanmu itu yang simpel dan super murah.

Pelajaran pertama. Ternyata apa yang kita yakini murah dan simpel akan jadi amat mahal jika itu melibat waktu.

Hari ini mungkin harga es cendol tiga ribu rupiah, tapi lima tahun ke depan nominal itu mungkin tak pernah sama lagi.

Benar. Sambil menunggu angkotku masuk ke jalurnya, aku memang sedang memesan segelas es cendol di pinggir jalan. Satu bulan lalu harganya masih tiga ribu rupiah, tapi hari ini harganya sudah melambung. Mungkin statistiknya akan terus merangkak sampai tingkat yang mengkhawatirkan.

Aku membayangkan di tahun 2090 harga cendol bisa mencapai satu juta rupiah. Harga yang menggiurkan untuk memulai buka usaha sendiri. Sungguh tolol apa yang sedang kupikirkan.

Tapi memangnya siapa yang tak suka makan es cendol siang panas terik begini? Dan mumpung masih bisa membelinya dengan harga murah, bagaimana kalau kita makan sebanyak-sebanyaknya? Sungguh sebanyak-banyaknya sampai kita mungkin saja bisa berubah diri jadi Hulk? Hulk. Monster bertubuh hijau itu. Kau tahu kan?

Ya, aku tahu itu memang tidak lucu. Karena kau selalu ingin sesuatu yang lucu 'kan? Begini. Aku punya ide. Bagaimana kalau kita memikirkan manusia sewaktu bayi sangat menggemaskannya tapi setelah pengalaman dan hari buruk yang dilaluinya mengubah hidupnya cenderung ke arah kaku dan berubah ke arah yang sama sekali  tak lucu lagi? Sumpah. Aku sama sekali tak sedang mengecohmu. Tapi itulah yang terjadi. Kalau saja aku tahu caranya kembali ke masa dan menjadi anak kecil lagi aku mungkin bisa membuatmu tertawa. Bahkan saat aku cuma terdiam dan mengantuk. Tapi sayang aku tidak tahu cara melakukannya.

Tapi sebenarnya aku sering memikirkan kalau "pintu lorong waktu" itu sekecil lubang sedotan es cendol. Jadi jika kita bisa mengecilkan diri sekecil cendol yang lentur kita mungkin bisa masuk ke dalamnya dan kemudian memilih waktu kita sendiri kemana kita ingin kembali.

Jika hal itu terjadi. Aku ingin memungkinkan kembali ke tahun dimana, saat-saat kau selalu melibatkanku dalam hidupmu. Tapi hal itu tak mungkin tercapai kan? Tak ada bayi lucu, tak lorong waktu, dan tak ada jalan ke masa lalu.

Pesanmu hari itu masih kuingat betul: Apa yang kita inginkan ternyata bukan yang kita butuhkan.

Semua orang mungkin ingin kembali ke masa lalu. Tapi mereka tak pernah benar-benar membutuhkannya, selama mereka sadar bahwa setiap hari adalah waktu yang indah untuk memulai.

Lilin sudah ditiup, dadu telah dilemparkan.

Oh. Baiklah. Itu angkutanku sudah datang. Aku harus segera naik dan mengakhiri lamunanku. Kau selamat menjalani hari baru ya. Pesanku: jangan merasa kesepian di tempat ramai. Aku tinggal tidur dulu.

Andi Wi 

Surat

Ilustrasi: @kulturtava

Apa kau sudah menulis surat untuk membalas surat-suratku? Penantian telah makan banyak korban di alam semesta ini, membunuh yang lemah, mencuri yang lengah, menggantikan yang tiada dan melakukan semua hal yang menyebabkan kesedihan manusia di muka bumi.

Apa kau sedang memutuskan membalas surat-suratku? Hari berlalu begitu cepat dalam satu embusan napas, tapi, berganti amat lama tanpa adanya rencana cadangan dan pilihan yang bisa kuperoleh.

Apa kau telah memikirkan kata-kata tepat untuk membalas surat-suratku? Jangan terlalu panjang. Aku tak ingin menyulitkanmu. Aku cuma ingin tahu bagaimana kau akan membalas surat-surat itu setelah sekian lama kau buatku bersabar.

Aku tak akan marah bila balasanmu tiba sedemikan terlambatnya, sebab mungkin saja suratmu mesti menempuh jarak milyaran tahun cahaya jauhnya untuk sampai di tanganku. Aku bersumpah takkan melaporkanmu ke polisi karena perbuatan tak menyenangkan telah membuat menanti seseorang tanpa kepastian dan tindakan seseorang yang mengambil keputusan.

Namun jika nanti telah kau putuskan membalas surat-suratku, balaslah segalanya dengan ringan, dengan semua kejujuranmu yang maha mengetahui sebab aku selalu ingin tahu apa yang tak kuketahui darimu.

Tapi jika nanti sudah kau putuskan membalas surat-suratku, dengan cara tak ingin membalas surat-suratku. Aku, sungguh sama sekali tak keberatan. Sebab dengan atau tanpa kedatangan suratmu tiba, aku akan masih tetap merasa utuh menantimu, hingga suatu waktu kau mungkin saja akan mengubahku menjadi surat itu sendiri.

Andi Wi

Ajibarang, 12 Mei 2018

*Editing terakhir

© Guebaca.com
Maira Gall