Labels :

Total Pageviews

Blog Archive

Cari yang itu

ARCHIVES

Labels

Tags

LABELS

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

PAGES

FEATURED

Ikuti Guebaca.com

Contact us

Name

Email *

Message *

Tuesday, July 10, 2018

Dia

Ilustrasi: Ig.redadiani/

Dia menunjukan diri kalau saya tak penting baginya. Tidak apa-apa. Sebab saya akan tetap telaten, optimis mendapatkan hati dia. Tidak penting bagaimana caranya. Mungkin saya akan jadi sedikit orang lain, bahkan jika dibutuhkan, sepenuhnya menjadi orang lain, akan saya lakukan.

Strategi saya banyak. Dia sudah menolak saya ribuan kali. Namun, tiap kali dia melakukannya, dia tidak tahu, bahwa sebenarnya dia sendirilah yang memperbanyak strategi itu.

Saya punya rencana klasik yang saya pelajari dari buku-buku lama. Saya punya formula modern yang saya riset sendiri dari tahun ke tahun. Dia akan lelah menolak saya, lalu dia akan mulai menerima saya.

Seandainya tak berhasil, seandainya tak juga berhasil, tidak masalah. Dia sudah mematahkan hati saya ribuan kali, jadi saya pikir, bukan masalah kalau memang perlu patah hati sekali lagi.

Hidup ini memang keras dan butuh keberanian besar untuk menyingkirkan rasa malu. Dia sudah menelanjangi saya di depan umum. Seperti monyet yang hidup dari panggung ke panggung. Akan tetapi, saya terlalu terlalu tangkas untuk sakit hati dan menyerah di tangan takdir.

Dia mungkin tak pernah tahu, rasanya mencintai orang lain karena kekurangannya. Dia hanya memandang seseorang karena kelebihannya. Itu kasihan sekali. Saya akan menyadarkan dia. Saya akan meluruskan pikirannya.

Tapi sebelum itu, saya akan membuat dia jatuh cinta terlebih dulu dengan saya. Mungkin kali ini dengan cara yang sangat berbeda. Saya akan mulai membebaskan dia, kemudian menganggap dia tak penting lagi dihidup saya.

Setelah saya menghilang, mudah-mudahan dia sadar. Saya berharap, dia akan sadar, dia telah kehilangan orang yang selama ini mencintainya. 

Wednesday, July 4, 2018

Selintingan | Bayi dalam Bedongan

Ilustrasi: detik.com

Saya selalu melakukan "menyepi" tatkala saya baru saja mengalami hari buruk. Hari sebelumnya hari-hari saya dipenuhi kekacauan. Sebagai salah seorang introvert, tentu saja, saya memerlukannya, tak lain adalah untuk memulihkan energi saya. Yang terkuras, dan pelan-pelan mengembalikannya. Sepuluh tahun lalu, tatkalan hidup saya dipenuhi rahmat dan berkat, ini memang jarang sekali terjadi. Tapi setelah segalanya berlalu bagai musim panas yang membikin paceklik, hari-hari buruk selalu menjumpai saya. Dari berbagai sudut, dari berbagai arah dan persimpangan. Mereka menyapa saya seolah-olah kami teman lama yang baru bertemu.

Seperti kebanyakan orang, tentu saja, saya tak bisa menghindari hari buruk. Kau mungkin dapat mengelabuhi orang sekitarmu bahwa hidupmu baik-baik saja. Kau mungkin bisa ngomong dengan mereka bahwa kau bahagia tapi dengan dirimu sendiri?

Realitas selalu mengajari kenyataan pahit. Namun kita akan terus melaju kan? Seperti yang sudah-sudah. Meski mungkin dengan sedikit gairah, dan keinginan kuat dan tujuan yang fasih membikin kita murung.

Saya selalu punya pikiran bohong, saat orang-orang di sekitar saya menyatakan diri mereka bahagia. Apa kau bahagia?

"Ya, aku bahagia!"

Bohong. Itulah komentar dalam hati saya ketika menimpalinya.

Ada istilah, mengatakan orang lain bodoh, itu sama sekali tak membuat diri kita pintar. Maka dengan asumsi tersebut, mengatakan orang lain tak bahagia tentu saja sama sekali tak membuat diri kita bahagia. Kesimpulannya jelas.

Saya pernah berusaha menghubung-hubungkan kejadian kecil dalam hidup saya dengan kejadian besar. Misalnya saat jari saya tersayat mata pisau dan berdarah, atau, saat gigi geraham belakang sialan saya mulai kambuh dan saya kesakitan setengah mati lantas saya mulai mengeluh, "Yah, ini memang buruk. Tapi tidak terlalu buruk. Tapi cukup. Tolong cukup." Seakan-akan saya sedang memohon pada sesuatu. Padahal pada kenyataannya yang saya lakukan cuma sia-sia.

Lantas saya kembali menarik kesimpulan: ya ampun, bagaimana saya bisa bertahan di dunia ini kalau penderitaan sekecil ini sudah amat menyakitkan bagi saya, apakah saya bisa tahan dengan hidup yang nyaris tanpa kesempatan untuk penuh mengobatinya?

Namun sekali saya ingat. Dalam novel Please Look After Mom, saat alang-alang dan rumput-rumput jewawut dibedul dari akarnya, mereka malah berpegangan kuat pada roda-roda traktor dan malah menyemai lebih banyak biji-bijinya ke tanah.

Tapi kita tentu saja tak ingin disamakan dengan rumput-rumput itu. Namun hanya itulah yang bisa saya jelaskan.

Saya memang tak pandai menghinspirasi diri saya sendiri untuk bertindak tegar dan sebagainya. Maksud saya, saya mungkin punya banyak perasaan yang bisa saya bagikan kepada orang lain dan sedikit pengetahuan untuk melumasi hidup mereka yang macet. Namun pelumas itu, kau tahu, tidak mempan untuk diri saya sendiri.

Rahasia kecil. Sebetulnya saat saya menyepi, tidak berniat merubah keadaan menjadi lebih baik. Saya pikir saya cuma butuh sendiri. Tidak mendengarkan siapa-siapa, tidak menginginkan apa-apa. Tidak berharap hari esok akan menjadi milik saya. Mungkin lebih tepatnya saya cuma mengulur waktu. Ritual yang saya lakukan demi mencegah otak saya meledak. Atau jika kata meledak dirasa berlebihan bagi Anda, saya mungkin tertarik menggunakan kata-kata: senewen.

Semoga hari-hari buruk tidak terjadi dengan Anda. Semoga hari baik selalu melingkupi Anda. Membuat Anda merasa merasa nyaman, hangat, seperti bayi dalam bedongan.


Andi Wi

Ajibarang, 5 Juli 2018 

Thursday, June 14, 2018

Selamat Berlebaran Bagimu, Bu!

Ilustrasi Dokumen pribadi

Selamat hari kemenangan untukmu. Lebaran kali ini adik kehilangan banyak uang, Bu, sementara saya sendiri cuma kehilangan sepasang sandal. Kamu tak pulang, jadi kami tak bisa cerita panjang-lebar soal urutan kejadiannya. Intinya kami sama-sama kehilangan. Tak apa. Jangan sedih. Katamu di dunia ini tak ada sesuatu yang benar-benar hilang, tapi cuma pindah tempat, sesuatu yang pergi, jika tidak melengkapi kita, maka ia akan melengkapi yang lainnya. Semoga saja itu benar, Bu.

Ramadan tahun ini telah usai. Saya yang salah. Saya mengaku tidak dapat memberikan apa-apa bagimu, Bu. Uang, pakaian, hingga pacar yang seharunya saya kenalkan padamu di hari indah ini, Bu. Saya memang tak punya apa-apa. Tolong jangan menyesal punya anak seperti saya. Maafkan saya.

Bagaimana kabar keluarga di Kalimantan, Bu? Sehat semua? Syukurlah. Meski saya jarang berdoa, tapi saya senantiasa berharap Ibu baik-baik saja. Cucu-cucumu juga baik. Semakin hari semakin lucu dan menggemaskan. Kabar Ayah, mantan suamimu, juga tak kalah hebat darimu. Kadang-kadang dia memang masih suka marah, tentang hal sepele namun agaknya orang rumah senang mengulang-ngulang kesalahan yang membuatnya cepat naik darah.

Besok pagi sudah tak lagi puasa, Bu. Cuma mengingatkan kalau makan opor jangan terlalu banyak, apalagi manisan. Tidak baik. Nanti diabetesmu kambuh dan itu akan bikin repot diri kamu sendiri. Belum pernah saya melihat kamu mengeluh sedemikian rupanya kecuali ketika sakitmu mulai kambuh. Jadi ingat baik-baik saran saya. Ya, memang apalah saya ini cuma bisa memberikan saran. Yang lain tidak. Kebahagiaan dekat, pertolongan saat kamu butuh seseorang membelikan obat, hingga bukan juga termasuk seorang anak yang dapat menjaminmu masuk ke surga dengan usaha yang saban hari kamu tunaikan di dunia untuk meraihnya.

Ibu, saya sendiri, jangankan membahagiakan orang lain, bahkan untuk membahagiakan diri sendiri pun, di hari indah ini, saya sering merasa kesulitan. Tak tahu caranya memulai. Seperti berangkat tidur, saya sulit sekali melakukannya hingga akhir-akhirnya jam tidur saya berantakan.

Sejak kecil, kamu tahu lah, saya ini jenis anak laki-laki yang tak menyukai kepura-puraan. Saya akan mengatakan apa yang saya pikirkan. Itulah sebabnya orang-orang menyukai saya. Tapi kini semuanya telah berubah, Bu. Saya berubah dari anak laki-laki polos jadi anak laki-laki yang cakap pura-pura. Semua yang saya lakukan cuma kepura-puraan. Seperti pemain komedi yang tertawa di muka umum tapi menangis di belakang layar. Saya kesepian setiap saat dan tak tahu cara menghentikannya.

Oh, kamu betul-betul boleh melupakan kata-kata itu. Bukankah telah saya katakan bahwa saya hanya pura-pura? Berhenti mencemaskan saya. Saya baik-baik saja.

Malam tadi saya keliling-keliling kota, masuk ke dalam toko satu, ke toko yang lainnya demi mencari sepasang sandal yang sama, yang mirip dengan sandal saya yang baru saja hilang. Tapi tidak ketemu. Saya jadi ingin marah pada diri sendiri, harusnya saya mengingat-ingat dimana pernah membayar sandal itu. Dimana saya pernah membelinya? Ingatan saya memang buruk. Lebih parah lagi, saya juga bukan orang hebat dalam soal marah-marah. Jadi saya putuskan untuk tidak jadi marah. Lagi pula saya sangat lelah.

Malam itu pun saya putuskan pulang. Saya tahu, kasur empuk di kamar saya sudah menanti tuannya sejak lama ia ditinggalkan.

Akhirnya saya pulang. Memarkir kendaraan di teras rumah, lalu langsung naik ke lantai atas. Memantikan lampu kamar.

Namun memang sial, Bu, rencana ingin tidur lebih awal yang telah saya rancang sepanjang perjalanan pulang ke rumah, gagal total. Tapi kabar baiknya, saya tak punya daya lagi untuk alasan marah. Saya segera mencari ide alternatif. Kamu tahu apa itu? Yah, saya makan kuaci di samping tempat tidur, yang kemarin sempat ditinggalkan Adik ketika ia mampir ke kamar saya. Pletak-pletak, seorang sendiri, memasukan satu per satu buah biji matahari ke dalam mulut dalam keadaan gelap.

Selamat berlebaran bagimu, Bu. Semoga ada hal-hal baru yang terus menguatmu hidup dan memaafkan orang lain. Terlebih memaafkan saya.

Anakmu

Thursday, May 24, 2018

Dasar Kecemasan Kita

Ilustrasi @kulturtava
Kelak aku tahu yang bisa kauingat dariku adalah kenangan kita. Rindu tidak. Karena hari-harimu hanya akan diisi oleh orang-orang yang kaucintai, juga seseorang yang terus berada di sampingmu, yang senantiasa buatmu tersenyum, meredam hasrat amarahmu saat kaumarah, menuntun jalanmu saat kau merasa tersesat, ia adalah satu-satunya orang yang sanggup menenangkan semua kecemasanmu dengan kesabarannya yang saleh dan penuh kasih.

Kau tidak lupa denganku. Sepenuhnya. Kehidupn seperti pesta murahan yang diadakan sehari semalam. Pesta sekejap kembang api yang meletus di langit yang cakap membikin kita khawatir: apakah akan ada kembang api berikutnya?

Aku mengatasi kecemasanku dengan kebisuan. Menciptakan ruang hujan buatanku sendiri di dalam kepala dan menghentikannya jika tiba-tiba merasa asing.

Saat-saat dulu kau mencintaiku apa yang kau cintai dari diriku? Sesuatu yang tak kau temukan dari orang lain? Tapi apakah itu?

Aku ingat, saat-saat kita masih bersama, aku sering merasakan kau seperti orang yang tersesat. Berada di sampingku tapi seolah jauh dari jangkauanku dan kau menggumam tak karuan tapi mulutnya tak mengatakan apa-apa.

Apa yang sudah dunia lakukan padamu? Makanan apa yang kau telan sampai aku tak bisa merasakannya? Aku ingin bertanya  padamu seperti itu tapi mungkin kau takkan menjawabnya. Kau tak ingin membaginya denganku.

Kau tidak membenciku. Kau hanya membenci dirimu sendiri yang tak sanggup protes akan sesuatu yang terjadi tak sesuai keinginanmu.

Di samping lemah, kau mencintaiku karena aku unggul. Tapi kau tak bisa menerimanya. Kau tak bisa memanfaatkannya. Kau hanya ingin memiliki dirimu sendiri.

Itu kesalahanku. Tapi kau tak perlu minta maaf. Semua kesalahanmu sudah kumaafkan.

Baiklah. Sepanjang ini, kurasa segalanya sudah terjawab. Tapi apakah ada yang terhapus dari kita?

Andi Wi

Friday, May 18, 2018

Ia yang Ingin Kau Miliki Sepenuhnya Tapi

Ilustrasi: @lupitadewief
Dulu bulan puasa begini kita lebih sering ketemu. Kau pagi-pagi betul ke masjid, tersenyum ketika kita berpapasan. Kau pulang kuliah siang hari dengan cara berjalanmu yang amat lambat dan mengkhawatirkan, seolah itulah cara terbaik mengulur waktu untuk kita bertemu di depan pintu rumahku.

Menjelang magrib, aku menyaksikanmu lemas seperti seorang yang kurang darah, aku, mengintipmu dari balik jendela kamarku kau memasak menyiapkan tajil untuk keluarga besarmu.

Menjelang hampir adzan magrib, kau repot-repot berubah jadi anak  baik dan lucu dan manis dan segalanya gambaran seorang sempurna pendamping hidup dunia akhirat demi mengirimku masakan terbaikmu untuk aku santap bagi puasaku.

Selepas magrib, kini kau benar-benar menyatakannya sebagai bidadari surga yang mengenakan mukena, yang menggulung sajadahnya di tangan kanannya untuk memenuhi panggilan isya dan taraweh.

Lantas rasanya saat kau melewatiku, aku ingin sekali menabrakmu dengan gerakan sengaja agar kekacauan kita terjadi lagi yang tentu saja membikin kita semakin akrab. Tapi sayang aku tak pernah berani bertindak sebesar itu. Tak pernah sekecil pun berani ingin melakukannya. Justru yang kupikirkan malah aku hanya akan mengotorimu.

Kemudian yang bisa kulakukan, aku memerhatikanmu dari jauh saat mengambil air wudhu meskipun itu artinya aku sudah suci. Aku melakukannya, membersihkan kaki dan tanganku berkali-kali banyaknya meskipun itu artinya sudah bersih dan suci dan mungkin saja kubik air masjid akan kuhabiskan sendiri kalau saja tak ada orang yang menghentikannya.

Dari matamu aku melihat surga
Jauh lebih dekat dari pada
yang kubayangkan
yang kitab bilang
Susah dicapai bagi pemalas
berandal, dan 
kucing yang beribadah dengan menggulungkan tubuhnya
di atas kain pel.

Ambilah darahku kalau kau mau 
Andai hari terlalu panas
Andai kau lemas, ambilah
Tapi jangan ambil semuanya
Karena semuanya belum kumiliki.

Sepulang taraweh saat semua orang meninggalkan barisan menuju pintu keluar, entah kenapa aku punya keinginan kuat ingin menyundulmu. Tapi maksudku bukan ke arah gawang pintu melainkan menjauhkanmu dari jalan keluar tersebut. Ingin kubilang padamu, "Jangan pulang dulu. Sebentar saja. Lima menit. Aku pengin natap kamu."

Itu memang konyol. Bagaimana caraku menahanmu? Aku harus cari alasan. Aku sudah tak sabar ingin menemukan alasannya. Bagaimana kalau kita buka bersama besok? Ah. Itu terlalu lama. Kenapa harus besok! Sekarang saja. Tapi rasanya sekarang kau pasti sudah buka puasa. Apa ini? Apa ini alasannya? Sekali lagi aku memang bukan jenis orang yang pawai membujuk orang lain agar sedetik bersamaku.

Dari ribuan jamaah yang keluar dari pintu masjid, aku tak pernah kesulitan menemukanmu. Kau gampang sekali kutemukan karena kau punya ciri khas dan detail yang mengagumkan. Kau mengenakan mukena putih dengan tali putih yang masih terikat di kepala dan tentu saja semua orang memang mengenakan mukena putih dan tali kepala putih. Tapi aku bersungguh-sungguh aku selalu menemukanmu di antara bidadari-bidadari itu. Aku seekor anjing pelacak handal yang dengan satu endusan dengan mudah mampu menemukan targetnya. 

Aku melatih semua indraku dengan telaten untuk giat menggambarkanmu dalam mimpi dan sadarku, dan kurasa takkan ada orang yang sanggup menyamaiku. Apa kau tahu?

Ya, tentu saja kau tidak tahu. Sebab bagaimana pun fakta inilah yang membuatku sedih. Sebab jika ada satu orang saja yang sanggup menyamaiku dan kemampuannya malah lebih baik dariku, mungkin inilah saatnya menyaksikanmu menikah lebaran kali ini.


Andi Wi

Ramadhan Kedua,

Ajibarang, 18 Mei 2018 

UCAPAN

TERIMAKASIH KUNJUNGANNYA KE GUEBACA.COM